Berita Terbaru :
45 Desa Bentuk Kampung Tangguh Gandeng Relawan Dari Pesilat Madiun
Hadapi New Normal, Warga Lakukan Simulasi Penanganan Pasien Covid
Pandemi Covid Berimbas Penjualan Janur di Lamongan
Pasca Lebaran Harga Daging Meroket Capai Rp 140 Ribu Per Kilo
Gelombang Tinggi Terjang Pantai Selatan Lumajang
Laka Laut Kapal Penyebrangan Pulau Gili Ketapang, Muatan Ikan Tenggelam
Drainase Jelek, Pabrik PSI Disidak Bupati
Puluhan Rumah Warga Pantai Sine Terendam Banjir Rob
LPT Unair Berhenti Layani Pemeriksaan Spesimen 14 Hari Ke Depan
Terseret Banjir Kali Lamong Dua Orang Meningal Dunia
Puluhan Warga Surabaya Serukan Aksi Tolak PSBB Jilid 3
New Normal Tak Pengaruhi Pembelajaran Praktikum Mahasiswa FK
Pemkot Bantah Cuitan Viral Seorang Dokter di Twitter
Tim Labfor Olah TKP Lokasi Kejadian Tewasnya 2 Bocah Dalam Mobil
Peduli Terhadap Warga yang Terdampak Pandemi Dengan Sediakan Lapak Gratis
   

Herlina Mbalelo, Usulan Pansus Covid Kalah Voting
Opini  Sabtu, 16-05-2020 | 15:38 wib
Reporter : Imam Syafii
Imam Syafii, Sekretaris Fraksi Demokrat Nasdem DPRD Surabaya
Surabaya pojokpitu.com, Baru kali ini rapat Banmus ada voting. Harusnya cuma menjadwalkan usulan Pansus di rapat paripurna. Untuk diputuskan apakah pansus covid disetujui atau tidak. Termasuk dengan voting atau dengan musyawarah mufakat.

Pemandangan menarik terjadi, saat Fraksi Partai Golkar jelas berbalik arah dalam rapat Banmus (15/5) kemarin. Golkar yang semula ikut mengusulkan pansus secara tertulis, kini menolaknya. Sedangkan, Herlina anggota Banmus yang juga ketua Fraksi Demokrat Nasdem juga mbalelo dari kesepakatan fraksi Demokrat Nasdem.

Fraksi Demokrat Nasdem sampai hari ini, tidak pernah mencabut apalagi membatalkan usulan untuk pembentukan pansus covid yang dikirim ke Ketua DPRD.

Dalam rapat Banmus kemarin, dua orang mewakili Fraksi Demokrat Nadem yaitu Herlina dan Syaiful Bahri. Syaiful tetap mengusulkan adanya pansus covid dan minta dijadwalkan di paripurna. Sebaliknya, Herlina menghianati keputusan hasil rapat Fraksi Demokrat Nasdem yang tetap mengusulkan pansus.

Sikap  Herlina ini tentu membuat anggota Fraksi Demokrat Nasdem terkaget kaget. Herlina dianggap ambil keputusan sendiri.

"Saya kaget juga mendengar cerita teman darei fraksi lain. Dimana kami tidak pernah membatalkan keputusan pembentukan Pansus. Sedangkan Herlina tidak pernah mengajak bicara untuk perubahan itu," kata Imam Syafii.

Beberapa teman dari fraksi lain menduga, Herlina berani mengorbankan marwah fraksi dan meninggalkan teman teman fraksi, dikarenakan punya hubungan dekat dengan Ketua DPRD dari PDIP itu. 

Sejak semula Herlina alergi adanya pansus. Dari nada nadanya sudah terlihat. Namun dalam rapat Fraksi Demokrat yang dihadiri 7 orang (lengkap) sudah memutuskan secara bulat perlu adanya pansus. Pertimbangannya karena kemanusiaan. Pemkot tidak punya roadmap dan konsep yang jelas dalam menangani merebaknya pandemi korona. Sehingga jumlah korban terus melonjak. Karena itu, fraksi kemudian membuat surat usulan pembentukan pansus covid yang dikirim ke Ketua DPRD Surabaya.

Herlina juga dikenal dekat dengan Kepala Bappeko Eri Cahyadi yang akan mati kutu jika DPRD sampai membentuk pansus. Diduga Herlina takut jika pansus jadi alat mengawasi bantuan sembako buat warga terdampak covid, dan dimanfaatkan atau ditunggangi untuk kepentingan elektoral Eri Cahyadi yang akan maju dalam Pilwali Surabaya pada desember 2020. "Padahal pansus ini jelas jelas tidak ada unsur politiknya," kata Imam.

Sementara itu, Moch Machmud wakil Ketua Fraksi Demokrat Nasdem saat dikonfirmasi juga mengaku merasa kaget. "Selama ini tidak ada ralat atau pembatalan," kata Moch Machmud.

Dalam dipikiran Machmud, sikap Demokrat Nasdem tetap ingin adanya pansus. "Andaikan Fraksi Demokrat Nasdem membatalkan pembentukan pansus, aturannya kami semua diberitahu, harus ada rapat dulu di intetnal fraksi," kata Machmud.

Sementara itu dalam rapat banmus kemarin, terjadi deadlock antara yang setuju pansus dan yang menolak pansus. 8 orang setuju pansus dan 8 orang menolak pansus. Namun ketika dua orang pendukung pansus pulang karena tidak ada keputusan, yaitu Syaiful Bahri dari Nasdem dan Yanto dari PKS, melanjutkan rapat dilanjut voting. Sehingga pihak pengusung pansus kalah suara.

Pertanyaannya, sampai sebegitunya upaya ingin manghadang pansus. Kenapa takut adanya pansus?

Semoga rakyat tahu kondisi yg sebenarnya terjadi di dalam dprd surabaya, dan yg sebenarnya dikerjakan pemkot. (pul)

Berita Terkait

Herlina Mbalelo, Usulan Pansus Covid Kalah Voting

Dianggap Tidak Tanggap Usulan Pansus Covid-19, Ketua Dewan Dilaporkan ke BK

Dinilai Tak Siap, Tim Pansus Tunda Rapat Dengan Tim Satgas Covid-19

Pansus PBB Upayakan NJOP di Bawah Rp 500 Juta Ada Keringanan PBB
Berita Terpopuler
Klaster Pabrik Rokok, 1 Warga Terkonfirmasi Positif Covid-19
Covid-19  8 jam

Petugas Check Point Amankan Pengendara Motor Nekat Masuk Jalan Tol
Peristiwa  9 jam

Puluhan Rumah Warga Pantai Sine Terendam Banjir Rob
Peristiwa  4 jam

Jokowi Minta Tambahkan Personil TNI Polri Untuk Turunkan Kurva Covid 19 di Jatim...selanjutnya
Covid-19  8 jam



Cuplikan Berita
Marah, Kapolda Copot Oknum Kapolsek Karena Tertidur Saat Rapat Dengan Walikota
Pojok Pitu

H-2 Lebaran, Stasiun Gubeng Surabaya Sepi Penumpang
Pojok Pitu

PSBB Surabaya Raya Bisa Diperpanjang, 2 Tahap Sebelumnya Dinilai Tak Efektif
Jatim Awan

Unik, Anak Anak Ini Berebut Uang Lebaran di Pagar Rumah Warga
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber