Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Tempo Doeloe 

Sejarawan Belanda Bicara Soal Benteng Kedung Cowek Surabaya
Selasa, 17-09-2019 | 11:05 wib
Oleh : Nanang Purwono
Surabaya pojokpitu.com, Hari Minggu (15/6) kawasan Kota Lama Surabaya dikunjungi oleh wisatawan Belanda. Mereka adalah para pegiat sejarah yang terdiri dari beragam profesi. Ada antropolog, sejarawan dan penulis. Kedatangan mereka ke Surabaya adalah bagian dari tour sejarah mereka di Jawa. Di awali dari Jakarta, Banten, Semarang, Surabaya dan Pasuruan. Dalam catatan mereka, kota kota ini memiliki sejarah tinggi. Mereka peduli dengan sejarah yang telah terukir dalam sejarah bangsa mereka. Mereka selalu mencatat dan berbagi dengan khalayak di negeri Kincir Angin melalui sebuah tabloid yang bernama

Bersama penerbitan "Historisch Nieuwsblad" inilah mereka datang ke Jawa dan khususnya Surabaya. Mereka juga sekaligus pembaca setia buletin "Historisch Nieuwsblad" ini. Tidak semua pembaca bisa dengan mudah mengikuti tour sejarah ini. Hanya mereka, yang sangat peduli dan bisa berbagi kepada yang lain, yang diberi prioritas mengikuti heritage track ini.

Selama di Surabaya, mereka bersama tim Forum Begandring Soerabaia (FBS) menjelajah kawasan Kota Lama Surabaya, yang meliputi kawasan Eropa (jl. Rajawali), Pecinan (jl. Karet) dan Melayu (jl. Panggung). Selain itu, mereka juga mengunjungi House of Sampoerna, PTPN XI yang merupakan bekas kantor Handelsverenigging Amsterdam (HVA) atau kantor Asosiasi Perdagangan Amsterdam, kantor Gubernuran di jl. Pahlawan, Gedung Negara Grahadi di jl. Gubernur Suryo dan Balai Kota Surabaya.

Dari wisata sejarah di Surabaya ini, dalam diskusi bersama tim Forum Begandring Surabaya, mereka mendengar adanya isu benteng pertahanan pantai Kedung Cowek (Kustbatterij Kedoeng Tjowek). Isu ini terkait dengan perbedaan dugaan mengenai tahun pembangunan dan siapa pembangun benteng pantai tersebut. Pihak Pegiat Sejarah Surabaya menduga bahwa benteng Kedung Cowek dibangun oleh Belanda di awal tahun 1900-an. Sementara Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Surabaya menduga bahwa benteng itu dibangun oleh Jepang.

Di sela sela kegiatan penjelajahan sejarah di kota Surabaya ini, Monique Soesman, salah satu dari 12 wisatawan Belanda ini antusias menelusuri data sejarah tentang riwayat pembangunan benteng Kedung Cowek. Ada beberapa sumber laman (website) yang dia selancari. Hasilnya ada beberapa surat kabar yang memberitakan proyek pembangunan benteng Kedung Cowek. Setidaknya ada tiga surat kabar, yakni Soerabaische Handelsblad (Surabaya). Bataviaasch Handelsblad (Jakarta) dan De Lokomotief (Amsterdam). Ketiga surat kabar besar ini secara rinci dari hari ke hari memberitakan proyek besar di Surabaya itu.

Berdasarkan data yang didapat Monique Soesman, bahwa pembangunan benteng Kedung Cowek itu dimulai di awal tahun 1900-an. Ternyata data koran koran lama yang telah didigital ini sesuai dengan data cetak biru (blue print) yang diperoleh dari Museum Arsip di Denhag oleh Ady Setyawan, pendiri komunitas Roodebrug Soerabaia. Berdasarkan data cetak biru bahwa cetak biru ini ditanda tangani leh seorang Kamten Genie, H. Proper. Data ini, nama H. Proper, sama dengan isi pemberitaan surat kabar De Lokomotief yang terbit pada 30 Maret 1900, dimana surat kabar ini memberitakan tentang kunjungan Proper yang menemani Gubernur Jendral ke Surabaya dalam rangka meninjau proyek pembangunan benteng.

Ada yang menarik menurut Monique setelah membaca sejumlah penerbitan tentang Kustbatterij Kedoeng Tjowek. Yaitu adanya perdebatan dalam perencanaan proyek pembangunan benteng. Saking besarnya rencana pembangunan proyek itu, di kalangan pengambil kebijakan di Belanda harus berdebat tentang perlu dan tidaknya membangun benteng di Surabaya. Surat kabar, baik De Lokomotief, Soerabaische Handelsblad dan Bataviaasch Handelsblad, memberitakan bahwa proyek pembangunan benteng pantai di Surabaya adalah proyek yang menghabiskan banyak uang. Apalagi, masih menurut pemberitaan ke tiga koran itu, benteng yang dibangun tidak akan bisa melawan serangan musuh. Daripada uang dihabiskan untuk sebuah proyek yang sia sia, dananya lebih baik dipakai untuk kepentingan lain yang bersifat kemanusiaan.

Tidak hanya Monique di group "Historisch Handelsblad" yang berbicara tentang isu perihal benteng Kedung Cowek di Surabaya saat ini, wisatawan lainnya juga ikut berkomentar. Salah satunya adalah Harry Romgens. Menurutnya, jika ada yang menduga bahwa benteng Kedung Cowek dibangun oleh Jepang, mengapa data-data dari sumber 3 koran besar menyebut "Kustbatterij Kedoeng Tjowek", bukan benteng yang berbunyi dan berciri Jepang. Ia menambahkan bahwa 3 koran besar: Soerabaiasch Handelsblad, Bataviaasch Handelsblad dan De Lokomotief adalah koran kredible, bukan koran yang asal tulis. Begitu pun pengarsipan oleh pemerintah Belanda yang berhasil mengarsipkan data data penting itu.

Setidaknya dengan kedatangan group pegiat sejarah Belanda yang datang dalam naungan penerbitan "Historisch Nieuwsblad" Belanda bisa menjernihkan perdebatan yang selama ini terjadi antara Pegiat Sejarah Surabaya dan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Surabaya. Bukan tidak mungkin data data dari koran kuno itu bisa melengkapi literasi latar belakang kesejarahan benteng Kedung Cowek. Benteng Kedung Cowek harus didukung oleh latar belakang kesejarahan yang benar berdasarkan sumber sumber yang kredible. (yos)

Berita Terkait


Mengenang Sejarah Kelam Pemberontakan PKI di Madiun

Gali Pondasi Bangunan, Warga Temukan Ribuan Koin Cina

Sejarawan Belanda Bicara Soal Benteng Kedung Cowek Surabaya

Pemerhati Sejarah Asal Belanda Kagumi Bangunan Jaman Belanda Masih Megah dan Terawat


Pegiat Sejarah Lapor ke Polisi Soal Perusakan Benteng

Benteng Kedung Cowek, Aset Bersejarah Yang Terpendam

Pameran Barang Bersejarah Menarik Perhatian Warga Nganjuk

Tim Cagar Budaya dan Pemerhati Sejarah Pertanyakan Kembali Kejelasan Benteng Kedung Cowek pada Pemkot

Sponsored Content

loading...
Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber