Berita Terbaru :
Buron 3 Tahun,Terpidana Kasus Jiplak Merk Antena TV Ditangkap
Kembali Tenaga Kesehatan Meninggal Terpapar Covid 19, Pelepasan Jenasah Diwarnai Isak Tangis
Santri Covid-19 Terus Dilakukan Pengobatan
Paslon Wajib Paham Tentang Aturan Kampanye
Kekeringan Meluas, 5 Kecamatan Alami Krisis Air Bersih
Anggarkan 3,8 Miliar Untuk Ganti Atap Gor Ki Mageti
Covid Bertambah, Pemkab Ponorogo Siapkan 3 Gedung Shelter Baru
Pemerintah Terus Berupaya Meningkatkan Usaha Mikro Terdampak Covid di Jatim
Kesulitan Air Bersih, Warga Manfaatkan Air Sawah
Cegah Covid-19, Melalui Penyemprotan Disinfektan Diberbagai Tempat Rawan
Ratusan Ribu Ton Gula Petani Numpuk di Gudang
Kepergok Curi Motor Diwilayah Pakisaji, Warga Lowokwaru Jadi Amukan Massa
Peringati Hari Tani, Lapas Bojonegoro Gelar Pelatihan Budidaya Tanaman Hidroponik
Ribuan Warga di 18 Desa Menunda Menerima Bansos Pertanian
Dampak Pandemi Covid-19, Perusahaan Rokok Kurangi Jumlah Produksi
   

Balita Miskin Hydrosifalus Butuh Bantuan
Kesehatan  Senin, 09-12-2019 | 03:14 wib
Reporter : Achmad Syarwani
Nganjuk pojokpitu.com, Balita di Nganjuk lahir dalam kondisi kurang beruntung, sejak dua bulan kelahirannya, ia sudah mengidap penyakit hydrosifalus hingga berumru 3 tahun kepala bayi bertambah besar. Ironisnya, belum ada bantuan dari pihak pemerintah dan bupati nganjuk untuk pengobatan balita malang ini.

Penyakit hydrosfalus itu diderita oleh PRL warga Dusun Sambijajar Desa Kwagean Kecamatan Loceret Kabupaten Nganjuk. Sejak berumur  satu bulan kelahirnayya, kepala RRL sudah memiliki kejala hydrosifalus.

Pada tahun 2016, sejak PRL umur 6 bulan sempat diobatkan oleh Bupati Nganjuk periode Taufiqurrahman, bersama Kapolres Nganjuk di RSUD Dokter Sutomo Surabaya.

Namun belum sampai dilakukan operasi, dan prilia di bawa pulang sambil menunggu jadwal operasi. Namun hingga sampai saat ini Dewi Istianah, ibu bayi tidak juga membawa kelambili anaknya ke RSU Dokter Sutomo karena terkedala biaya.

Maklum,  kondisi ekonomi dewi istianah yang serba pas pasan tak mampu untuk mengobatkan seorang diri. Ditambah lagi Dewi Istianah yang bercerai dengan suaminya, membuat ia harus memikul beban sendiri kebutuhan hidupnya.

Karena tak mampu itulah, ia terpaksa menitipkan anaknya ke kakek neneknya prilia di desa, sementara ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Surabaya.

Karena terlambat operasi itulah, prilia sering sering mengalami kejang kejang menahan sakit.

Menurut Sumini, nenek PRL, cucunya pernah diobatkan oleh bidan desa dan Bupati Nganjuk periode Taufiqurrahman ke RSU Dokter Sutomo pada tahun 2016 lalu.

Ia berharap cucunya bisa di operasi agar peyakitnya sembuh dan tidak terjadi kejang kejang bila cucunya merasa sakit dibagian kepala.

"Saya berhadap ada bantuan baik dari pemerintah darah serta para dermawan sehingga cucu saya bisa diobatkan lagi, serta ada bantuan uang transportasi dan baiya hidup selama menjalani perawatan di Surabaya," kata Sumini. (yos)

Berita Terkait

Balita Hidrosefalus Dievakuasi Ke RSUD Nganjuk

Balita Hidrosefalus Dapat Bantuan Kesehatan

Balita Miskin Hydrosifalus Butuh Bantuan

Menjaga Kebersihan Bisa Cegah Bayi Lahir Hidrosefalus
Berita Terpopuler
Karbak TNI, Santri Mendapatkan Pelajaran Kedisiplinan dan Budidaya Udang Vaname
Peristiwa  12 jam

Selain di Ngawi, Warga Madiun Juga Jadi Korban Sasaran Peredaran Upal
Peristiwa  11 jam

Ribuan Warga di 18 Desa Menunda Menerima Bansos Pertanian
Peristiwa  9 jam

Kepergok Curi Motor Diwilayah Pakisaji, Warga Lowokwaru Jadi Amukan Massa
Malang Raya  7 jam



Cuplikan Berita
Janji Datangkan Samurai 500 M, Korban Justru Tertipu Rp 18 M
Pojok Pitu

Diduga Akibat Puntung Rokok Dibuang Sembarangan, Savana Kawah Wurung Terbakar
Pojok Pitu

Hingga Malam Hari Bukit Bentar Terbakar, Petugas Masih Lakukan Pemadaman Manual
Jatim Awan

Kebakaran Gudang Margomulyo, Tiga Isi Gudang Ludes Dilalap Api
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber