Berita Terbaru :
Jumlah Pasien Sembuh 2 Orang, Namun Positif Bertambah 2 Orang
Tradisi Mandi di Laut Saat Lebaran Ketupat
Kabupaten Gresik Siap Menghadapi New Normal Dengan Penguatan Aturan
Masa Transisi New Normal Berlangsung Selama 14 Hari
Jawa Timur Sentuh Angka 4583 Orang Terkonfirmasi Positif Covid 19
Mobil Combat Laboratorium Sudah di Surabaya dan Akan Ditambah 1 Unit
HUT Surabaya, Masyarakat Berziarah Ke Makam Bung Tomo dan Dokter Soetomo
Surabaya Zona Merah, BIN Perpanjang Waktu Rapid Test Massal
Miliki Jiwa Sosial Tinggi, RT/RW di Surabaya Bentuk GERMAS Menangkan Machfud Arifin
Dengan Nasi Tumpeng, Walikota Surabaya Peringati Hari Jadi Surabaya Ke 722
Seorang Nenek Ditemukan Tewas Membusuk Di Dalam Rumah
Satu Keluarga Tersapu Ombak, Satu Orang Tewas, Satu Lagi Hilang
Antisipasi Covid - 19 Pasca Libur Lebaran, Ratusan Karyawan Pabrik Dirapid Test
Kuliner Khas Madura Yang Hanya Dibuat di Hari Ke-7 Setelah Lebaran
Pemudik Positif Covid-19, Keluarga dan Warga Rapid Test
   

Semangat Guru Difabel Mengajar di SLB
Pendidikan  Selasa, 03-12-2019 | 14:00 wib
Reporter : M. Ramzi
Berita Video : Semangat Guru Difabel Mengajar di SLB
Magetan pojokpitu.com, Menjadi penyandang disabilitas tak menyulutkan salah satu guru di Magetan, untuk mengajar. Meskipun dengan gaji kecil hanya Rp 300 ribu perbulan, Surianto, tetap semangat membagi ilmu kepada murid yang juga penyandang disabilitas. Harapannya, agar pemerintah bisa lebih memperhatikan nasibnya.

Surianto (39) merupakan salah satu penyandang disabilitas di Kabupaten Magetan. Sehari-hari, pria yang menderita polio sejak kecil ini menjadi pengajar di Sekolah Luar Biasa (SLB) Panca Bakti, Jalan Kalpataru Magetan.

Sudah 9 tahun profesi menjadi guru ia jalani. Setiap hari, Surianto harus menempuh sejauh 10 kilometer, dari rumahnya di Sugihrejo Kecamatan Kawedanan Magetan, menuju sekolahnya.

Walau kondisi berjalan tidak sempurna, ia tetap rajin mengajar siswa SLB dengan mata pelajaran bahasa indonesia, keterampilan dan mata pelajaran lainnya.

Meskipun honornya terbilang kecil hanya Rp 300 ribu perbulan, namun tak menyulutkan semangatnya untuk menularkan ilmu pengetahuannya kepada siswa-siswinya.

"Honor 300 ribu perbulan, memang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Saya berharap di hari disabilitas internasional, pada 3 Desember 2019, pemerintah lebih memperhatikan nasib saya dan juga kaum disabilitas lainnya," kata Surianto.

Selain honor dari sekolah, Surianto, berharap ada tambahan honor atau uang teransport dari pemerintah kabupaten setempat. (yos/VD:YAN)

Berita Terkait

Semangat Guru Difabel Mengajar di SLB

Puluhan Anak Berkebutuhan Khusus Unjuk Gigi di Peringatan Hari Disabilitas 2018

Mulyono, Penyandang Disabilitas Peduli Lingkungan

Pernikahan Penyandang Cacat di Hari Disabilitas Internasional
Berita Terpopuler
Politisi Golkar : Bu Risma Milik Warga Surabaya, Bukan PDIP
Metropolis  23 jam

Pemudik Positif Covid-19, Keluarga dan Warga Rapid Test
Covid-19  10 jam

Dianggap Pekerja Beresiko, Belasan Jurnalis Ikuti Rapid Test
Peristiwa  23 jam

Hujan Deras Mengguyur Kecamatan Sumawe, Desa Tambakrejo Terendam
Malang Raya  13 jam



Cuplikan Berita
Gelombang Tinggi Terjang Pantai Selatan Lumajang
Pojok Pitu

Puluhan Rumah Warga Pantai Sine Terendam Banjir Rob
Pojok Pitu

Banjir Terjang 5 Kecamatan di Tengah Pandemi Covid-19
Jatim Awan

Dua Truk Pasir Terseret Lahar Dingin Semeru
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber