Berita Terbaru :
Waspada Bencana, BPBD Gandeng Badan Geologi Teliti Potensi Likuefaksi di Jatim
Warga Panen Ikan Saat Debit Air Waduk Dawuhan Mengering
Seorang Pemuda Ngaku Dapat Bisikan Gaib Untuk Begal Payudara Wanita
Polrestabes Surabaya Terima 100 Ribu Masker Kesehatan Untuk Masyarakat Miskin
Pemkot Tutup Karanggayam, 20 Club Persebaya Mengadu dan Dukung MA-Mujiaman
Pemkab Gresik Sangat Serius Untuk Meningkatkan Pelayanan Kesehatan
Euphoria Sepak Bola Usia Dini
Dewan Adat Majapahit Protes Dugaan Pelecehan Seksual Terhadap Sejumlah Karyawati Pabrik
Dua Pasang Calon Walikota Blitar Deklarasikan Kampanye Damai dan Sehat
Deklarasi Damai, Kampanye Pilkada Kota Surabaya Harus Sesuai Protokol Kesehatan
Bawaslu Ajak Kedua Paslon Disiplin Menerapkan Protokol Kesehatan Saat Kampanye
Forkopimda Gelar FGD dan Deklarasi Pilkada Damai Serta Sehat
Satreskrim Polresta Banyuwangi Bekuk Dua Pelaku dan Empat Penadah Motor
Dispendukcapil Tolak Permintaan RSUD Soal Perubahan Akta Bayi
Seluruh Paslon Deklarasi Pemilu Damai
   

Atasi Kemacetan di Surabaya
Opini  Minggu, 01-03-2020 | 16:16 wib
Reporter : Nanang Purwono
Parkir KBS memakan jalan di sekitar KBS.
Surabaya pojokpitu.com, Surabaya, kota metropolitan dengan penduduk terbanyak kedua setelah ibu kota Negara Jakarta. Berdasarkan data Dispendukcapil kota Surabaya, per bulan Januari 2019, jumlah penduduk Surabaya mencapai 3,095,026. Seiring dengan perkembangan kota, kebutuhan akan alat transportasi bagi warga kota semakin meningkat. Akibatnya, muncul persoalan di transportasi.

Jika menyoal masalah tranportasi, umumnya terkait dengan kecelakaan lalu lintas dan kemacetan. Khususnya dalam hal kemacetan, beberapa simpul kemacetan yang sering terjadi di Surabaya di antaranya adalah di Bundaran Dolog, Wonokromo dan jalan Dupak. Tiap hari kawasan ini tidak luput dari persoalan kemacetan.

Pada masa masa tertentu, misal pada saat liburan Lebaran, kawasan Wonokromo dengan Kebun Binatangnya menjadi langganan kemacetan. Potensi kemacaten ini diakibatkan karena membludaknya kendaraan tamu KBS yang diparkir di sekitar kebun binatang. Selain menganggu kelancaran lalu lintas, kawasan ini juga rawan kecelakaan yang membahayakan pengunjung.

Tepian jalan kerap dijubeli dengan kendaraan yang diparkir dan trotoar dipenuhi dengan pengunjung. Akibatnya mereka turun dari trotoar dan berjalan di bahu jalan yang berhimpitan dengan kendaraan yang diparkir. Apalagi dari sekian banyak pengunjung, terdapat anak anak. Situasi seperti ini tentu membahayakan para pengunjung.

Dari data Perusahaan Daerah Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya, tingkat kunjungan wisatawan pada musim libur Lebaran tahun 2019 mencapai 185 ribu orang, melebihi target yang berjumlah 180 ribu pengunjung. Target 180 ribu orang tersebut lebih banyak daripada jumlah pengunjung periode yang sama pada tahun 2018. Saat itu, hanya ada 160.105 pengunjung.

Akibat dari membludaknya kunjungan wisatawan ke Kebun Binatang Surabaya, arus lalu lintas di Jalan Raya Diponegoro depan Kebun Binatang Surabaya (KBS) mengalami peningkatan volume kendaraan. Kemacetan pun terjadi dan kemacetan ini tidak hanya terjadi di jalan Wonokromo di muka KBS, tapi juga di jalan Diponegoro, jalan Stail serta jalan Raya Darmo yang berseberangan dengan Kebun Binatang. Akibat simpul kemacetan di kawasan Kebun Binatang Surabaya, ekor kemacetan dari arah selatan hingga jalan A. Yani. Sementara dari arah utara hingga sampai Jalan Raya Darmo.

Bukan tidak mungkin bahwa pada musim Lebaran 2020 ini jumlah pengunjung tidak meningkat. Potensi pertambahan jumlah pengunjung ini dapat diduga karena ketersediaan sarana parkir yang memadahi. Yaitu parkir di Terminal Intermoda Joyoboyo (TIJ). TIJ dibangun memang untuk mengantisipasi membludaknya pengunjung yang berkendara mobil atapun sepeda motor.

Menurut Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya Irvan Wahyudrajad  bahwa kapasitas parkir di TIJ bisa menampung 363 mobil dan 502 roda dua. Gedung berlantai 5 ini berdiri di atas lahan seluas 8.669 meter persegi. Dengan ketersediaan lahan parkir ini, kemacetan di sekitar Kebun Binatang Surabaya pada musim Lebaran 2020 dapat dihindari.

Jika persoalan kemacetan lalu lintas dapat diatasi dengan ketersediaan lahan parkir, maka tidak demikian dengan keselamatan pengunjung yang tentu akan berjubel di trotoar yang menuju ke pintu utara Kebun Binatang Surabaya. Meski akses masuk Kebun Binatang sudah ditambah dengan adanya pintu selatan yang lebih dekat dengan TIJ. Banyaknya pengunjung yang harus menyeberang jalan juga menjadi persoalan sendiri. Yakni berpotensi membahayakan keselamatan pengunjung.

Machfud Arifin, yang selama ini memperhatikan persoalan persoalan kemacetan lalu lintas di Surabaya, menyambut baik pembangunan Terminal Intermoda Joyoboyo karena dianggab berkontribusi mengatasi persoalan kemacetan lalu lintas di sekitar Kebon Binatang Surabaya. Dalam uji coba yang dilakukan pada libut natal, 25 Desember 2019 lalu, TIJ mampu menampung banyaknya kendaraan di empat lantai gedung parkir. Masih tersisa satu lantai, yakni di lantai 5.

Adalah ide yang bagus dengan rencana pembangunan terowongan bagi pengunjung, yang menghubungkan TIJ dengan KBS. Terowongan ini memiliki panjang 160 meter dan lebar 4 meter dan menghubungkan basement TIJ dengan akses masuk KBS sisi selatan. Untuk mendukung pembangunan itu, beberapa bangunan liar di dekat pintu selatan juga sudah dibebaskan. Menurut Kepala Dinas Perhubungan Kota Surabaya Irvan Wahyudrajad, Pemkot Surabaya menyediakan anggaran sebesar 20 miliar rupiah untuk pembangunan terowongan.

Selesai persoalan kemacetan lalu lintas di kawasan Wonokromo, masih ada pekerjaan lainnya yang harus diselesaikan. Contohnya kemacetan klasik di bundaran Dolog. Menurut Machfud Arifin, calon walikota Surabaya, yang mantan Kapolda Jawa Timur, untuk mengatasi masalah kemacetan lalu lintas, penyediaan moda transportasi masal perlu ditambah dan kwalitas layanan moda transportasi masal juga perlu ditingkatkan. Ketepatan waktu keberangkatan dan kedatangan, misalnya bus, di terminal atau di halte halte perlu dijaga.

Dengan moda transportasi masal yang tepat waktu, nyaman dan aman niscaya akan menambah kepercayaan penumpang untuk beralih dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum tersebut. Upaya ini tentu akan mampu merngurangi jumlah kendaraan yang turun ke jalan (kemacetan). Sementara kapasitas jalan untuk menampung kendaraan tidak bertambah. Karenanya, transportasi masal harus bisa menjadi pilihan publik dan sekaligus mengatasi masalah kemacetan.

Berita Terkait

Atasi Kemacetan di Surabaya

Dewan Soroti Trotoar Miring Jadi Lahan Parkir

DPRD Kabupaten Madiun Wacanakan Lahan Parkir Dilelang Terbuka

Dishub Magetan: Jalur Timur Pasar Baru Dialihkan Selamanya
Berita Terpopuler
Puluhan Santri Pesantren Terpapar Covid 19
Covid-19  7 jam

Dispendukcapil Tolak Permintaan RSUD Soal Perubahan Akta Bayi
Peristiwa  5 jam

Padat Karya Mangrove bagi Pemulihan Ekonomi Nasional
Peristiwa  13 jam

LSM Yakini RSUD Tak Melakukan Mal Administrasi
Peristiwa  19 jam



Cuplikan Berita
Janji Datangkan Samurai 500 M, Korban Justru Tertipu Rp 18 M
Pojok Pitu

Diduga Akibat Puntung Rokok Dibuang Sembarangan, Savana Kawah Wurung Terbakar
Pojok Pitu

Hingga Malam Hari Bukit Bentar Terbakar, Petugas Masih Lakukan Pemadaman Manual
Jatim Awan

Kebakaran Gudang Margomulyo, Tiga Isi Gudang Ludes Dilalap Api
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber