Berita Terbaru :
Pemerintah Akan Buka 9 Sektor Ekonomi Dampak Covid 19
Duh, Remaja Cantik Gantung Diri di Pintu Rumahnya
Begini Persiapan New Normal Pendidikan di Kabupaten Kediri
Pamakaman Pasien PDP Corona di Lereng Bukit Bentar
Buka Tutup, Al Akbar Surabaya Kembali Gelar Sholat Jumat
Ichsan Asal Tuban Bunuh Diri Dengan Cara Potong Alat Kelamin
Ratusan Orang Ikut Rapid Tes di GOR Sidoarjo
5 Orang Kontak Erat Dengan Sekeluarga Meninggal Dunia Telah Dikarantina
Rapid Test Massal, 52 Warga Reaktif Langsung Dibawa ke Hotel
Gema Sholawat Iringi Kepulangan Pasien Covid-19 Sembuh
Dimasa Pandemi Covid 19 Jumlah Laka Turun Drastis
Pengantin Bahagia Meski Harus Menikah di Posko Covid 19
Polisi Pastikan Istri Meninggal Karena Dibunuh Suami
Saling Ejek, Dua Kakek Terlibat Duel, Satu Tewas Dibacok
Menuju New Normal , 12 Pasien Covid-19 Sembuh
   

Berharap Turun Hujan, Warga Pamekasan Lakukan Tradisi Okol
Rehat  Minggu, 03-11-2019 | 01:18 wib
Reporter : Moh. Hasan
Pamekasan pojokpitu.com, Musim kemaru berkepanjangan yang masih melanda Pulau Madura, membuat warga Desa Akkor, Kecamatan Palengaan, Pamekasan, Madura, Jawa Timur, menggelar tradisi gulat tradisional khas madura atau yang biasa disebut okol, yakni upacara adat untuk mengharapkan turun hujan.

Kemarau yang berkepanjangan menyebabkan warga Kecamatan Palengaan dan sekitarnya, kekurangan air bersih. Hal tersebut membuat warga berharap hujan dan tidak kesulitan untuk mendapatkan air, sehingga mereka menggelar tradisi okol.
 
Bertempat di sebuah lahan kering di Desa Akkor, Kecamatan Palengaan, Pamekasan, Madura Jawa Timur. Ratusan warga dari 7 kecamatan di Pamekasan, berkumpul untuk menggelar tradisi okol untuk mengharap turunnya hujan.
 
Dalam ritual upacara adat minta hujan ini, nantinya akan ada dua orang petarung, untuk bergulat, dengan dipimpin oleh dua orang wasit atau yang biasa disebut buto.
 
Buto juga bertugas menyeleksi masing-masing pemain okol, yaitu dengan menghadapkan dua petarung terpilih, dan jika antar petarung sudah dianggap seimbang maka pertarungan dimulai.
 
Zainal Abidin, panitia, mengatakan, pertarungan okol hampir mirip dengan olah raga gulat, dimana para pemain saling mengadu kekuatan untuk menjatuhkan lawan. 

"Petarung dinyatakan kalah jika salah satu petarung terjatuh dengan punggung menyentuh tanah, sementara petarung yang berhasil menjatuhkan lawannya dinyatakan menang," kata Zainal Abidin. 
 
Dengan pertarungan okol ini, para petarung dan warga berharap hujan akan turun deras, seperti derasnya keringat para petarung.
 
Kedua pemain okol baik yang menang maupun yang kalah mendapatkan hadiah, yang menang mendapatkan hadiah sebuah kaos dan air mineral. Sedangkan yang kalah hanya mendapatkan hadiah satu bungkus rokok dan air mineral. (yos)

Berita Terkait

Tradisi Pariopo Hodo Dipercaya Dapat Menurunkan Hujan

Berharap Turun Hujan, Warga Pamekasan Lakukan Tradisi Okol

Adu Pecut, Tradisi Tiban Ritual Minta Hujan Warga Banyuwangi

Berharap Segera Turun Hujan, Warga Ritual Dengan Cara Menggelar Tari Tarian
Berita Terpopuler
Cegah Klaster Baru, Ribuan Nelayan dan ABK Jalani Rapid Tes
Peristiwa  8 jam

Duh, Remaja Cantik Gantung Diri di Pintu Rumahnya
Metropolis  1 jam

Ichsan Asal Tuban Bunuh Diri Dengan Cara Potong Alat Kelamin
Metropolis  2 jam

Pamakaman Pasien PDP Corona di Lereng Bukit Bentar
Peristiwa  2 jam



Cuplikan Berita
Dua Balita Warga Ngagel Reaktif Positif Covid 19
Pojok Pitu

Satu Keluarga Tersapu Ombak, Satu Orang Tewas, Satu Lagi Hilang
Pojok Pitu

Ini Syarat Kuota Khusus Untuk Putra-Putri Tenaga Kesehatan Covid 19
Jatim Awan

Klaster Gowa Menambah Jumlah Kasus Positif Covid-19 di Bondowoso
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber