Berita Terbaru :
Satu PDP Meninggal Dunia, Keluarga Tolak Pemulasaraan Protokol Kesehatan
Empat Rumah di Royal Kencana Disatroni Maling
Ulama Jember Doa Bersama Untuk Korban Bom Beirut
Seluruh Pegawai Puskesmas Maospati Jalani Tes Swab
Komisi A Minta Peran Aktif Guru di Wilayah Minim Akses Internet
Ipong Kantongi 4 Kandidat Pendampingnya di Pilkada 2020
Baru Keluar Penjara, Pencuri Modus Cari Kos Kembali Berulah
Rumah Roboh Timpa Penghuni, Seluruh Perabotan Tak Terselamatkan
Terobos Lampu Merah, 2 Pelajar Terkapar Terlibat Kecelakaan
Kasus Kematian Covid-19 Lampaui Persentase Global
Butuh 30 Hari MA Putuskan Bupati Jember
Timnas Belum Latihan, PSSI Berdalih Jumlah Peserta Swab Test Banyak
Protes Fasum, Warga Elit dan Satpam Perumahan Nyaris Ricuh
Karena Takut Covid 19, Seorang Ibu Melahirkan Bayinya di Kamar Mandi
Ratusan Seniman Mengelar Aksi Unjuk Rasa di Depan Balaikota Surabaya
   

Atasi Kemacetan di Surabaya
Opini  Minggu, 01-03-2020 | 16:16 wib
Reporter : Nanang Purwono
Parkir KBS memakan jalan di sekitar KBS.
Surabaya pojokpitu.com, Surabaya, kota metropolitan dengan penduduk terbanyak kedua setelah ibu kota Negara Jakarta. Berdasarkan data Dispendukcapil kota Surabaya, per bulan Januari 2019, jumlah penduduk Surabaya mencapai 3,095,026. Seiring dengan perkembangan kota, kebutuhan akan alat transportasi bagi warga kota semakin meningkat. Akibatnya, muncul persoalan di transportasi.

Jika menyoal masalah tranportasi, umumnya terkait dengan kecelakaan lalu lintas dan kemacetan. Khususnya dalam hal kemacetan, beberapa simpul kemacetan yang sering terjadi di Surabaya di antaranya adalah di Bundaran Dolog, Wonokromo dan jalan Dupak. Tiap hari kawasan ini tidak luput dari persoalan kemacetan.

Pada masa masa tertentu, misal pada saat liburan Lebaran, kawasan Wonokromo dengan Kebun Binatangnya menjadi langganan kemacetan. Potensi kemacaten ini diakibatkan karena membludaknya kendaraan tamu KBS yang diparkir di sekitar kebun binatang. Selain menganggu kelancaran lalu lintas, kawasan ini juga rawan kecelakaan yang membahayakan pengunjung.

Tepian jalan kerap dijubeli dengan kendaraan yang diparkir dan trotoar dipenuhi dengan pengunjung. Akibatnya mereka turun dari trotoar dan berjalan di bahu jalan yang berhimpitan dengan kendaraan yang diparkir. Apalagi dari sekian banyak pengunjung, terdapat anak anak. Situasi seperti ini tentu membahayakan para pengunjung.

Dari data Perusahaan Daerah Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya, tingkat kunjungan wisatawan pada musim libur Lebaran tahun 2019 mencapai 185 ribu orang, melebihi target yang berjumlah 180 ribu pengunjung. Target 180 ribu orang tersebut lebih banyak daripada jumlah pengunjung periode yang sama pada tahun 2018. Saat itu, hanya ada 160.105 pengunjung.

Akibat dari membludaknya kunjungan wisatawan ke Kebun Binatang Surabaya, arus lalu lintas di Jalan Raya Diponegoro depan Kebun Binatang Surabaya (KBS) mengalami peningkatan volume kendaraan. Kemacetan pun terjadi dan kemacetan ini tidak hanya terjadi di jalan Wonokromo di muka KBS, tapi juga di jalan Diponegoro, jalan Stail serta jalan Raya Darmo yang berseberangan dengan Kebun Binatang. Akibat simpul kemacetan di kawasan Kebun Binatang Surabaya, ekor kemacetan dari arah selatan hingga jalan A. Yani. Sementara dari arah utara hingga sampai Jalan Raya Darmo.

Bukan tidak mungkin bahwa pada musim Lebaran 2020 ini jumlah pengunjung tidak meningkat. Potensi pertambahan jumlah pengunjung ini dapat diduga karena ketersediaan sarana parkir yang memadahi. Yaitu parkir di Terminal Intermoda Joyoboyo (TIJ). TIJ dibangun memang untuk mengantisipasi membludaknya pengunjung yang berkendara mobil atapun sepeda motor.

Menurut Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya Irvan Wahyudrajad  bahwa kapasitas parkir di TIJ bisa menampung 363 mobil dan 502 roda dua. Gedung berlantai 5 ini berdiri di atas lahan seluas 8.669 meter persegi. Dengan ketersediaan lahan parkir ini, kemacetan di sekitar Kebun Binatang Surabaya pada musim Lebaran 2020 dapat dihindari.

Jika persoalan kemacetan lalu lintas dapat diatasi dengan ketersediaan lahan parkir, maka tidak demikian dengan keselamatan pengunjung yang tentu akan berjubel di trotoar yang menuju ke pintu utara Kebun Binatang Surabaya. Meski akses masuk Kebun Binatang sudah ditambah dengan adanya pintu selatan yang lebih dekat dengan TIJ. Banyaknya pengunjung yang harus menyeberang jalan juga menjadi persoalan sendiri. Yakni berpotensi membahayakan keselamatan pengunjung.

Machfud Arifin, yang selama ini memperhatikan persoalan persoalan kemacetan lalu lintas di Surabaya, menyambut baik pembangunan Terminal Intermoda Joyoboyo karena dianggab berkontribusi mengatasi persoalan kemacetan lalu lintas di sekitar Kebon Binatang Surabaya. Dalam uji coba yang dilakukan pada libut natal, 25 Desember 2019 lalu, TIJ mampu menampung banyaknya kendaraan di empat lantai gedung parkir. Masih tersisa satu lantai, yakni di lantai 5.

Adalah ide yang bagus dengan rencana pembangunan terowongan bagi pengunjung, yang menghubungkan TIJ dengan KBS. Terowongan ini memiliki panjang 160 meter dan lebar 4 meter dan menghubungkan basement TIJ dengan akses masuk KBS sisi selatan. Untuk mendukung pembangunan itu, beberapa bangunan liar di dekat pintu selatan juga sudah dibebaskan. Menurut Kepala Dinas Perhubungan Kota Surabaya Irvan Wahyudrajad, Pemkot Surabaya menyediakan anggaran sebesar 20 miliar rupiah untuk pembangunan terowongan.

Selesai persoalan kemacetan lalu lintas di kawasan Wonokromo, masih ada pekerjaan lainnya yang harus diselesaikan. Contohnya kemacetan klasik di bundaran Dolog. Menurut Machfud Arifin, calon walikota Surabaya, yang mantan Kapolda Jawa Timur, untuk mengatasi masalah kemacetan lalu lintas, penyediaan moda transportasi masal perlu ditambah dan kwalitas layanan moda transportasi masal juga perlu ditingkatkan. Ketepatan waktu keberangkatan dan kedatangan, misalnya bus, di terminal atau di halte halte perlu dijaga.

Dengan moda transportasi masal yang tepat waktu, nyaman dan aman niscaya akan menambah kepercayaan penumpang untuk beralih dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum tersebut. Upaya ini tentu akan mampu merngurangi jumlah kendaraan yang turun ke jalan (kemacetan). Sementara kapasitas jalan untuk menampung kendaraan tidak bertambah. Karenanya, transportasi masal harus bisa menjadi pilihan publik dan sekaligus mengatasi masalah kemacetan.

Berita Terkait

Atasi Kemacetan di Surabaya

Dewan Soroti Trotoar Miring Jadi Lahan Parkir

DPRD Kabupaten Madiun Wacanakan Lahan Parkir Dilelang Terbuka

Dishub Magetan: Jalur Timur Pasar Baru Dialihkan Selamanya
Berita Terpopuler
Tim Satgas Awasi 6 Orang Positif Covid 19 di Rumah Makan Rawon Nguling
Covid-19  5 jam

Dump Truk Bermutan Pasir Terlibat Kecelakaan, Sopir Terjepit
Peristiwa  5 jam

Karena Takut Covid 19, Seorang Ibu Melahirkan Bayinya di Kamar Mandi
Malang Raya  4 jam

Protes Fasum, Warga Elit dan Satpam Perumahan Nyaris Ricuh
Metropolis  3 jam



Cuplikan Berita
Ratusan Ibu Hamil Swab Massal di Gelora Pancasila
Pojok Pitu

Begini Pengakuan Bupati Menanggapi Pemakzulan DPRD Jember
Pojok Pitu

Karyawan Toko Tipu Korban dan Gelapkan Ribuan Lpg
Jatim Awan

Sebanyak 65 Guru SMP di Surabaya Reaktif
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber