Berita Terbaru :
Wujudkan Kemanunggalan TNI-Rakyat, Prajurit Koarmada II Gelar Karbak di Bangkalan
Sidang Pelanggar Protokol Kesehatan Mulai Diberlakukan, Pelanggar Harus Membayar Denda
Operasi Masker Dengan Sanksi Sosial Masih Diterapkan
Kampanyekan Gebrak, Polres Bojonegoro Bagikan 20 Ribu Masker
Menjaga Tradisi Warga Gelar Lomba Layang Layang
Pendeta Cabuli Anak Bawah Umur Divonis 10 Tahun Penjara
Sedot Duit Debitur Rp 2,1 M Untuk Keperluan Judi, Karyawan BRI Diborgol Jaksa Tipikor
Aktivis Forum Kota Gresik Demo Di depan Pintu Masuk JIIPE
Demo Pemain Seni Jaranan, Diwarnai Aksi Kesurupan
500 Guru se-Surabaya Jalani Tes Swab
Gubernur Jatim Lantik Teno Jadi Walikota Pasuruan
Satu Tersangka Terpapar Covid 19, Seluruh Pegawai BNNK Kota Mojokerto Jalani Tes Swab
15 Pegawai Rumah Sakit Swasta di Lamongan Terinfeksi Covid 19
Tidak Hanya Untuk SD - SMP, Siswa PAUD dan TK Bakal Kebagian Kuota Gratis
Gus Muhdlor Ali Galang Dukungan Kaum Milenial
   

Jualan 100 Dolar
Inspirasi DIS  Senin, 20-01-2020 | 01:03 wib
Reporter : Dahlan Iskan
pojokpitu.com, Yang merasa puas dengan terbunuhnya Jenderal Qassem Soleimani diminta menyumbang. Tiap orang 100 dolar.

Itulah salah satu cara Donald Trump mengumpulkan dana untuk kampanye. Agar terpilih lagi sebagai presiden Amerika Serikat.

Serangan drone yang dilancarkan Amerika ke jenderal Iran di ibukota Irak itu memang memuaskan pendukungnya.

Hanya puas? Jangan sampai. Harus ada harganya. Trump harus lebih pintar dari rumah makan Padang. "Kalau puas, beri tahu teman-teman,"

Bagi Trump, "Kalau puas, harus bayar, dong,"

Itulah salah satu kelemahan demokrasi di Amerika. Setiap menjelang Pilpres harus ada yang diserang. Untuk memuaskan publik calon pemilih.

Terutama kalau yang nyapres adalah incumbent. Dan posisi politiknya lagi perlu penguatan.

Maka jenderal yang dulu membantu Amerika itu pun jadi korban. "Mestinya itu sudah dilakukan dulu-dulu," ujar Trump seperti ingin menyatakan bahwa ia lebih hebat dari presiden sebelumnya.

Tidak hanya Iran yang bisa jadi barang dagangan pemilu seperti itu. Juga Tiongkok.

Penandatanganan perjanjian dagang tahap satu dengan Tiongkok Rabu lalu juga dijual habis oleh Trump.

"Baru sekali ini ada Presiden Amerika yang bisa membuat Tiongkok duduk di meja perundingan," ujar Trump.

Itu memang betul. Tapi mengapa saya belum mau segera menuliskan hasil perundingan itu?

Saya masih harus menunggu berapa dolar sumbangan kampanye yang diminta dari kepuasan publik yang satu ini.

Hampir saja Trump juga jualan Korea Utara. Tapi nilai Kim Jong-un mungkin hanya dianggap satu dolar.

Bagi Tiongkok hasil perjanjian tahap satu itu masih dianggap win-win. Tiongkok memang harus menambah pembelian produk Amerika senilai USD 200 miliar. Selama tahun 2020 dan 2021.

Tapi barang-barang itu memang yang sangat diperlukan Tiongkok. Misalnya kedelai.

Maka begitu tanda-tangan dilakukan oleh Wakil Perdana Menteri Liu He, kesibukan Tiongkok bukan berpikir dari mana mencari uangnya.

Dana, ia punya. Yang diutang Amerika saja lebih USD 1 triliun.

Yang membuat Tiongkok kepikiran adalah: impor barang serupa dari mana yang harus dikurangi.

Itu yang membuat rekan-rekan dagang Tiongkok was-was. Maka Tiongkok pun sibuk menenangkan mereka.

"Perjanjian dengan Amerika ini tidak akan mengganggu hubungan kita selama ini," begitu penjelasan resmi Tiongkok.

Tapi, mana bisa. Yang paling sewot adalah negara-negara Eropa Serikat.

Perjanjian Amerika-Tiongkok itu dianggap preman yang merusak hukum pasar bebas.

Dengan perjanjian seperti itu perdagangan, kata Eropa Serikat, tidak lagi didasari keperluan dan harga. Tapi didasarkan tekanan.

Tapi Trump tidak peduli hukum seperti itu. Yang penting Amerika dulu. To make Trump great again.

Bahkan ia kini lagi menekan Eropa Serikat. Agar ikut memberi sanksi kepada Iran.

Kalau tidak, kata Trump, justru Eropa yang akan ia beri sanksi. Mobil produk Eropa Serikat yang dipasarkan di Amerika akan dikenai bea masuk 25 persen.

Iran benar-benar dagangan yang seksi. Tapi ke mana Xi Jinping hari Rabu itu? Kok tidak ke Washington? Sehingga Trump hanya bisa jualan Tiongkok tanpa satu paket dengan Xi Jinpingnya?

Hari itu Xi Jinping jualan sendiri, daripada hanya jadi barang dagangan di Washington.

Ia ke Myanmar. Jualan OBOR. Banyak proyek One Belt One Road di tetangga selatannya itu: mulai bendungan besar di pedalaman sampai pelabuhan raksasa di pantai pantai selatan.

Maka kalau proyek USD 1 triliun di Myanmar itu selesai, India menjadi terkepung oleh tiga pelabuhan raksasa: Gwardar (Pakistan) di Baratnya, Colombo (Srilanka) di Selatannya dan Rohinya (Myanmar) di Timurnya.

Amerika baru saja menang di Washington. Tapi kalah terus di Asia. (*)

Berita Terkait

Peringatan Moore

Jalan Darat

Melayat Drive-Through

Tes Pikun
Berita Terpopuler
Sedot Duit Debitur Rp 2,1 M Untuk Keperluan Judi, Karyawan BRI Diborgol Jaksa Ti...selanjutnya
Hukum  6 jam

Bus Sugeng Rahayu Tabrak Pohon, 4 Terluka
Peristiwa  10 jam

Demo Ricuh, Pemasok Kayu Tagih Hutang Miliaran Rupiah Kepada Bondowoso Indah Pl...selanjutnya
Peristiwa  9 jam

Bacok Polisi, Satreskoba Tembak Mati Dua DPO Narkoba
Metropolis  12 jam



Cuplikan Berita
Diduga Jaringan Internasional, Polisi Tembak Mati Gembong Narkoba
Pojok Pitu

Diduga Korsleting Listrik, Dua Gudang Mebel dan Dua Rumah Hangus Terbakar
Pojok Pitu

Ratusan Driver Online Unjuk Rasa dan Sweping Rekan
Jatim Awan

KPU Surabaya Segera Publikasikan DPS Pada Warga
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber