Berita Terbaru :
Kecelakaan Mobil Vs Motor, 2 Orang Terluka
Terpleset Saat Loncat ke Perahu, Nelayan Panarukan Tenggelam
Pemkab Sidoarjo Cairkan Bantua Rp 6 Milyar Untuk Ketua RW
Polri Beri Dispensasi Perpanjangan SIM Dampak Covid 19
BKD Jatim Angkat Bicara Terkait Pelantikan Kepala Sekolah
Ratusan Petugas Check Point Penyekatan Ikut Rapid Test
Pemprov Jatim Kembangkan Terapi Plasma Untuk Pasien Covid 19 Dengan Gejala Berat
Terdapat 7 Pasien Gangguan Jiwa RSJ Menur Terpapar Covid 19
Terdapat 130 Kasus Anak Positif Covid 19 di Jatim
Polres Malang Kembali Membuat Kampung Tangguh di Kawasan Kepanjen
Jelang New Normal, Penjual Masker Raup Omset Jutaan Rupiah Tiap Harinya
Uji Coba New Normal, Tempat Layanan Publik Dan Pariwisata Jadi Sasaran
Kesiapan PT KAI Daop IX Jember Sambut Normal Baru
New Normal, Pemohon SIM Meningkat
Dispendukcapil Segera Jemput Bola Rekam KTP Pemilih Pemula
   

Ini Alasan BPOM Tarik Perdaran Ombat Lambung Ratinidin
Kesehatan  Sabtu, 12-10-2019 | 12:04 wib
Reporter : Iman Pujiono
Jakarta pojokpitu.com, Badan Pengawasan Obat dan Makanan mengelurakan pernyataan resmi menarik izin peredaran obat lambung ranitidin yang mengandung cemaran N-nitrosodimethylamine .

Kepala BPOM Penny K Lukito mengungkapkan, penarikan menindaklanjuti informasi US Food And Drug Administration dan European Medicine Agency,  bahwa terdapat produk ranitidin yang mengandung cemaran N-Nitrosodimethylamine  yang bersifat Karsinogenik.

"Obat lambung ratidin jika dikonsumsi dalam jangka waktu lama dapat beresiko memicu penyakit kanker," Kata Penny.

Penny mengatakan BPOM memberikan jangka waktu 80 hari kepada industri farmasi untuk melakukan penarikan, dimulai sejak 9 Oktober 2019. Untuk itu BPOM mengambil keputusan untuk seluruh institusi farmasi pemegang izin ranitidin, menghentikan sementara proses produksi, distribusi dan peredarannya.

Diketahui, ranitidin adalah obat yang digunakan untuk pengobatan gejala penyakit tukak lambung dan tukak usus. Sebelumnya BPOM telah memberikan persetujuan terhadap ranitidin sejak tahun 1989, melalui kajian evaluasi keamanan, khasiat, dan mutu.

Ranitidin tersedia dalam bentuk sediaan tablet,  sirup, dan injeksi. BPOM pada 17 September telah mengeluarkan warning dalam rangka kehati-hatian dengan menerbitkan informasi awal untuk tenaga profesional kesehatan, terkait keamanan produk ranitidin yang terkontaminasi NDMA.

"Penarikan merupakan bentuk tanggung jawab industri farmasi kepada masyarakat. Kami juga meminta masyarakat tidak panik dalam merespon penarikan ranitidin dari peredaran," kata Penny. (pul)

Berita Terkait

Satnarkoba dan Dinkes Sidak Obat Ranitidine ke Sejumlah Rumah Sakit dan Apotek

Ini Alasan BPOM Tarik Perdaran Ombat Lambung Ratinidin

Dilarang Edar, RSUD Dr. Soetomo Perketat Pengawasan Penggunaan Obat Ranitidine
Berita Terpopuler
Rapid Tes di Warkop, Seorang Pengunjung Dinyatakan Reaktif
Kesehatan  13 jam

Bursa Transfer: Pogba ke Juventus, Eks Pelatih Milan ke MU
Sepak Bola  12 jam

Usai Lebaran Harga Bawang Merah Capai Rp 41 Ribu
Ekonomi Dan Bisnis  11 jam

Telegram Kembangkan Fitur Reaksi Pesan
Teknologi  10 jam



Cuplikan Berita
Dua Balita Warga Ngagel Reaktif Positif Covid 19
Pojok Pitu

Satu Keluarga Tersapu Ombak, Satu Orang Tewas, Satu Lagi Hilang
Pojok Pitu

Ini Syarat Kuota Khusus Untuk Putra-Putri Tenaga Kesehatan Covid 19
Jatim Awan

Klaster Gowa Menambah Jumlah Kasus Positif Covid-19 di Bondowoso
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber