Berita Terbaru :
Nilai Bantuan Sembako Covid-19 Dituding Tidak Sesuai Dengan Jumlah Nominal Rupiah
Calon Penumpang Pewasawat Keluhkan Tingginya Biaya Rapid Test di Bandara Juanda Surabaya
Pendistribusian Bansos Pangan BPNT Diperketat
Temuan Beras Apek dan Berkutu Semakin Meluas
Terlalu Mendadak, Siswa Bingung Tes Rapid
Peserta SBMPTN Mengaku Kecewa Mendapat Informasi Wajib Tes Covid-19 Mendadak
Bagi Masker Kampanyekan Jatim Bermasker
Gugus Tugas Covid Jatim Dapat Support Obat Avigan Dari IHC
Pemkot Akan Gratiskan Tes Covid-19 Bagi Peserta UTBK yang Tidak Mampu
Pencoblosan Dimodifikasi Menyesuaikan Protokol Kesehatan
Peserta KIP dan KTP Surabaya Bisa Tes Rapid Gratis
Ratusan Demo Driver Tuntut Rapid Tes Gratis
Kampus Siapkan Ruang UTBK Dengan Protokol Kesehatan
Jamaah Mukimin Asal Jatim di Arab Saudi Akan Melaksanakan Haji Tahun 2020
Tim BPCB Trowulan Identifikasi Temuan Cagar Budaya 2 Arca Kala
   

Heboh Sendiri
Inspirasi DIS  Sabtu, 21-09-2019 | 09:16 wib
Reporter :
pojokpitu.com, Ada yang gatal tangan. Ingin sekali agar Iran diserang. Namun ia sendiri tidak mau melakukan. Inginnya: Amerika-lah yang menyerang Iran. Atau Israel. Atau siapa saja. Asal jangan negaranya.

Itulah Arab Saudi.

Tangan Saudi kian gatal. Minggu lalu. Ketika instalasi minyaknya diserang drone. Dengan sangat masifnya.

Padahal itu instalasi terbesarnya. Milik Aramco. Perusahaan Amerika yang sudah dibeli sepenuhnya oleh Saudi.

Minyak Aramco adalah juga sumber utama bahan baku kilang kita yang di Cilacap. Yang desainnya memang dicocokkan untuk produk Aramco.

Serangan drone itu sendiri bukan yang pertama, tetapi yang terbesar. Yang menyerang juga sudah mengaku: pejuang Houti. Dari Yaman. Yang anti-Saudi. Terutama sejak Saudi menyerang Yaman. Lima tahun lalu.

Houti dianggap memberontak Pemerintah Yaman yang didukung Saudi. Namun Houti berhasil menahan serangan militer Saudi. Bahkan ibu kota Yaman, Sana, sepenuhnya bisa direbut Houti. Sampai sekarang.
Perang Yaman ini tercatat sebagai gebrakan penguasa baru Arab Saudi: Pangeran MbS --Mohamad bin Salman. Yang saat itu usianya baru 28 tahun.

Gebrakan lain adalah menangkap keluarganya sendiri. Para sepupunya. Menahan mereka. Dengan tuduhan korupsi.

Lalu, yang itu. Terbunuhnya wartawan Jamal Khashoggi. Yang dibunuh di konsulat Saudi di Istanbul, Turki --saat Jamal diantar calon istrinya ke konsulat itu untuk mendapat surat-surat persyaratan menikah.

Mayatnya pun sampai dihilangkan. Dan gedung konsulat itu sekarang juga akan dihilangkan --ditawarkan untuk dijual.

Menurut Arab Saudi, Iran-lah yang mendukung pejuang Houti di Yaman. Mana mungkin bisa sekuat itu.

Yaman itu kecil. Miskin. Saudi itu besar. Kaya raya.

Namun Houti yang menang. Setidaknya belum kalah. Bahkan justru menyerang ke jantung kehidupan Saudi.

Iran selalu menolak tuduhan di balik Houti. Namun Iran juga siap untuk perang --kalau Amerika sampai menyerang.

Sebenarnya Amerika sudah getem-getem. Ingin sekali segera menyerang Iran. Sejak drone Amerika dijatuhkan Iran.Tidak jadi.

Juga sejak kapal tangker minyak Inggris ditahan Iran.

Tidak jadi.

Lalu ada serangan drone yang masif ke instalasi minyak Aramco itu.

Juga tidak jadi. Ups, jadi. Ups, tidak jadi. Ups, entahlah.

Sebenarnya banyak juga tokoh di sekitar Presiden Donald Trump yang juga gatal tangan. Misalnya John Bolton. Penasihat keamanan nasionalnya.

Keinginan Bolton perang terus. Kumisnya yang kaku dan panjang itu seperti kian mirip paku saja --dan kian memutih.

Namun Trump justru memecatnya. Minggu lalu.Arab Saudi sendirilah yang mestinya sangat marah. Namun sama sekali tidak ada minat menyerang Iran. Mungkin juga tidak ada keberanian.

Internal Saudi memang tidak kuat-kuat amat. Media Barat meramal MbS --kalau pun akan dilantik jadi raja-- bisa jadi raja terakhir.

Houti sendiri mengaku serangan dronenya itu sukses karena ada bantuan dari dalam Saudi sendiri. Begitu besar orang asli Yaman yang menjadi penduduk Saudi.

Memang sebaiknya Saudi jangan perang. Selesaikanlah dulu Yaman. Mundurlah dari sana.

Akibat serangan Saudi itu penderitaan di Yaman luar biasa. Dulu Yaman hanya miskin. Kini miskin dan penuh derita.

Vladimir Putin pun bilang begitu. Saat presiden Rusia itu bertemu Recep Tayyip Erdo?an tiga hari lalu. Di Turki.

Sampai-sampai Putin mengutip ayat suci Alquran. Surah Ali Imran, ayat 103: "Berpeganglah kalian pada Quran bila..".

Secara tidak langsung justru Putin mengingatkan Raja Arab Saudi untuk berpegang pada Alquran.Erdogan setuju itu. Erdogan memang lebih pro-Iran. Lebih anti-Saudi.

Untung ada perang dagang Amerika-Tiongkok. Untung pula ada heboh Brexit. Pun untung ada demo sepanjang sepur di Hong Kong.

Untung ada semua itu. Kalau tidak, dunia Islamlah yang kelihatan masih terus heboh sendiri di antara mereka.(***)

Berita Terkait

Dua Buku

Password Yudiu

Juan de Onate

Ledakan Momentum
Berita Terpopuler
Masuk Bui, Mantan Kades Sumber Salak Tersangka Korupsi Dana Desa
Hukum  8 jam

Batasi Aktifitas, Tiga Ruas Jalan Nanti Malam Kembali Ditutup
Metropolis  4 jam

Diduga Depresi, Suharti Ditemukan Meninggal di Dalam Sumur
Malang Raya  9 jam

Ratusan Demo Driver Tuntut Rapid Tes Gratis
Metropolis  2 jam



Cuplikan Berita
Dua Kadis Terpapar Covid-19, Kantor Terpaksa Dilockdown
Pojok Pitu

Pemkot Surabaya Tepis Isu Pemecatan Kadis DKRTH Surabaya
Pojok Pitu

Diserang Tikus, Petani Ponorogo Resah
Jatim Awan

Rumah Pegawai Lapas Mojokerto Jadi Sasaran Pelemparan Bom Molotov
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber