Berita Terbaru :
Drainase Jelek, Pabrik PSI Disidak Bupati
Puluhan Rumah Warga Pantai Sine Terendam Banjir Rob
LPT Unair Berhenti Layani Pemeriksaan Spesimen 14 Hari Ke Depan
Terseret Banjir Kali Lamong Dua Orang Meningal Dunia
Puluhan Warga Surabaya Serukan Aksi Tolak PSBB Jilid 3
New Normal Tak Pengaruhi Pembelajaran Praktikum Mahasiswa FK
Pemkot Bantah Cuitan Viral Seorang Dokter di Twitter
Tim Labfor Olah TKP Lokasi Kejadian Tewasnya 2 Bocah Dalam Mobil
Peduli Terhadap Warga yang Terdampak Pandemi Dengan Sediakan Lapak Gratis
Perketat Arus Balik Polda Jatim Sekat Perbatasan
Rumah Sakit Darurat Siap Difungsikan
Jalur Poros dan SPBU di Pantura Terpantau Sepi
Cluster Pabrik Rokok, 1 Warga Terkonfirmasi Positif Covid-19
Jokowi Minta Tambahkan Personil TNI Polri Untuk Turunkan Kurva Covid 19 di Jatim
Disinyalir Penyandang Dana Buat Balon, Seorang ASN Diperiksa Polisi
   

Dampak Corona Pabrik Tahu Terancam Gulung Tikar
Ekonomi Dan Bisnis  Minggu, 29-03-2020 | 03:43 wib
Reporter : Khusni Mubarok
Para produsen tahu di Kabupaten Tuban, terancam gulung tikar, akibat, merebaknya virus corona. Foto: Khusni Mubarok
Tuban pojokpitu.com, Para produsen tahu di Kabupaten Tuban, terancam gulung tikar akibat merebaknya virus corona. Pasalnya, kondisi tersebut membuat nilai tukar rupiah terhadap dolar, terus melemah.

Kondisi ini membuat harga bahan baku kedelai impor dipasaran terus mengalami kenaikan.  Salah satunya, dirasakan Rasdam, produsen tahu, di Kelurahan Panyuran, Kecamatan Palang, Tuban. Karena harga kedelai terus meroket maka biaya produksi ikut naik, sementara harga jual tahu di masyarakat tidak mengalami kenaikan.

Harga kedelai impor dipasaran yang sebelumnya hanya dipatok Rp. 6.500 perkilogramnya, terus mengalami kenaikan hingga menembus harga Rp. 8.000 perkilogramnya.
Kenaikan harga bahan baku tersebut sangat memberatkan kalangan pengusaha tahu, karena harga jual tahu di masyarakat tetap Rp 62.500 per embernya.

Meski harga harga bahan baku mengalami kenikan, produsen tahu tidak bisa serta-merta menaikkan harga tahu. Untuk mengurangi komposisi dan ukuran tahu,mereka juga tidak berani karena takut ditinggalkan pelangannya.

Kondisi tersebut diperparah dengan berhenti sejumlah pelanggan, karena seluruh tempat wisata di Tuban tutup hingga batas waktu yang belum bisa ditentukan. Padahal, selama ini sektor wisata menjadi salah satu konsumen besar pemasaran tahu.

"Akibat dari menghilangnya sebagian pelanggan, kini setiap hari hanya menghabiskan bahan baku 200 kilogram kedelai impor perharinya. Biasanya setiap harinya, pabrik tahu ini dapat menghabiskan bahan baku 600 kilogram kedelai impor perhari," jelas Rasdam.

Meski mengaku rugi, para pengusaha tahu masih tetap enggan menggunakan kedelai lokal. Pasalnya selain sulit didapatkan, kualitas kedelai lokal dinilai kurang bagus dan hasilnya tidak maksimal, karena kadar airnya tinggi.

Jika harga kedelai masih terus mengalami kenaikan, para pengusaha tahu ini mengaku terancam gulung tikar. Mereka berharap pemerintah turun tangan membantu mengendalikan harga kedelai impor. (yos)






Berita Terkait

Dampak Corona Pabrik Tahu Terancam Gulung Tikar

Mendes PDTT Minta Pemerintah Tidak Merugikan Perajin Tahu

Dampak Rupiah Terpuruk Kedelai Impor Mahal, Keuntungan Turun Drastis Hingga 30 Persen

Perajin Tahu Usaha Turun Temurun
Berita Terpopuler
Cluster Pabrik Rokok, 1 Warga Terkonfirmasi Positif Covid-19
Covid-19  4 jam

Sekolah Shift Untuk Redakan Kejenuhan Siswa
Pendidikan  16 jam

Kasus Covid-19 Surabaya, Diprediksi Segera Mencapai Puncaknya
Covid-19  17 jam

Akses Eks Lokalisasi Dadapan Sumberejo Ditutup Portal
Peristiwa  15 jam



Cuplikan Berita
Marah, Kapolda Copot Oknum Kapolsek Karena Tertidur Saat Rapat Dengan Walikota
Pojok Pitu

H-2 Lebaran, Stasiun Gubeng Surabaya Sepi Penumpang
Pojok Pitu

PSBB Surabaya Raya Bisa Diperpanjang, 2 Tahap Sebelumnya Dinilai Tak Efektif
Jatim Awan

Unik, Anak Anak Ini Berebut Uang Lebaran di Pagar Rumah Warga
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber