Berita Terbaru :
Pandemi Covid Berimbas Penjualan Janur di Lamongan
Pasca Lebaran Harga Daging Meroket Capai Rp 140 Ribu Per Kilo
Gelombang Tinggi Terjang Pantai Selatan Lumajang
Laka Laut Kapal Penyebrangan Pulau Gili Ketapang, Muatan Ikan Tenggelam
Drainase Jelek, Pabrik PSI Disidak Bupati
Puluhan Rumah Warga Pantai Sine Terendam Banjir Rob
LPT Unair Berhenti Layani Pemeriksaan Spesimen 14 Hari Ke Depan
Terseret Banjir Kali Lamong Dua Orang Meningal Dunia
Puluhan Warga Surabaya Serukan Aksi Tolak PSBB Jilid 3
New Normal Tak Pengaruhi Pembelajaran Praktikum Mahasiswa FK
Pemkot Bantah Cuitan Viral Seorang Dokter di Twitter
Tim Labfor Olah TKP Lokasi Kejadian Tewasnya 2 Bocah Dalam Mobil
Peduli Terhadap Warga yang Terdampak Pandemi Dengan Sediakan Lapak Gratis
Perketat Arus Balik Polda Jatim Sekat Perbatasan
Rumah Sakit Darurat Siap Difungsikan
   

Waspada, Anak Usia Dini Mudah Mengalami Stres
Life Style  Kamis, 21-05-2020 | 22:26 wib
Reporter :
Foto ilustrasi dok pojokpitu.com
Jakarta pojokpitu.com, Orang tua harus mampu mengenal perkembangan otak dan pandangan anak-anak usia dini untuk meminimalisir stres. Menurut dr. Octaviani Ranakusuma, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Yarsi, orang tua bisa saja menjadi penghambat perkembangan otak anak usia dini karena belum mengenal sosial emosional anak dengan baik.

Ini disampaikannya dalam diskusi dan webinar Perkembangan Otak Anak di Usia Emas yang digelar Tanoto Foundation bekerja sama dengan Universitas Yarsi dan Koalisi PAUDHI Nasional pada Rabu (20/5).

Menurut Octa ada tiga jenis stres anak yang harus diketahui dan dipelajari orang tua.

Pertama adalah stres yang positif. Yaitu stres terhadap hal yang normal dan penting untuk perkembangan yang sehat dan optimal.

"Ditandai oleh peningkatan produksi hormon stres, tekanan darah dan detak jantung. Durasi stres ini singkat seperti bertemu pengasuh baru, atau saat dokter menyuntik," tutur Octa.

Selanjutnya, stres yang bisa ditoleransi mengaktivasi sistem siaga tubuh atas suatu yang mengancam.

Seperti bencana alam, cedera tubuh, kehilangan anggota keluarga. Durasi stres lebih panjang.
"Hubungan yang mendukung dengan orang dewasa akan sangat membantu anak menghadapi stres jenis ini," sambungnya.

Ketiga adalah stres yang beracun (toxic stress). Pada tahap ini anak mengalami hal-hal yang menyakitkan yang berulang-ulang dan berkepanjangan.

Seperti pengabaian, kekerasan fisik/emosional, kemiskinan tanpa adanya dukungan dari orang dewasa.

"Atau bahkan orang dewasa yang bersangkutan yang melakukan penganiayaan terhadap mereka," tambahnya.

Menurutnya, ini yang harus dihindari orang tua. Selain itu, orang tua juga harus lebih fokus melihat bentuk stres yang dialami anak itu agar bisa diatasi bersama dan membuat anak merasa dilindungi. (flo/jpnn/pul)


Berita Terkait

Waspada, Anak Usia Dini Mudah Mengalami Stres

RSUD Soeroto Ngawi Siap Sembuhkan Caleg Depresi

RSJ Menur Siapkan Ruangan Khusus Bagi Caleg Stress

59 Persen Perempuan Saat Ini Tidak Bahagia dengan Hidupnya
Berita Terpopuler
Klaster Pabrik Rokok, 1 Warga Terkonfirmasi Positif Covid-19
Covid-19  6 jam

Puluhan Rumah Warga Pantai Sine Terendam Banjir Rob
Peristiwa  3 jam

Petugas Check Point Amankan Pengendara Motor Nekat Masuk Jalan Tol
Peristiwa  8 jam

Jokowi Minta Tambahkan Personil TNI Polri Untuk Turunkan Kurva Covid 19 di Jatim...selanjutnya
Covid-19  7 jam



Cuplikan Berita
Marah, Kapolda Copot Oknum Kapolsek Karena Tertidur Saat Rapat Dengan Walikota
Pojok Pitu

H-2 Lebaran, Stasiun Gubeng Surabaya Sepi Penumpang
Pojok Pitu

PSBB Surabaya Raya Bisa Diperpanjang, 2 Tahap Sebelumnya Dinilai Tak Efektif
Jatim Awan

Unik, Anak Anak Ini Berebut Uang Lebaran di Pagar Rumah Warga
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber