Berita Terbaru :
Laga Persahabatan Antara Polres Malang Melawan Jurnalis Malang Raya, Polres Malang Unggul 2 - 0
Diduga Korsleting Listrik, 3 Gudang Barang Bekas Ludes Terbakar
Nylonong, Tabrak Truk Dua Bocah dan Ibunya Meninggal Dunia
Ketua Aisyiyah Surabaya : MA-Mujiaman Satu-Satunya Figur yang Tepat Pimpin Surabaya
Dua Nakes Positif Corona, Puskesmas Sanan Kulon Ditutup
Aksi Pelaku Pembobolan Lima Kotak Amal Masjid Terekam CCTV
Dijanjikan Bisnis Dengan Keuntungan Besar, Biduan Ini Malah Ditipu Ratusan Juta Oleh Teman Sendiri
Deteksi Dini Santri dan Pengasuh Tebuireng di Rapid Test Antigen
Pembelajaran Tata Surya Melalui Augmented Reality
Nokia C1, Hp Di Bawah 1 Juta Yang Oke
Bos Facebook Pilih Smartphone Ini Ketimbang Iphone
Mobil Wuling Ludes Terbakar di Tol Gempol-Pandaan
Kecanduan Pil Koplo, Seorang Anak Nekat Aniaya Kedua Orang Tuanya
Masih Banyak Warga Terjaring Razia Yustisi
Bupati Madiun Beranikan Diri Senam Bareng Pasien Positif Covid
   

Kepsek Mengaku Tak Menahan Raport Siswa
Mataraman  Senin, 24-02-2020 | 14:01 wib
Reporter : Achmad Syarwani
Wardi, Kepala Sekolah SD Negeri Paron Kecamatan Bagor Nganjuk
Nganjuk pojokpitu.com, Pasca keluhan wali murid terkait iuran siswa dan dugaan penahanan raport siswa dibantah oleh pihak sekolah. Pihak sekolah mengaku tidak pernah menahan raport siswa, karena raport adalah hak siswa. Terkait iuran paguyuban, itu merupakan diluar kewenangan sekolah.

Pasca adanya keluhan Suryati, seorang janda warga Desa Paron Kecamatan Bagor Nganjuk, atas iuran Rp 6 ribu per siswa, dan adanya penahanan raport dibantah oleh Wardi, Kepala Sekolah SD Negeri Paron Kecamatan Bagor Nganjuk. "Sekolah tidak pernah menahan raport siswa, karena raport merupakan hak dari siswa dan langsung diberikan oleh guru kelas ke masing masing siswanya," jelas Suryati.

Terkait adanya iuran yang dilakukan oleh paguyuban masing masing kelas, merupakan kesepakatan masing masing wali murid dan tidak ada kaitannya dengan pihak sekolah.

Sementara Partono, penanggungjawab Komite Sekolah, mengaku prihatin dengan kondisi fisik sekolah, sebab banyak bagian fisik sekolah yang harus dibangun tapi tidak juga dapat bantuan dari pemerintah.  "Sedangkan dana iuran paguyuban sebesar Rp 6 ribu persiswa digunakan untuk membangun pagar sekolah, taman bunga dan upah pekerja penyebrang jalan saat siswa pulang," kata Partono.

Sebelumnya seorang wali murid SDN Paron Bagor Nganjuk keberatan atas iuran dari paguyuban sekolah, ia meminta agar dirinya bisa digratiskan dari iuran tersebut. (yos)

Berita Terkait

Polisi Tangkap 3 Pelaku Pungli Di Pasar, Satu Orang Ternyata ASN

Aksi Pungli Biaya Pemakaman PDP Corona RSUD Kota Mojokerto Viral di media Sosial

Kepsek Mengaku Tak Menahan Raport Siswa

Ratusan Sopir Self Loader Protes Pungli Pengawalan
Berita Terpopuler
Kecanduan Pil Koplo, Seorang Anak Nekat Aniaya Kedua Orang Tuanya
Peristiwa  8 jam

Sulap Limbah Popok Bayi Jadi Pot Bunga yang Indah
Life Style  20 jam

Mobil Wuling Ludes Terbakar di Tol Gempol-Pandaan
Peristiwa  8 jam

Nylonong, Tabrak Truk Dua Bocah dan Ibunya Meninggal Dunia
Peristiwa  2 jam



Cuplikan Berita
Janji Datangkan Samurai 500 M, Korban Justru Tertipu Rp 18 M
Pojok Pitu

Diduga Akibat Puntung Rokok Dibuang Sembarangan, Savana Kawah Wurung Terbakar
Pojok Pitu

Hingga Malam Hari Bukit Bentar Terbakar, Petugas Masih Lakukan Pemadaman Manual
Jatim Awan

Kebakaran Gudang Margomulyo, Tiga Isi Gudang Ludes Dilalap Api
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber