Berita Terbaru :
Pakai Motor Risma Blusukan Tegur Warga Tak Pakai Masker
Wajib, Gugus Tugas Rapid Warga di Tempat Nongkrong
Petugas Gabungan Patroli Skala Besar, Segini Hasilnya
Gugus Tugas Covid 19 Siapkan Tempat Istirahat Tenaga Kesehatan
Lagi, Dokter PPDS FK Unair Meninggal Akibat Covid 19
Bhayangkara United Ingin Melanjutkan Kompetisi Hingga Selesai
Hasil Survei: Tito Karnavian Menteri Paling Responsif di Era Pandemi
Dua Kepala Sekolah Ini Jadi Inspirasi Guru Penggerak
Youtube Blokir Akun yang Kerap Buat Konten Rasis
Koleksi Mobil Klasik David Beckham Dijual, Harganya Wow
Tips Agar Koneksi Internetmu Tidak Lelet
Malaysia Larang Orang Asing Salat Berjemaah di Masjid
Pakar Hukum Tata Negara Bicara soal Pelaksanaan Pilkada
Ternyata ini Klub Sepak Bola Kesukaan Ahmad Dhani
18 Tokoh Dianggap Layak jadi Menteri, Ada Ahok dan Grace Natalie
   

Sembilan Bulan Tidak Ada Pengerukan Kolam Labuh, Puluhan Nelayan Protes
Tapal Kuda Dan Madura  Senin, 16-09-2019 | 16:22 wib
Reporter : Wildan Lipu Prasasti
Puluhan nelayan itu dari 2 desa, diantaranya, Desa Panaongan Dan Desa Pasongsongan. Mereka menuntut proses pengerukan dilakukan kembali, terutama di pintu masuk kolam labuh. Foto Wildan
Sumenep pojokpitu.com, Puluhan nelayan dari 2 desa, di Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, menduduki Kantor UPT Pelabuhan Perikanan, Pasongsongan. Para nelayan menuntut, pengerukan pasir di pintu masuk kolam labuh segera dilakukan. Agar tidak dangkal dan perahu nelayan bisa keluar masuk saat kondisi pasang atau surut.

Sampai saat ini, kapal nelayan yang hendak berlayar di pagi hari, harus bersandar di luar kolam labuh, dengan resiko kapal dihantam ombak besar. Seperti Minggu kemarin (15/9), salah satu kapal milik nelayan dihantam ombak besar, sehingga kapal rusak dan tenggelam.

Hariyanto salah satu nelayan mengatakan, terakhir pengerukan yang dilakukan pemerintah pada akhir 2018. Biasanya dilanjutkan 3 bulan sekali. Namun sampai saat ini, tidak ada tindak lanjut oleh pihak setempat. Diduga alat pengerukan rusak dan diperbaiki diluar kota. Dari aturan yang ada, kolam labuh pelabuhan harus pada kedalaman 5 meter.

Jika pihak pemerintah terkait tidak menyegerahkan pengerukan, para nelayan akan melakukan pengerukan secara swadaya. "Ini merupakan kepentingan dan kebutuhan umum, karena mayoritas perekonomian masyarakat sekitar dari laut," ujar Hariyanto.

Pihak pemerintah akan menindaklanjuti serta mengapresiasi tuntutan para nelayan. Serta akan melaporkan ke pihak pusat di Jawa Timur, terkait pengerukan di pintu masuk kolam labu. Sebab, hal tersebut menyebabkan para nelayan merugi. (pul)
 


Berita Terkait

Sembilan Bulan Tidak Ada Pengerukan Kolam Labuh, Puluhan Nelayan Protes
Berita Terpopuler
Lagi, Dokter PPDS FK Unair Meninggal Akibat Covid 19
Metropolis  2 jam

Petugas Gabungan Patroli Skala Besar, Segini Hasilnya
Peristiwa  60 menit

18 Tokoh Dianggap Layak jadi Menteri, Ada Ahok dan Grace Natalie
Politik  12 jam

Ternyata ini Klub Sepak Bola Kesukaan Ahmad Dhani
Infotainment  11 jam



Cuplikan Berita
Dua Kadis Terpapar Covid-19, Kantor Terpaksa Dilockdown
Pojok Pitu

Pemkot Surabaya Tepis Isu Pemecatan Kadis DKRTH Surabaya
Pojok Pitu

Diserang Tikus, Petani Ponorogo Resah
Jatim Awan

Rumah Pegawai Lapas Mojokerto Jadi Sasaran Pelemparan Bom Molotov
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber