Berita Terbaru :
Menganggur, Seorang Pria Nekat Curi Sepeda
DPRD Surabaya Sayangkan Kebijakan Wajib Rapid Tes Terlalu Mendadak
Berkunjung ke Rumah Ibadat Wajib Patuhi Protokol Kesehatan
Percepatan Penyidikan Pembakaran Mobil Via Vallen, Pelaku Pije Masih Ditahan
Sempat Diburu, 3 Pelaku Tik-Tok di Jembatan Suramadu Akhirnya Diamankan Polisi
Sehari 100 Perawat Terpapar Covid, Surabaya dan Sidoarjo Paling Banyak
Begini Kata Gubernur tentang Wacana Pasien Covid-19 Dipindah ke Pulau Galang
Pusat UTBK di Surabaya Sediakan Rapid Test Gratis Sebelum Ujian
Guru dan Siswa SMK Buat Mobil Listrik Untuk Pelaku UMKM
Golkar Akan Definitifkan Calon di 9 Kabupaten Kota
Rumah Sakit Surabaya Mulai Adakan Rapid Test Untuk Peserta UTBK SBMPTN
Adik Via Vallen Lapor Pencemaran Nama Baik di Medsos
Antisipasi Konflik, Bupati Lumajang Cek Jalan Tambang
Empat Rumah Ludes Terbakar Akibat Arus Pendek Listrik
Rekomendasi PKB di Pilkada 2020 Jatuh ke Keturunan Raja dan Sosok Kyai
   

Polemik Salam Beda Agama, Wamenag Menyerahkan Pada Ulama dan MUI Pusat
Peristiwa  Selasa, 12-11-2019 | 18:06 wib
Reporter : Saiful Mualimin
Jombang pojokpitu.com, Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, menyerahkan polemik himbauan umat islam dan para pemangku kebijakan untuk menghindari pengucapan salam dari agama lain ke ulama dan MUI pusat. Tokoh agama dan komisi fatwa diminta melakukan kajian dan menelaah untuk menghasilkan pemahaman yang sama.

Pernyataan ini disampaikan oleh Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Saadi, saat menghadiri  acara silaturrahim dengan alim ulama di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. 

Wamenag hadir dalam pertemuan menggantikan Menteri Agama yang batal  datang karena ada kegiatan rapat di Jakarta. Menurut Zainut Tauhid Saadi, para tokoh agama harus memahami konteks dari imbauan MUI Jawa Timur tersebut. Sehingga tidak perlu mempermasalahkan. Para tokoh agama diharapkan bisa berkumpul untuk membahas persoalan tersebut sehingga tidak terjadi  kesalahfahaman.

"Selain meminta tokoh masyarakat  untuk melakukan kajian MUI pusat, dalam hal ini komisi fatwa saat ini juga sedang melakukan kajian dan menelaahnya. Pasalnya larangan yang disampaikan oleh MUI Jatim ini sifatnya himbauan bukan fatwa," kata Zainut Tauhid.

Sementara KH Salahudin Wahid, Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, menyerahkan hal ini pada masing masing  tokoh dan pejabat yang bersangkutan.  
"Mereka boleh mengikuti maupun   tidak mengikuti himbauan yang dikeluarkan MUI Jatim, yang terpenting himbuan MUI ini tidak diperdebatkan yang bisa  pemicu perpecahan," kata Gus Sholah.

Sebelumnya Majelis Ulama Indonesia Jawa Timur Mengimbau umat islam dan para pemangku kebijakan atau pejabat untuk menghindari pengucapan salam dari agama lain saat membuka acara resmi.  

Imbauan tersebut termaktub dalam surat edaran bernomor 110/MUI/JTM/2019 yang ditandatangani oleh Ketua MUI Jatim KH. Abdusshomad Buchori dan Sekretaris Umum Ainul Yaqin. (yos)



Berita Terkait

Polemik Salam Beda Agama, Wamenag Menyerahkan Pada Ulama dan MUI Pusat
Berita Terpopuler
Kembali Dibuka, Tempat Wisata di Blitar Terapkan Protokol Kesehatan
Mlaku - Mlaku  21 jam

Tugu Polisi Monumen Perjuangan Polri Karesidenan Besuki Akan Direnovasi
Tempo Doeloe  20 jam

Curi Bawang Merah, Pelaku Dimassa dan Motor Dibakar
Peristiwa  7 jam

Hama Ulat Mulai Serang Tanaman Jagung
Ekonomi Dan Bisnis  18 jam



Cuplikan Berita
Dua Kadis Terpapar Covid-19, Kantor Terpaksa Dilockdown
Pojok Pitu

Pemkot Surabaya Tepis Isu Pemecatan Kadis DKRTH Surabaya
Pojok Pitu

Diserang Tikus, Petani Ponorogo Resah
Jatim Awan

Rumah Pegawai Lapas Mojokerto Jadi Sasaran Pelemparan Bom Molotov
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber