Berita Terbaru :
Santri Covid-19 Terus Dilakukan Pengobatan
Paslon Wajib Paham Tentang Aturan Kampanye
Kekeringan Meluas, 5 Kecamatan Alami Krisis Air Bersih
Anggarkan 3,8 Miliar Untuk Ganti Atap Gor Ki Mageti
Covid Bertambah, Pemkab Ponorogo Siapkan 3 Gedung Shelter Baru
Pemerintah Terus Berupaya Meningkatkan Usaha Mikro Terdampak Covid di Jatim
Kesulitan Air Bersih, Warga Manfaatkan Air Sawah
Cegah Covid-19, Melalui Penyemprotan Disinfektan Diberbagai Tempat Rawan
Ratusan Ribu Ton Gula Petani Numpuk di Gudang
Kepergok Curi Motor Diwilayah Pakisaji, Warga Lowokwaru Jadi Amukan Massa
Peringati Hari Tani, Lapas Bojonegoro Gelar Pelatihan Budidaya Tanaman Hidroponik
Ribuan Warga di 18 Desa Menunda Menerima Bansos Pertanian
Dampak Pandemi Covid-19, Perusahaan Rokok Kurangi Jumlah Produksi
Selain di Ngawi, Warga Madiun Juga Jadi Korban Sasaran Peredaran Upal
Karbak TNI, Santri Mendapatkan Pelajaran Kedisiplinan dan Budidaya Udang Vaname
   

Rumah Dieksekusi, Ibu 3 Anak Menangis di Pengadilan
Metropolis  Sabtu, 14-12-2019 | 18:18 wib
Reporter : Fakhrurrozi
Surabaya pojokpitu.com, Suasana Pengadilan Negeri Surabaya, mendadak heboh saat seorang ibu tiba-tiba menangis. Ibu 3 anak ini meminta keadilan kepada ketua pengadilan agar menunda eksekusi rumahnya di kawasan citraland. Sang ibu berdalih pihak developer telah melakukan pelanggaran hukum, dengan melakukan subrogasi diam-diam.

Suhartatik tak kuasa menahan tangis saat datang ke Pengadilan Negeri Surabaya. Bersama suamuanya, ibu 3 anak ini berniat meminta Ketua Pengadilan Negeri Surabaya, Nursyam, menunda eksekusi rumahnya, yang akan dilakukan selasa 17 Desember mendatang.

Suhartatik menjelaskan, eksekusi rumahnya yang terletak di bukit telaga golf blok ta 6 nomor 27 newton hill citraland ini penuh kejanggalan. Awalnya Suhartatik terlambat membayar KPR ke BCA di tahun 2012 dan tahun 2014, jumlahnya lebih dari Rp 1 miliar terdiri dari hutang kredit sekitar Rp 898 juta  ditambah bunganya sekitar Rp 252 juta.

Saat itu, tiba-tiba bca melakukan perjanjian subrogasi secara diam-diam dengan PT Ciputra, dengan pembayaran lunas hutang kredit Suhartatik. "Saya menilai pengalihan hutang kredit tanpa sepengetahuan dirinya ini merupakan pelanggaran hukum. Apalagi PT Ciputra bukanlah lembaga pembiayaan melainkan developer pengembang perumahan," kata Suhartatik.

Suhartatik berharap pengadilan menunda eksekusi selain di rumahnya ada 3 anak dan ibunya, saat ini dirinya masih menunggu upaya banding di pengadilan tinggi Jawa Timur. (yos)




Berita Terkait

Rumah Dieksekusi, Ibu 3 Anak Menangis di Pengadilan

Tak Bisa Bayar Hutang, Keluarga Menangis Histeris Saat Rumah Dieksekusi
Berita Terpopuler
Karbak TNI, Santri Mendapatkan Pelajaran Kedisiplinan dan Budidaya Udang Vaname
Peristiwa  11 jam

Selain di Ngawi, Warga Madiun Juga Jadi Korban Sasaran Peredaran Upal
Peristiwa  10 jam

Ribuan Warga di 18 Desa Menunda Menerima Bansos Pertanian
Peristiwa  8 jam

Kepergok Curi Motor Diwilayah Pakisaji, Warga Lowokwaru Jadi Amukan Massa
Malang Raya  7 jam



Cuplikan Berita
Janji Datangkan Samurai 500 M, Korban Justru Tertipu Rp 18 M
Pojok Pitu

Diduga Akibat Puntung Rokok Dibuang Sembarangan, Savana Kawah Wurung Terbakar
Pojok Pitu

Hingga Malam Hari Bukit Bentar Terbakar, Petugas Masih Lakukan Pemadaman Manual
Jatim Awan

Kebakaran Gudang Margomulyo, Tiga Isi Gudang Ludes Dilalap Api
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber