Berita Terbaru :
Seorang Pengendara Motor Tewas Jadi Korban Tabrak Lari
Lima Warga Terkonformasi Positif Covid-19 di Lumajang
Satu Warga Terkonfirmasi Positif Corona, Pacitan Zona Merah
Puluhan Rumah dan Hektaran Padi Siap Panen Terendam Banjir
Kasus Positif Covid-19 di Tulungagung Bertambah Menjadi 7 Orang
Positif Corona di Nganjuk Bertambah, Total 8 Orang
Pemkab Ponorogo Siapkan Tempat Isolasi Untuk Pemudik
Siswa SMK di Blitar Produksi 2000 APD Gratis Untuk Tim Medis
Pemanfaatan Gas Metan Hasil Pengolahan Sampah TPA Selopuro
Dua Minggu Tutup Pedagang Konveksi PBM Kembali Buka
Tempat Duduk Bus Harus Diberi Pembatas
DPUTR: Semua Ada di LPSE, Jangan Asal Nuding
Stabilkan Ekonomi Terdampak Covid 19, Pemda Berikan Beras Ke Warga
Sering Dijadikan Tempat Berkumpul, Taman Tajamara Disemprot Disinfectan
Rusunawa Pesantren Jombang Siap Tampung 80 Pemudik
   

Soal Guru Honorer, Ini Kata FHI untuk Mendikbud Nadiem
Pendidikan  Minggu, 15-12-2019 | 17:48 wib
Reporter :
Jakarta pojokpitu.com, Forum Honorer Indonesia (FHI) mendesak Mendikbud Nadiem Makarim untuk melakukan tata kelola guru dan meningkatkan status maupun kesejahteraan guru honorer.

Ketua Dewan Pembina FHI Hasbi mengatakan, guru merupakan ujung tombak dalam melaksanakan kebijakan strategis pemerintah di bidang pendidikan. Oleh karena itu status, kesejahteraan, peningkatan kompetensi, dan tata kelola guru perlu menjadi skala prioritas pemerintah.

"FHI mendukung Mendikbud Nadiem Makarim untuk menghapus UN. Mendikbud atas nama pemerintah harus tegas dan tidak ragu-ragu mengambil keputusan dan kebijakan terkait penghapusan UN di tengah pro-kontra penghapusan UN," terang Hasbi kepada JPNN.com, Minggu (15/12).

Apa lagi, lanjutnya, Presiden Jokowi mendukung dan telah memberikan keleluasan Mendikbud Nadiem untuk mengambil langkah-langkah strategis dalam melakukan perubahan di bidang pendidikan. Sehingga bidang pendidikan mampu memproduksi SDM unggul yang akan menjadi aset bangsa dalam menggerakkan pembangunan bangsa dan negara.

Sesuai pengalamannya sebagai guru honorer, Hasbi menilai, pelaksanaan UN berdampak phisikologis terhadap siswa dan guru. Di samping berpotensi menimbulkan malapraktik pendidikan, soal bocor, aksi mencontek, jual beli kunci jawaban bukan rahasia umum.

"Selama malpraktek pendidikan nasional terus berlangsung, benih-benih ketidakjujuran akan tumbuh subur yang akan memengaruhi output pendidikan dan pembentukan karakter anak," sergahnya.

Di sisi lain, lanjut Hasbi, pelaksanaan UN berpotensi terjadi manipulasi hasil ujian. Belum lagi terkait pesanan birokrat pendidikan di masing-masing daerah yang menghendaki sekolah binaannya meluluskan siswa 100 persen. Akankah malpraktek pendidikan seperti ini akan terus dipertahankan? (esy/jpnn)





Berita Terkait

Soal Guru Honorer, Ini Kata FHI untuk Mendikbud Nadiem

Puluhan Guru Honorer K2 Gruduk DPRD Blitar
Berita Terpopuler
Positif Corona di Nganjuk Bertambah, Total 8 Orang
Covid-19  2 jam

Kasus Positif Covid-19 di Tulungagung Bertambah Menjadi 7 Orang
Covid-19  1 jam

Lima Warga Terkonformasi Positif Covid-19 di Lumajang
Covid-19  39 menit

Puluhan Rumah dan Hektaran Padi Siap Panen Terendam Banjir
Peristiwa  1 jam



Cuplikan Berita
Jalan Darmo dan Tunjungan Surabaya Ditutup 2 Minggu
Pojok Pitu

Berburu Manisnya Buah Srikaya Puthuk Tuban
Pojok Pitu

Banjir Rendam Tiga Titik Jalan Penghubung Antar Kecamatan
Jatim Awan

Zona Merah di Jatim Menjadi 23 Kabupaten Kota, Kasus Positif 187 Orang
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber