Berita Terbaru :
Festival Inovasi Disrupto Kembali Digelar Secara Virtual
Tabung Haji Umroh Siap Ringankan Beban Jamaah Saat Pandemi COVID-19, Begini Strateginya
Penyebaran Covid-19 di Desa Wage Diredam Dengan Tracing Lingkungan
Air Bengawan Solo Berwarna Merah Kehitaman, Diduga Tercemar Dari Hulu
Pemancing Tersangkut Karang, Lalu Digulung Ombak
Ini Patut Menjadi Perhatian, Biker Tewas Dilindas Truk
Di Tengah Pandemi Covid 19, Ekspor Hasil Perikanan Ditarget Meningkat
Selama Pandemi Corona Sudah 5 Nakes Sidoarjo Meninggal Dunia
Pemkab Bondowoso Akan Bangun Rumah Janda Tua Makan Daun Talas
Gandeng Kampus, KPU Kota Blitar Bentuk Sekolah Demokrasi
Bayi Perempuan Ditemukan Tewas di Tepi Pantai Tuban
DKPP Pecat Angota KPU Surabaya Kholid Asyadulloh
Bupati Lumajang Kembali Cekcok Dengan Pengawas PT Luis
Dasar Bejat ! Kakek 68 Tahun di Blitar Cabuli Balita 4 Tahun
8 Pelaku Pemerkosa Janda Muda di Kokop Bangkalan Akhirnya Dibekuk
   

Wacana Larangan Bercadar untuk ASN, Ini Reaksi Syamsi Sarman
Peristiwa  Minggu, 03-11-2019 | 23:20 wib
Reporter :
pojokpitu.com, Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Tarakan Syamsi Sarman angkat bicara terkait wacana larangan bercadar dan celana cingkrang di instansi pemerintah.

Ia menilai pernyataan Menteri Agama (Menag) Jenderal (Purn) Fachrul Razi, itu seharusnya tidak diungkapkan ke publik.
Meski hal tersebut merupakan wacana, namun perlu pertimbangan yang matang agar tidak memicu perpecahan di kalangan umat beragama.

Menurutnya cadar atau nikab sebatas cara berpakaian. Cadar menurut mazhab tertentu adalah wajib sebagai perintah agama. Walaupun, kata dia, memang sejumlah ulama berbeda pendapat memandang hal ini.

"Pun dalam memandang celana cingkrang. Ada yang memandang merupakan hal yang wajib, ada yang berpendapat celana cingkrang adalah sunnah. Saya kira dengan kondisi perbedaan-perbedaan ini Menag mengkaji dulu, melihat masalah ini. Saya tidak mengatakan setuju atau tidak setuju, tetapi sebaiknya harus dikaji lagi lebih dalam dan pengkajian itu sebaiknya melibatkan ahli agama," ujar Syamsi, (1/11).

Meski wacana pelarangan ini didasari atas aspek keamanan, namun hal tersebut tentunya melibatkan pendapat pemuka agama agar nantinya bisa diterima oleh publik. Selain itu, menurutnya meski nantinya diterapkan, pemerintah dapat menyampaikan argumen yang menyejukkan.

"Cadar ini kan wajahnya tidak kelihatan dalam artian sulit dikenali sehingga hal itu dikaitkan dengan penikaman mantan Menkopolhukam Bapak Wiranto (aksi teror). Jadi hal ini kan masih didasari dari aspek keamanan. Mari dikaji untuk melihat aspek lainnya. Mungkin perlu melibatkan ahli-ahli agama dan ahli agama itu juga kalau bisa dari berbagai kelompok keagamaan. Sehingga kalau nanti ada keputusan, keputusan itu menyejukkan semua pihak lah," ujar mantan wakil ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tarakan ini.

Syamsi juga mengatakan MUI pusat juga telah meminta pengkajian lebih dalam dengan melibatkan tokoh agama agar dapat memberikan masukan secara hukum.

"Walau bagaimana pun, cadar itu masuk dalam kategori pakaian tetapi berkaitan dengan keyakinan seseorang. Ada kelompok ormas yang membolehkan, artinya tidak wajib dan tidak melarang. Adapula ormas yang menganggap hal tersebut wajib, adapula ormas yang menganggap itu tidak wajib. Jadi dari ormas Islam sendiri, paham keagamaannya berbeda-beda, sehingga kami mengharapkan kalau usulan itu akan diterapkan, maka sebaiknya melalui pengkajian," tambahnya. Seharusnya, Menag tak membuat hal kontroversial di awal masa jabatan.

"Apalagi Menag kan masih baru dalam menjalankan amanah dari Presiden Jokowi. Sebaiknya jangan membuat hal-hal yang dianggap kontroversial. Cobalah mengajak duduk pemuka agama seperti MUI, NU, Muhammadiyah, dan organisasi lainnya sebelum mewacanakan kebijakan itu. Tidak gegabah dalam mengambil keputusan, karena itu bisa menimbulkan perpecahan," imbuhnya.

Mengenai celana cingkrang atau di atas mata kaki, ia berpendapat jika kerapihan merupakan hal yang relatif. Sehingga menurutnya, hal tersebut tidak dapat dinilai hanya dengan melihat satu sisi saja.

"Kalau pribadi saya, celana cingkrang sama sekali tidak menganggu. Justru kalau celananya sampai ke tanah itu justru mengganggu menurut saya. Tentunya kalau dia bekerja di bidang kesehatan itu tidak sehat karena kain celana yang terseret di lantai bisa menyeret kuman dan bakteri. Jadi kalau berbicara kenyamanan, keindahan dan kerapian itu relatif," tukasnya.

"Keputusan Menteri (Menag) tidak akan berdampak pada yang memakai cadar, karena yang memakai tidak banyak. Tetapi hal ini akan berdampak pada psikologis umat Islam, kenapa sih urusan pakaian juga diatur Pak Menteri? Jadi ini lebih kepada psikologis dalam menyikapi aturan itu," tambahnya lagi.(zac/shy/end)



Berita Terkait

Wacana Larangan Bercadar untuk ASN, Ini Reaksi Syamsi Sarman
Berita Terpopuler
Pemkab Bondowoso Akan Bangun Rumah Janda Tua Makan Daun Talas
Rehat  3 jam

Selama Pandemi Corona Sudah 5 Nakes Sidoarjo Meninggal Dunia
Kesehatan  3 jam

Ini Patut Menjadi Perhatian, Biker Tewas Dilindas Truk
Peristiwa  2 jam

Pemancing Tersangkut Karang, Lalu Digulung Ombak
Malang Raya  2 jam



Cuplikan Berita
Viral Hasil Tes Rapid Peserta UTBK Berubah
Pojok Pitu

Dokter dan Satpam Postif Covid 19, Puskesmas Wates Mojokerto Ditutup Sementara
Pojok Pitu

Delapan Terkena Corona, Membuat Ribuan Karyawan PT KTI Diliburkan
Jatim Awan

Ternyata Satu Tersangka Pengambilan Paksa Jenazah Positif Covid 19
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber