Berita Terbaru :
Jokowi Minta Tambakan Personil TNI Polri Untuk Turunkan Kurva Covid 19 di Jatim
Disinyalir Penyandang Dana Buat Balon, Seorang ASN Diperiksa Polisi
Polsek Sukorejo Amankan Balon Udara Siap Diterbangkan
Petugas Check Point Amankan Pengendara Motor Nekat Masuk Jalan Tol
Tim Satgas Pangan Sidak Harga Daging Ayam Capai Rp 40 Ribu
Duka Mendalam Salah Satu Korban Mobil Terbakar di Pasuruan, Karena Besok Ultah
Dua Petugas Medis Terkonfirmasi Positif Covid-19
Walikota Malang Pastikan PSBB Tak Diperpanjang
Sidang DPR
PSBB Jilid III, Desa Waru Menjadi Pusat Percontohan Menekan Angka Penyebaan Virus Covid-19
Hadapi Pandemi, Polres Tulungagung Siapkan Belasan Kampung Tangguh
Hari Pertama Masuk Kerja, ASN dan Jurnalis Jalani Rapid Test
Rumah Makan Ludes Terbakar, Diduga Dipicu Korsleting Listrik
Pandemi Covid 19 Ternyata Berdampak Pada Penjual Janur dan Ketupat
Polsek Sukolilo Pantau Pengamanan Perumahan Terapkan Protap Covid 19
   

Waspada, Anak Usia Dini Mudah Mengalami Stres
Life Style  Kamis, 21-05-2020 | 22:26 wib
Reporter :
Foto ilustrasi dok pojokpitu.com
Jakarta pojokpitu.com, Orang tua harus mampu mengenal perkembangan otak dan pandangan anak-anak usia dini untuk meminimalisir stres. Menurut dr. Octaviani Ranakusuma, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Yarsi, orang tua bisa saja menjadi penghambat perkembangan otak anak usia dini karena belum mengenal sosial emosional anak dengan baik.

Ini disampaikannya dalam diskusi dan webinar Perkembangan Otak Anak di Usia Emas yang digelar Tanoto Foundation bekerja sama dengan Universitas Yarsi dan Koalisi PAUDHI Nasional pada Rabu (20/5).

Menurut Octa ada tiga jenis stres anak yang harus diketahui dan dipelajari orang tua.

Pertama adalah stres yang positif. Yaitu stres terhadap hal yang normal dan penting untuk perkembangan yang sehat dan optimal.

"Ditandai oleh peningkatan produksi hormon stres, tekanan darah dan detak jantung. Durasi stres ini singkat seperti bertemu pengasuh baru, atau saat dokter menyuntik," tutur Octa.

Selanjutnya, stres yang bisa ditoleransi mengaktivasi sistem siaga tubuh atas suatu yang mengancam.

Seperti bencana alam, cedera tubuh, kehilangan anggota keluarga. Durasi stres lebih panjang.
"Hubungan yang mendukung dengan orang dewasa akan sangat membantu anak menghadapi stres jenis ini," sambungnya.

Ketiga adalah stres yang beracun (toxic stress). Pada tahap ini anak mengalami hal-hal yang menyakitkan yang berulang-ulang dan berkepanjangan.

Seperti pengabaian, kekerasan fisik/emosional, kemiskinan tanpa adanya dukungan dari orang dewasa.

"Atau bahkan orang dewasa yang bersangkutan yang melakukan penganiayaan terhadap mereka," tambahnya.

Menurutnya, ini yang harus dihindari orang tua. Selain itu, orang tua juga harus lebih fokus melihat bentuk stres yang dialami anak itu agar bisa diatasi bersama dan membuat anak merasa dilindungi. (flo/jpnn/pul)


Berita Terkait

Waspada, Anak Usia Dini Mudah Mengalami Stres

RSUD Soeroto Ngawi Siap Sembuhkan Caleg Depresi

RSJ Menur Siapkan Ruangan Khusus Bagi Caleg Stress

59 Persen Perempuan Saat Ini Tidak Bahagia dengan Hidupnya
Berita Terpopuler
Sekolah Shift Untuk Redakan Kejenuhan Siswa
Pendidikan  12 jam

Kasus Covid-19 Surabaya, Diprediksi Segera Mencapai Puncaknya
Covid-19  13 jam

Akses Eks Lokalisasi Dadapan Sumberejo Ditutup Portal
Peristiwa  11 jam

Hadapi Pandemi, Polres Tulungagung Siapkan Belasan Kampung Tangguh
Peristiwa  4 jam



Cuplikan Berita
Marah, Kapolda Copot Oknum Kapolsek Karena Tertidur Saat Rapat Dengan Walikota
Pojok Pitu

H-2 Lebaran, Stasiun Gubeng Surabaya Sepi Penumpang
Pojok Pitu

PSBB Surabaya Raya Bisa Diperpanjang, 2 Tahap Sebelumnya Dinilai Tak Efektif
Jatim Awan

Unik, Anak Anak Ini Berebut Uang Lebaran di Pagar Rumah Warga
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber