Berita Terbaru :
DPUPR Klaim Proyek Sambungan Perpipaan Beda Dengan Program PDAM
Belasan Kartu Keluarga Dijadikan Bungkus Tempe
Hilang Kendali, Truk Boks Tabrak Pohon Hingga Terguling
Seorang Pria Ditemukan Tewas di Kamar Kos
Sidak Protokol Kesehatan di Pasar Hewan, Puluhan Pembeli dan Penjual Dirapid Test
Kantor Bank Jatim Cabang Bojonegoro Tutup 3 Hari Akibat Pegawai Positif Covid -19
Tuntut Ganti Rugi, Pemilik Kios Pasar Baru Lurug Pemkab
Satu Guru Terpapar Covid-19, SMKN 1 Bojonegoro Kembali Belajar Daring
Kenalan di Medsos, Kakek Satu Cucu Perkosa Pelajar di Rumahnya Sendiri
Mayat Laki Laki Ditemukan Disungai Dengan Beberapa Luka
Kasus Penularan Covid-19 Masih Tinggi, Polri Tak Beri Izin Liga 1
Empat Pemain Persebaya Positif Covid 19
Laka Lantas Truk Lpg, Honda Jazz dan 2 Sepeda Motor, 1 Meninggal
Langgar Protokol Kesehatan Pertunjukan Seni Musik Tradisional Dibubarkan Satgas Covid 19
Angka Gugat Cerai di Sidoarjo Didominasi oleh Pihak Istri
   

Herlina Mbalelo, Usulan Pansus Covid Kalah Voting
Opini  Sabtu, 16-05-2020 | 15:38 wib
Reporter : Imam Syafii
Imam Syafii, Sekretaris Fraksi Demokrat Nasdem DPRD Surabaya
Surabaya pojokpitu.com, Baru kali ini rapat Banmus ada voting. Harusnya cuma menjadwalkan usulan Pansus di rapat paripurna. Untuk diputuskan apakah pansus covid disetujui atau tidak. Termasuk dengan voting atau dengan musyawarah mufakat.

Pemandangan menarik terjadi, saat Fraksi Partai Golkar jelas berbalik arah dalam rapat Banmus (15/5) kemarin. Golkar yang semula ikut mengusulkan pansus secara tertulis, kini menolaknya. Sedangkan, Herlina anggota Banmus yang juga ketua Fraksi Demokrat Nasdem juga mbalelo dari kesepakatan fraksi Demokrat Nasdem.

Fraksi Demokrat Nasdem sampai hari ini, tidak pernah mencabut apalagi membatalkan usulan untuk pembentukan pansus covid yang dikirim ke Ketua DPRD.

Dalam rapat Banmus kemarin, dua orang mewakili Fraksi Demokrat Nadem yaitu Herlina dan Syaiful Bahri. Syaiful tetap mengusulkan adanya pansus covid dan minta dijadwalkan di paripurna. Sebaliknya, Herlina menghianati keputusan hasil rapat Fraksi Demokrat Nasdem yang tetap mengusulkan pansus.

Sikap  Herlina ini tentu membuat anggota Fraksi Demokrat Nasdem terkaget kaget. Herlina dianggap ambil keputusan sendiri.

"Saya kaget juga mendengar cerita teman darei fraksi lain. Dimana kami tidak pernah membatalkan keputusan pembentukan Pansus. Sedangkan Herlina tidak pernah mengajak bicara untuk perubahan itu," kata Imam Syafii.

Beberapa teman dari fraksi lain menduga, Herlina berani mengorbankan marwah fraksi dan meninggalkan teman teman fraksi, dikarenakan punya hubungan dekat dengan Ketua DPRD dari PDIP itu. 

Sejak semula Herlina alergi adanya pansus. Dari nada nadanya sudah terlihat. Namun dalam rapat Fraksi Demokrat yang dihadiri 7 orang (lengkap) sudah memutuskan secara bulat perlu adanya pansus. Pertimbangannya karena kemanusiaan. Pemkot tidak punya roadmap dan konsep yang jelas dalam menangani merebaknya pandemi korona. Sehingga jumlah korban terus melonjak. Karena itu, fraksi kemudian membuat surat usulan pembentukan pansus covid yang dikirim ke Ketua DPRD Surabaya.

Herlina juga dikenal dekat dengan Kepala Bappeko Eri Cahyadi yang akan mati kutu jika DPRD sampai membentuk pansus. Diduga Herlina takut jika pansus jadi alat mengawasi bantuan sembako buat warga terdampak covid, dan dimanfaatkan atau ditunggangi untuk kepentingan elektoral Eri Cahyadi yang akan maju dalam Pilwali Surabaya pada desember 2020. "Padahal pansus ini jelas jelas tidak ada unsur politiknya," kata Imam.

Sementara itu, Moch Machmud wakil Ketua Fraksi Demokrat Nasdem saat dikonfirmasi juga mengaku merasa kaget. "Selama ini tidak ada ralat atau pembatalan," kata Moch Machmud.

Dalam dipikiran Machmud, sikap Demokrat Nasdem tetap ingin adanya pansus. "Andaikan Fraksi Demokrat Nasdem membatalkan pembentukan pansus, aturannya kami semua diberitahu, harus ada rapat dulu di intetnal fraksi," kata Machmud.

Sementara itu dalam rapat banmus kemarin, terjadi deadlock antara yang setuju pansus dan yang menolak pansus. 8 orang setuju pansus dan 8 orang menolak pansus. Namun ketika dua orang pendukung pansus pulang karena tidak ada keputusan, yaitu Syaiful Bahri dari Nasdem dan Yanto dari PKS, melanjutkan rapat dilanjut voting. Sehingga pihak pengusung pansus kalah suara.

Pertanyaannya, sampai sebegitunya upaya ingin manghadang pansus. Kenapa takut adanya pansus?

Semoga rakyat tahu kondisi yg sebenarnya terjadi di dalam dprd surabaya, dan yg sebenarnya dikerjakan pemkot. (pul)

Berita Terkait

Fraksi Fraksi DPRD Kabupaten Madiun Bentuk Pansus Covid

Dianggap Lamban dan Tidak Transparan, Tomas dan Aktivis Temui Tim Satgas dan Pansus Covid-19

Herlina Mbalelo, Usulan Pansus Covid Kalah Voting

Dianggap Tidak Tanggap Usulan Pansus Covid-19, Ketua Dewan Dilaporkan ke BK
Berita Terpopuler
Laka Lantas Truk Lpg, Honda Jazz dan 2 Sepeda Motor, 1 Meninggal
Peristiwa  7 jam

Mayat Laki Laki Ditemukan Disungai Dengan Beberapa Luka
Peristiwa  5 jam

Angka Gugat Cerai di Sidoarjo Didominasi oleh Pihak Istri
Peristiwa  8 jam

Warga Pesisir Jember Tak Terpengaruh Isu Tsunami
Peristiwa  18 jam



Cuplikan Berita
Mobil Wuling Ludes Terbakar di Tol Gempol-Pandaan
Pojok Pitu

Viral Danramil dan Anggota Bubarkan Orkes Hajatan
Pojok Pitu

Hingga Malam Hari Bukit Bentar Terbakar, Petugas Masih Lakukan Pemadaman Manual
Jatim Awan

Kebakaran Gudang Margomulyo, Tiga Isi Gudang Ludes Dilalap Api
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber