Berita Terbaru :
Hibur Anak-Anak, Polisi Berikan Edukasi Anak di Tempat Wisata
Antusias Petani Menanam Tembakau di Suasana Covid-19
Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Malang Kota Malang
Bus dan Kru Harus Lakukan Protokol Kesehatan Ketat
Keramaian dan Kerumunan Massa Tetap Dilarang di Bangkalan
Hama Ulat Mulai Serang Tanaman Jagung
Tahapan Relokasi Pedagang Ojokan Masih Lamban
Tugu Polisi Monumen Perjuangan Polri Karesidenan Besuki Akan Direnovasi
Kembali Dibuka, Tempat Wisata di Blitar Terapkan Protokol Kesehatan
   

Survei Indo Barometer: Soeharto Nomor Satu, Jokowi Kedua, Megawati Terakhir
Politik  Minggu, 23-02-2020 | 23:12 wib
Reporter :
Lembaga Survei Indobarometer merilis hasil survei dengan tajuk Road To Capres dan Parpol 2024 di Hotel Atlet Century, Jakarta, Minggu (23/2). Foto: Fathan Sinaga
Jakarta pojokpitu.com, Lembaga Survei Indobarometer merilis hasil riset yang menunjukkan bahwa Presiden Kedua RI Soeharto merupakan kepala negara yang paling disukai masyarakat saat ini. Bahkan, Soeharto mengalahkan Presiden RI Joko Widodo dalam hal ketersukaan.

"Dalam sejarah Republik Indonesia sampai dengan saat ini dari sebanyak tujuh nama presiden, Soeharto yang paling disukai," kata Direktur Eksekutif Indobarometer M Qodari saat nerikus survei bertajuk "Road To Capres dan Parpol 2024" di Hotel Atlet Century, Jakarta, Minggu (23/2).

Survei yang merekam pendapat publik mengenai presiden yang paling disukai itu dilaksanakan sejak 9-15 Januari 2020.

Soeharto menjadi presiden paling disukai (23,8 persen), disusul Jokowi (23,4 persen), Soekarno (23,3 persen), Susilo Bambang Yudhoyono (14,4 persen), BJ Habibie (8,3 persen), Gus Dur (5,5 persen) dan terakhir Megawati Soekarnoputri (1,2 persen).

Qodari melanjutkan, Soeharto disukai karena pemerintahannya dinilai berhasil dalam sektor publik. Contohnya di bidang pendidikan, rezim Orde Baru membangun SD Inpres di seantero negeri.

Di bidang kesehatan, Soeharto membangun puskesmas serta membangun perumahan rakyat di seluruh Indonesia. Selain itu, Soeharto juga dianggap mampu menjaga stabilitas harga pangan.

"Dia juga relatif bisa menjaga ketersediaan dan stabilitas harga bahan pokok," papar Qodari.

Qodari melanjutkan, Soeharto juga dianggap berjasa membangun infrastruktur dasar seperti jalan, jembatan dan lain lain. Namun kelemahan Soeharto adalah minimnya demokrasi alias cenderung otoriter.
"Hanya saja kekurangannya adalah minimnya kebebasan dan demokrasi," kata Qodari.

Meski demikian, Qodari mengingatkan bahwa kesukaan publik terhadap Soeharto cenderung menurun dari tahun ke tahun. Kesukaan pada Soeharto misalnya turun signifikan dari 36,5 persen pada 2011 menjadi 23,8 persen pada 2020.

Qodari menjelaskan, angka itu didapat dari pertanyaan tertutup (tidak ada pilihan) kepada sebanyak 1.200 responden di seluruh Indonesia. Margin of error sekitar 2,83 persen, pada tingkat kepercayaan 95 persen. Responden adalah mereka warga yang minimal berusia 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah pada saat survei dilakukan. (tan/jpnn/pul)




Berita Terkait

Angka Kriminalitas Menurun Saat Pandemi Covid-19

Polres Blitar Kota Ungkap 295 Kasus Dalam Operasi Pekat

Bapak Anak di Tuban Kompak Curi Barang Mewah

Selama Seminggu, Polisi Gulung 10 Pelaku Pengedar Sabu
Berita Terpopuler
Kembali Dibuka, Tempat Wisata di Blitar Terapkan Protokol Kesehatan
Mlaku - Mlaku  8 jam

Hama Ulat Mulai Serang Tanaman Jagung
Ekonomi Dan Bisnis  5 jam

Tahapan Relokasi Pedagang Ojokan Masih Lamban
Ekonomi Dan Bisnis  6 jam

Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Malang Kota Malang
Mlaku - Mlaku  2 jam



Cuplikan Berita
Dua Kadis Terpapar Covid-19, Kantor Terpaksa Dilockdown
Pojok Pitu

Pemkot Surabaya Tepis Isu Pemecatan Kadis DKRTH Surabaya
Pojok Pitu

Diserang Tikus, Petani Ponorogo Resah
Jatim Awan

Rumah Pegawai Lapas Mojokerto Jadi Sasaran Pelemparan Bom Molotov
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber