Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Tempo Doeloe 

Ada Bencet di Mushollah Kuno Raudatul Jannah di Bibis Gg I Surabaya.
Senin, 04-11-2019 | 22:51 wib
Oleh : Nanang Purwono
Surabaya pojokpitu.com, Kesibukan di jalan Karet sisi selatan membingkai sifat kerja keras warga setempat dalam produksi ban bekas menjadi barang bermanfaat, seperti tempat sampah. Belum lagi ditambah aktivitas bongkar muat barang barang ekspedisi yang seolah tidak pernah berhenti sepanjang hari. Maklum, ini semua menjadi tumpuan ekonomi warga demi pemenuhan kebutuhan sehari hari.

Di antara kesibukan warga di jalan Karet ini, konon masih tersimpan mutiara Islami sebagai wujud peradaban Islam di kampung Bibis di awal abad 19. Adalah mushollah Raudatul Jannah, yang dibangun pada tahun 1810 M atau 1231 H di tepi sungai Kalimas. Pertanda jaman ini sebagaimana terlihaat pada inskripsi di atas pengimaman yang tertulis dalam bahasa Arab. Ya, usianya sudah lebih dari 200 tahun. Tahun ini (2019) usianya genap 209 tahun. Ketuaan, yang membuatnya layak menjadi sebuah bangunan cagar budaya.

Tidak hanya dilihat dari sudut pandang fisik sebagai sebuah bangunan kuno, tapi dari sudut pandang sosio-kultural, bangunan mushollah ini bertutur tentang bagaimana Islam berkembang di daerah ini. Menurut Rifai, warga Bibis Gg I yang pernah menjadi ketua RW di lingkungan Bibis bahwa kampungnya pada jamannya adalah kampung para kiai. Bahkan rumahnya, yang bergaya klasik, adalah bekas rumah (pernah ditempati) Kiai Utsman Al-Ishagy (ayahanda Kiai Ahmad Asrori, pengasuh Pondok Pesantren Al-Fitrah, Kedinding Surabaya).

Bibis Gg I pernah menjadi salah satu pusat pergerakan organisasi Islam di Surabaya. Organisasi Islam Nahdatul Oelama (NO) dan Muhammadiyah pernah tumbuh dan berkembang di kampung ini. Mushollah Raudatul Jannah (Bibis Gg I) adalah pusat kegiatan NO dengan pemuda Ansornya. Rifai, ketika masih kecil, adalah salah satu anggota pemuda Ansor di kampungnya.

Namun, jauh sebelum ia tergabung dalam organisasi Ansor, kampungnya sudah menjadi geliat peradaban Islam. Angka tahun, yang terdapat di dalam mushollah, menjadi petunjuk bahwa Islam telah bertumbuh di Bibis sejak tahun 1810 M. Sementara di Bibis Gg III terdapat mushollah (kini masjid) Muhammadiyah.

Yang menarik dari mushollah kuno Raudatul Jannah di Bibis Gg I ini adalah masih adanya bekas alat penanda waktu tempo dulu, yang umumnya disebut BENCET. Tidak banyak yang tau dimanakah alat ini berada.

Rifai yang didampingi oleh pengurus mushollah H. Fausan menunjukkan dimana bencet itu berada. Penempatan bencet ini ada di bagian tembok luar mushollah sebelah barat. Disana masih berdiri sebatang besi bundar diameter 1,5 cm dan tinggi 15 cm, yang bayangannya bisa dipakai untuk menunjukkan saat saat datangnya sholat Dhuhur dan Ashar. Bencet ini berdiri pada sebuah pilar persegi empat, yang menyatu pada tembok mushollah sisi barat.

Bencet dikenal sebagai penanda waktu sholat. Ketika bangsa Indonesia masih berada dalam cengkeraman pemerintahan kolonial Belanda, praktis angka buta huruf kala itu cukup tinggi. Kendati demikian, umat Islam sudah mampu menentukan waktu yang tepat untuk menunaikan ibadah sholat. Selama ratusan tahun, mereka menggunakan jam bencet sebagai penentunya.

Menurut H. Fausan penampang bencet di mushollah Raudatul Jannah ini dulunya bisa dilihat dari dalam mushollah karena pernah terdapat jendela kecil untuk melihat bencet. "Kini lobang jendela untuk melihat bencet ini sudah ditutup," kata H. Fausan. Rifai berharap jika mushollah ini ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya maka pelestarian secara maksimal bisa dilakukan, termasuk merevitalisasi bencet.

Mushollah berlantai dua, di usianya ke 209 ini, masih memiliki konstruksi dan matrialan bangunan yang relatif masih utuh, mulai dari lantai yang bermarmer, dua pintu kembar di sisi timur (pintu utama) dan masing- masing satu pintu samping di selatan dan utara, serta loteng (lantai dua) yang menjadi kamar persinggahan.

Sepengatahuan Rifai, mushollah ini mulai dulu hingga sekarang masih memiliki fungsi sebagai sebuah persinggahan selain fungsi tempat ibadah umat Islam. "Banyak orang Madura yang singgah di mushollah ini," jelas Rifai. Ia menunjukkan bahwa di atas langit-langit di lantai dua masih terdapat beberapa benda bersejarah, seperti beberapa pucuk tombak termasuk adanya seperangkat peralatan drumband yang pernah dipakai oleh pemuda Ansor ketika ia masih kecil pada tahun 1960-an.

Kekunoan kampung Bibis Gg I ini tidak hanya pada penampakan mushollahnya, tapi beberapa rumah di dalam gang juga banyak bercerita tentang kemegahan dan keagungan peradaban Bibis tempo dulu. Salah satunya adalah rumah Rifai, yang dulunya adalah rumah Kiai Utsman Al-Ishagy. Bibis Gg I, yang berada di jalan Karet, layak menjadi kampung bersejarah pendukung untuk menunjang upaya revitalisasi jalan Karet yang selama ini dilakukan oleh pemerintah kota Surabaya. (yos)

Berita Terkait


Ada Bencet di Mushollah Kuno Raudatul Jannah di Bibis Gg I Surabaya.


Sponsored Content

loading...
Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber