Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Sosok 

Sebuah keluarga Odha asal tulungagung, bisa kembali diterima dalam pergaulan, setelah hampir satu tahun mengalami diskriminasi dari warga sekitar. Dengan rutin meminum obat ARV, keluarga Odha ini tetap sehat dan bugar dan bekerja seperti biasa. Foto Agus
Kisah Keluarga Odha Melawan Stigma
Senin, 02-12-2019 | 04:25 wib
Oleh : Agus Bondan
Berita Video : Kisah Keluarga Odha Melawan Stigma
Tulungagung pojokpitu.com, Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang HIV Aids serta stigma yang masih kuat terhadap Odha, berdampak buruk bagi penderitanya. Mereka masih sering menjadi korban diskriminasi.

Di rumah sederhana semi permanen, Juni dan istrinya Dasmi, serta anak semata wayangnya yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak, menjalani hari-harinya berdamai dengan virus HIV. Pada tahun 2017 lalu, keluarga warga Desa Sendang, Kecamatan Sendang, Tulungagung terdeteksi mengidap HIV. Hingga sekitar satu tahun, keluarga ini mengalami diskriminasi, dan merasa terkucilkan dari pergaulan.

Namun seiring bertambahnya pengetahuan masyarakat, bahwa penularan HIV tidak semudah seperti yang mereka pikirkan sebelumnya. Kini keluarga Odha ini bisa kembali diterima dalam pergaulan sehari-hari. "Sejak divonis mengidap HIV, keluarga kami sempat kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan," kata Juni.

Dengan memanfaatkan dana program bantuan yang diperuntukkan bagi anaknya, kini keluarga Odha ini bisa berwira usaha membuat batako.

Menurut Ifada Nur Rohmaniah, Pengelola Program KPA Tulungagung, sejak didampingi penggiat HIV-Aids, keluarga Juni terus berupaya melawan stigma terhadap Odha. Mitos selama ini Aids adalah penyakit kotor, mudah menular hanya dengan bersentuhan, atau sekedar berbagi alat makan dengan Odha terus diluruskan. HIV termasuk virus yang sulit menular, karena virus ini akan mati beberapa saat di udara bebas. Virus hanya bisa menular melalui darah ke darah, hubungan seksual, dan jarum suntik.

"Dengan rutin mengkonsumsi obat anti retro viral, ARV perkembangan virus HIV dapat ditekan hingga tidak akan menjadi Aids. Berkat rutin minum obat tersebut, kini Juni dan keluarga tampak sehat dan bugar. Bahkan dalam sehari bersama istrinya mampu mencetak sekitar 150 buah batako," kata Ifada Nur Rohmaniah.

Selama ini KPA Tulungagung terus melakukan program mitigasi dampak HIV-Aids. Sehingga efek-efek buruk, seperti pelakuan diskriminasi Odha dapat diminimalisir. "Tidak hanya pendampingan dan mendorong Odha agar patuh ARV, namun Odha juga diberikan bantuan usaha agar produktif . Serta di ajak untuk mengkampanyekan bahaya HIV-Aids," tambah Ifada Nur Rohmaniah.

Dari tahun 2006 hingga 2019, jumlah penderita HIV-Aids di Tulungagung sebanyak 2.543 orang. Sedangkan di tahun 2019 mulai Januari hingga Agustus, sebanyak 262 orang positif terpapar virus HIV-Aids. Virus tersebut banyak di idap oleh kelompok usia produktif, usia 25 hingga 49 tahun sebanyak 1.786, dan anak-anak di bawah usia 4 tahun sebanyak 33 anak. (pul/VD:YAN)

Berita Terkait


Kisah Keluarga Odha Melawan Stigma

Peringati Hari Aids Sedunia, Puluhan Para Medis Bagi Bunga

Puluhan Mahasiswa Bagikan Bunga Pada Pengguna Jalan di Peringatan Hari Hiv Aids

Puluhan Komunitas Gelar Aksi Damai Peringati Hari Hiv Aids se Dunia


Malam Renungan AIDS Hilangkan Diskriminasi Stigma Terhadap ODHA

PSK Terjaring, Petugas Satpol PP Lakukan Cek Darah HIV AIDS

Di Rumah Sakit Ini 50 Penderita AIDS Baru Masuk Tiap Bulan

Dinkes Jatim Temukan 200 Penderita AIDS di Kediri

Sponsored Content

loading...
Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber