Berita Terbaru :
Operasi Zebra Digelar Serentak Dengan Pembagian Bunga dan Coklat
78 Kg Sabu-Sabu dan Puluhan Ribu Pil Ekstasi, Koplo dan Happy Five Dimusnahkan
Usai Apel Pagi PNS Dilingkungan Pemkab Gresik Rebutan Buah-Buahan
64.849 Peserta BPJS Kesehatan Akan Dinonaktifkan
Pemilik Tambang Tewas Tertimbun Longsoran
69 Kelurahan Di Surabaya Nol Kasus Covid 19
Perempuan MKGR Target 10 Ribu Untuk Kemenangan Mahfud Arifin
Belajar 12 Tahun Menjadi Prioritas Utama Paslon Er-Ji
Haul KH Abdul Hamid, Dilakukan Virtual dan Membatasi Jamaah Hadir
FK3 Resmi Cabut Dukung Kelana Beralih Dukung Paslon Nomor Urut 1
Diduga Peninggalan Kerajaan Majapahit, Digali Secara Liar Oleh Oknum dan Kini Dikubur Kembali
Dampak Positif Covid, Merebaknya UMKM
Waspada Banjir, Kerja Bhakti Bersihkan Sungai Dari Sampah
Pelanggar yang Terjaring Operasi Zebra Tidak Ditilang Tetapi Dihipnoterapi
Kantor PLN Ponorogo Tutup Akibat Covid 19
   

Tradisi Pariopo Hodo Dipercaya Dapat Menurunkan Hujan
Tapal Kuda Dan Madura  Minggu, 24-11-2019 | 03:03 wib
Reporter : Andi Nurcholis
Bertempat di Dusun Pariopo, Desa Bantal, Kecamatan Asembagus, Situbondo, masyarakat setempat menggelar festival pariopo hodo. Foto: Andi Nurcholis
Situbondo pojokpitu.com, Masyarakat Dusun Pariopo Desa Bantal Kecamatan Asembagus Situbondo, memiliki ritual unik di saat musim kemarau panjang. Adalah ritual hodo , dimana tradisi ritual ini di percaya bisa menurunkan hujan. Dalam festival ritual hodo, merupakan perpaduan antara nilai agama islam serta kebudayaan masyarakat Madura dan Jawa. Persembahan sesaji disertai pembacaan doa dipimpin tokoh adat setempat untuk meminta hujan.

Budaya hodo sendiri sudah ada dua abad lebih ini, bagi masyarakat pariopo ritual hodo digelar setiap musim kemarau dan meminta hujan segera turun. Konon, budaya hodo merupakan perpaduan antara nilai agama Islam, serta kebudayaan masyarakat Madura dan Jawa.

Bagi masyarakat setempat, upacara pariopo hodo merupakan kegiatan sakral yang diyakini dapat memanggil hujan. Istilah kata hodo berasal dari bahasa Madura, Do Hodo yang artinya di atas langit masih ada langit.

Sekretaris Daerah Kabupaten Situbondo, Syaifullah, mengatakan, Pemkab melalui Dinas Priwisata, menfasilitasi kegiatan festival pariopo hodo ini karena masyarakat Dusun Pariopo di Desa Bantal masih terus melestarikan kebudayaan leluhur. "Kebudayaan hodo sudah ada sejak tahun 1800 dan hingga kini masih dilestarikan," kata Syaifullah.

Hadi Priyatno, anggota DPRD Situbondo, menjelaskan, tradisi yang bisa dipertahankan ini, pihaknya akan terus mendukung pemerintah daerah untk bisa melestarikan seluruh budaya Kabupaten Situbondo.

Ritual hodo biasanya dilakukan antara bulan November  dan Oktober. Ritual hodo hanya dilaksanakan disejumlah tempat yang dikeramatkan, seperti di gunung atau di sumber mata air. (yos)

 






Berita Terkait

Tradisi Pariopo Hodo Dipercaya Dapat Menurunkan Hujan

Berharap Segera Turun Hujan, Warga Ritual Dengan Cara Menggelar Tari Tarian

Tradisi Mandi Kucing, Ritual Petani di Jombang Meminta Hujan
Berita Terpopuler
Obyek Wisata Budug Asu Bisa Lewati 2 Jalur Berbeda
Malang Raya  13 jam

Hasil Otopsi Korban Pembunuhan Ada Tindak Kekerasan
Peristiwa  7 jam

Tanaman Padi Rusak Diterjang Angin Kencang
Peristiwa  9 jam

Tingkatkan Efektif Sekolah Daring di Sekolah Luar Biasa
Malang Raya  12 jam



Cuplikan Berita
Kebakaran Pemukiman Padat Penduduk, Dua Rumah Petak Ludes Terbakar
Pojok Pitu

Diduga Korsleting Listrik, Dua Kafe di Area Alon-Alon Kota Terbakar
Pojok Pitu

Banjir Lahar Ganggu Aktivitas Warga dan Penambang
Jatim Awan

Polisi Amankan 169 Orang Dalam Aksi Demo Lanjutan
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber