Berita Terbaru :
Atrian Panjang Saat Uji Coba Tiket Kapal Online Pelabuhan Ketapang
Satlantas Polres Madiun Kota Cek Posko Mudik Observasi Covid 19
PSBB 19 Titik Dihentikan, Pemkot Akan Evaluasi
Penumpang Kereta Terancam Tidak Bisa Naik, Jika Tidak Gunakan Masker
Gubernur Jatim Sebut Pengajuan PSBB Harus Memiliki Plan Of Action
KOI Jatim Bantu 22 Ton Beras ke Gubernur Jatim
Cek Kesehatan Penumpang dan Awak Bis, Petugas Temukan Dua Penumpang Bis ODP
Pemkab Ponorogo Akan Kucurkan Sembako Senilai Rp 200 Ribu
Kerap Bertengkar, Istri Diduga Nekat Curi Mobil Milik Suami
Tebing Longsor, Lalu Lintas Jatim Jateng Terganggu
Peternak Ayam Petelur Mulai Kehilangan Pelanggan
Satreskrim Polres Ngawi Bekuk Pelaku Pencurian Gabah
Spesialis Pencuri Toko Pakaian Lintas Kota Ditembak Polisi
Tim Medis Terus Pantau Kesehatan 3 Pasien Positif Corona Ponorogo
Covid Apalagi
   

Cegah Serangan Tikus, Petani Pagari Sawah dengan Galvalum
Mataraman  Jum'at, 31-01-2020 | 20:10 wib
Reporter : Herpin Pranoto
Pusing serangan hama tikus, petani di Kabupaten Ngawi, memagari tanaman padi di sawahnya dengan galvalum atau baja ringan. Meskipun mahal, tetapi terbukti efektif mencegah serangan tikus. Foto: Herpin Pranoto
Ngawi pojokpitu.com, Selama 2 musim tanam terakhir, serangan hama tikus telah membuat rugi banyak petani di Desa Banjaransari Kecamatan Padas Kabupaten Ngawi.

Berbagai upaya untuk mengendalikan hama tikus, dinilai telah gagal. Setelah berpikir keras, Suwarno (50), salah satu petani desa setempat, melakukan ujicoba dengan memagari sawahnya menggunakan galvalum atau baja ringan, setinggi 75 centimeter.Bahan untuk atap rumah itu, digunakan untuk mengelilingi tanaman padinya. Untuk membatasi serangan ribuan tikus, sekelilingnya dibuatkan saluran air. Pagar tersebut, terbukti efektif, untuk melawan serangan tikus.

"Hingga 70 hari setelah tanam, hanya sedikit tikus yang bisa masuk ke areal pertanaman padinya. Pagar tersebut, cukup mahal, tetapi bisa digunakan hingga puluhan tahun. Untuk lahan seluas 2,3 hektar, membutuhkan dana sekitar Rp 10 juta," kata Suwarno.

Sementara itu pagar milik Ibnu Hidayat (39), petani setempat, menggunakan galvalum setinggi 90 centi meter. Kondisi itu, membuat biayanya lebih mahal. Untuk lahan seluas setengah hektar saja,dibutuhkan pagar sepanjang 300 meter, dengan biaya sekitar Rp 10 juta. "Dengan menambah ketinggian pagar, nyaris tak ada tikus, yang berhasil masuk ke areal pertanaman padinya," kata Ibnu Hidayat.

Kreativitas 2 petani tersebut, perlu dilakukan kajian lebih lanjut. Jika lebih efektif, bisa dijadikan alternatif, mengatasi hama tikus di masa mendatang.Sehingga petani tidak menggunakan jebakan tikus listrik, yang berbahaya.

Bagi pemerintah setempat, bisa mendorong penggunaannya, dengan memberikan subsidi kepada kelompok tani. Sebagai lumbung panen beras nasional, membantu petani berarti ikut menjaga ketahanan pangan nasional. (pul)

Berita Terkait

Antisipasi Serangan Hama Tikus Petani Nekat Pasang Setrum Listrik Walaupun Berbahaya

Basmi Hama Tikus, Petani Ngawi Gunakan Burung Hantu

Cegah Serangan Tikus, Petani Pagari Sawah dengan Galvalum

Bikin Jebakan Tikus Listrik Yang Tewaskan Tetangga, Yusuf Jadi Tersangka
Berita Terpopuler
Nekat Pulang Kampung, 65 orang Dikarantina di Hotel Selama 14 Hari
Covid-19  9 jam

Rujak Bawean Menjadi Kuliner Pelepas Rindu Perantau Dari Pulau Putri
Icip - Icip  18 jam

Baru Bebas Lantaran Progam Asimilasi, Residivis Dihajar Warga Usai Kepergok Cur...selanjutnya
Peristiwa  21 jam

Keterlaluan, Baru Bebas Progam Asimilasi, Lalu Dimassa Lagi Karena Curi Motor
Peristiwa  11 jam



Cuplikan Berita
Jalan Darmo dan Tunjungan Surabaya Ditutup 2 Minggu
Pojok Pitu

Berburu Manisnya Buah Srikaya Puthuk Tuban
Pojok Pitu

Banjir Rendam Tiga Titik Jalan Penghubung Antar Kecamatan
Jatim Awan

Zona Merah di Jatim Menjadi 23 Kabupaten Kota, Kasus Positif 187 Orang
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber