Berita Terbaru :
Menuju New Normal, Polwan Blitar Sisir Tempat Keramaian
Produsen Rokok Terdampak Pandemi Covid-19, Produksi Turun 40 Persen
Penerapan New Normal Bidang Industri di Jatim
PPDB Online, Baru 4 SMPN Penuhi Pagu Pendaftar Siswa
Tahun Ajaran Baru Mulai 13 Juli 2020
Sebanyak 200 Orang Warga Rungkut Ikut Tes Swab Dengan Mobile PCR BNPB
98 Persen Perawat Klaster TKHI di Asrama Haji Sembuh
Pemkab Fungsikan Kampus Stikes Jadi Ruang Isolasi
Dokter di Surabaya Meninggal Dunia Berstatus PDP
Kebutuhan Padi di Jatim Masih Surplus, Hanya Kedelai yang Kekurangan
Sejak Pandemi Covid 19, Angka Ibu Hamil di Jatim Meningkat Tajam
Suami Pasien Nomor 4 Terkonfirmasi Positif Covid 19
Hantam Truck, Pelajar SMP Terseret Hingga Tewas
Warga Ponorogo Masih Bandel Terbangkan Balon Tanpa Awak
Warga Saudi Tak Kuasa Menahan Air Mata saat Masjid Kembali Dibuka
   

Ritual Jamasan Tombak Kyai Upas Tulungagung
Rehat  Senin, 16-09-2019 | 10:23 wib
Reporter : Agus Bondan
Pusaka tombak Kyai Upas berasal dari Kerajaan Mataram. Tombak ini merupakan pusaka, sekaligus simbol berdirinya Kabupaten Tulungagung, yang menjadi pusaka andalan bupati terdahulu hingga sekarang. Foto Agus Bondan
Tulungagung pojokpitu.com, Bulan suro dalam penanggalan jawa , oleh sebagian masyarakat jawa di percaya sebagai bulan yang baik untuk melakukan ritual pensucian diri maupun benda-benda pusaka.

Tidak terkecuali pusaka tombak Kyai Upas, simbol awal berdirinya Kabupaten Tulungagung juga disucikan atau dijamasi. Mengawali ritual penjamasan tombak pusaka di Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Tulungagung, iring-iringan dayang menyerahkan air nowo tirto  kepada pemangku amanah Kyai Upas, untuk melaksanakan ritual jamasan. Air nowo tirto diambil dari berbagai sumber. Tiga dari sembilan mata air yang diambil melambangkan wujud dari seekor naga.  Yakni dari sumber panguripan, berarti kepala, sumber puser, berarti tubuh, dan sumber buntut, berarti ekor.

Usai seserahan dengan dipimpin oleh seorang penjamas pusaka, membuka sarung pada ujung mata tombak. Kemudian dijamasi menggunakan air kembang setaman dan jeruk nipis. Seusai penjamasan, dengan menutup sarung berwarna putih dan di ikat dengan rangakaian bunga melati. Tombak kyai upas di usung kembali ketempat semula untuk disemayamkan .

Menurut Maryoto Birowo Bupati Tulungagung, tombak Kyai Upas , merupakan pusaka peninggalan leluhur Kabupaten Tulungagung. Jamasan dilakukan secara rutin untuk pensucian pusaka bupati Tulungagung yang harus dibersihkan jiwa raganya. Sehingga bupati, atau pemimpin lainnya, dapat melaksanakan pemerintahan dengan baik. "Selain itu juga sebagai tolak balak yang dapat memberikan kesejahteraan warga Tulungagung," kata Maryoto Birowo.

Usai pusaka tombak kyai upas dijamasi , dan disemayamkan kembali, air sisa untuk penjamasan menjadi rebutan warga. Bahkan air jamasan yang di dapat konon jika di pakai untuk basuh muka dapat memberikan kasiat awet muda, sebegai obat berbagai macam penyakit, serta dipermudah dalam mencari rejeki. (pul)




Berita Terkait

Ritual Jamasan Tombak Kyai Upas Tulungagung
Berita Terpopuler
Alhamdulillah, 7 Pasien Dinyatakan Sembuh Dari Covid-19
Kesehatan  7 jam

Dump Truk Muatan Batu Coral Terbakar di Jalur Ngawi-Cepu
Peristiwa  7 jam

Hantam Truck, Pelajar SMP Terseret Hingga Tewas
Peristiwa  4 jam

Sebanyak 308 Pedagang Jalani Rapid Test, 2 Diantaranya Reaktif Covid-19
Peristiwa  9 jam



Cuplikan Berita
Gelombang Tinggi Terjang Pantai Selatan Lumajang
Pojok Pitu

Puluhan Rumah Warga Pantai Sine Terendam Banjir Rob
Pojok Pitu

Banjir Terjang 5 Kecamatan di Tengah Pandemi Covid-19
Jatim Awan

Dua Truk Pasir Terseret Lahar Dingin Semeru
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber