Berita Terbaru :
Muncul Transmisi Lokal, Pasar Peterongan Ditutup
Positif Covid 19, Warga Peneleh Dikarantina
Pemkab Minta Bumdes Selaku Penyedia Beras Agar Selalu Jaga Mutu
Penjual Beli Motor Tewas Dibondet Saat Tidur Bersama Anak dan Isrtinya
Mangkir Jaga Check Poin, PNS Nyabu Ditangkap
Setan Sembunyi
Pasangan Suami Istri Tewas di Rumah Saudaranya
Tukang Sablon Pakai Ganja Selama Empat Tahun Jalani Persidangan Online
Ratusan Warga Arak Pasien Covid Sembuh Keliling Kampung
Populer di Play Store, Aplikasi Anti-China Sudah Dihapus Google
Merasa Tidak Adil, Warga Laporkan Bupati Ke DPRD
Penjualan Moge Anjlok, Triumph Rumahkan 400 Karyawan
Amankah Makan di Luar Rumah Saat Pandemi Corona?
Total 1.300 Calon Jamaah Haji Asal Tuban Gagal Berangkat
Miliki Bondet, Seorang Pria Lumajang Ditangkap Polisi
   

Warga Gunakan Jembatan Bambu Diatas Sungai Bengawan Solo Saat Musim Kemarau
Pantura  Selasa, 22-10-2019 | 21:10 wib
Reporter : Avrizal Ilmi
Bojonegoro pojokpitu.com, Musim kemarau warga di Kabupaten Bojonegoro, menggunakan jembatan bambu diatas sungai bengawan solo sebagai jalur alternatif untuk beraktifitas sehari-hari. Hal ini dilakukan selama musim kemarau, akibat debit sungai bengawan solo mengering.

Warga di Desa Trucuk dibantaran sungai bengawan solo, membuat jembatan alternatif  dari bahan bambu, yang panjangnya mecapai 100 meter untuk menyebrangi sungai bengawan solo sebagai jalur alternatif, untuk beraktifitas menuju kecamatan kota bojonegoro.

Hal ini dilakukan guna mempermudah akses penyebrangan warga yang melintas sungai bengawan solo saat musim kemarau. Dangkalnya sungai benagwan solo ini terlihat oleh aktifitas warga yang sedang mencari ikan di tengah bngawan solo, yang hanya setinggi lutut orang dewasa.

Jembatan ini dibangun sebagai pengganti perahu penyebrangan sejak 6 bulan lalu dan masih kuat hingga saat ini. Sebagai akses alternatif paling cepat yang digunakan warga Desa Trucuk menuju ke kawasan Kota Bojonegoro.

Terlihat warga bergantian dari barat ke timur ataupun sebaliknya menyeberangi jembatan yang lebarnya sekitar  1  meter. Karena lebar jembatan hanya muat satu kendaraan , maka penyebrangan dari arah berlawanan harus rela bergantian menyebrang.

Salah satu warga, M.Safii, mengaku tidak takut dan sudah terbiasa melewati akses jalan jembatan bambu ini. Saat musim hujan, jembatan ini akan diambil oleh warga. kemudian warga bantaran sungai menggunakan perahu sebagai transportrasi penyebrangan. (yos)

Berita Terkait

Memasuki Musim Pancaroba, 66 Desa di Trenggalek Masih Alami Kekeringan

Kemarau Berkelanjutan, Sumber PDAM di Pacitan Mengering

Warga Kabupaten Jember Kesulitan Air Bersih

Petani Memecah Batu di Sawah yang Masih Kering
Berita Terpopuler
Merasa Tidak Adil, Warga Laporkan Bupati Ke DPRD
Hukum  5 jam

Pasangan Suami Istri Tewas di Rumah Saudaranya
Peristiwa  2 jam

Penjual Beli Motor Tewas Dibondet Saat Tidur Bersama Anak dan Isrtinya
Peristiwa  1 jam

Bejat, Begini Wajah Napi Asimilasi Yang Cabuli Anak Calon Istri
Peristiwa  12 jam



Cuplikan Berita
Dua Balita Warga Ngagel Reaktif Positif Covid 19
Pojok Pitu

Satu Keluarga Tersapu Ombak, Satu Orang Tewas, Satu Lagi Hilang
Pojok Pitu

Ini Syarat Kuota Khusus Untuk Putra-Putri Tenaga Kesehatan Covid 19
Jatim Awan

Klaster Gowa Menambah Jumlah Kasus Positif Covid-19 di Bondowoso
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber