Berita Terbaru :
Bupati Intruksikan Tegas Lakukan Pembubaran Tempat Berkumpulnya Warga
KPU Butuh Tambahan Anggaran Rp 9 Miliar Untuk Penerapan Protokol Kesehatan
Cafe Kopi yang Ditemukan 6 OTG Ditutup Sementara
Harga Empon-Empon Anjlok di Pasar Tradisional
Pemegang Senpi di Polres Malang Diperiksa
   

Kesenian Tiban, Tradisi Masyarakat Tulungagung Saat Kemarau Panjang
Rehat  Selasa, 15-10-2019 | 20:21 wib
Reporter : Agus Bondan
Berita Video : Kesenian Tiban, Tradisi Masyarakat Tulungagung Saat Kemarau Panjang
Tulungagung pojokpitu.com, Melestarikan tradisi nenek moyang, puluhan warga di Tulungagung menggelar kesenian Tiban. Kesenian ekstrem yang menampilkan dua orang saling beradu cambuk ini, biasa digelar saat musim kemarau berkepanjangan. Dalam kebudayaan masyarakat dahulu, Tiban merupakan seni ritual meminta hujan, agar daerah mereka segera bebas dari kekeringan.

Masyarakat Jawa dikenal memiliki beragam tradisi budaya yang unik. Salah satunya adalah seni tradisi Tiban. Kesenian adu nyali dan ketangkasan beradu cambuk ini, banyak berkembang di wilayah selatan Jawa Timur.

Meski tidak lagi dianggap sebagai ritual meminta hujan, namun kesenian tiban saat ini tetap digemari masyarakat. Seperti yang dilakukan puluhan warga Desa Kates, Kecamatan Kauman, Tulungagung ini. Di musim kemarau saat ini, mereka menggelar seni Tiban di lapangan desa setempat.

Antusias masyarakat terhadap seni Tiban cukup tinggi, terbukti puluhan warga mengantri untuk berlaga. Tidak hanya diikuti oleh warga desa setempat, tidak sedikit pula peserta yang berasal dari luar desa.

Menurut salah seorang panitia penyelenggara, Goni Legowo, kesenian Tiban sudah mengakar di desa mereka. Hampir setiap musim kemarau, warga seringkali menggelar seni tiban.

"Ini dilakukan untuk mengenalkan seni tiban pada generasi muda. Diharapkan dengan sering digelarnya seni tiban, kesenian warisan leluhur yang sarat makna ini tetap lestari," kata Goni Legowo.

Dalam Tiban, cambuk yang digunakan terbuat dari lidi aren yang disebut ujung. Saat bermain peserta harus bertelanjang dada. Masing-masing peserta mendapat kesempatan menyabet lawan sebanyak tiga kali. Dengan aturan, sabetan tidak boleh mengarah ke kepala dan bawah pusar.

Tidak ada istilah menang atau kalah dalam Tiban. Meski terlihat saling melukai saat berlaga, namun tidak ada dendam selepas permainan.(end/vd:yan)

Berita Terkait

Rencana New Normal, Ratusan Warga Masih Berdesakan di Pasar Tradisional

Penataan Ulang Pasar Tradisional Cegah Penularan Covid-19

Tradisi Ronda Sahur Terus Dilakukan Warga Nganjuk

Melestarikan Permainan Tradisional Meriam Bambu di Bulan Ramadhan
Berita Terpopuler
Pemegang Senpi di Polres Malang Diperiksa
Malang Raya  4 jam

Cafe Kopi yang Ditemukan 6 OTG Ditutup Sementara
Malang Raya  2 jam



Cuplikan Berita
Dua Balita Warga Ngagel Reaktif Positif Covid 19
Pojok Pitu

Satu Keluarga Tersapu Ombak, Satu Orang Tewas, Satu Lagi Hilang
Pojok Pitu

Ini Syarat Kuota Khusus Untuk Putra-Putri Tenaga Kesehatan Covid 19
Jatim Awan

Klaster Gowa Menambah Jumlah Kasus Positif Covid-19 di Bondowoso
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber