Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Metropolis 

Benteng Kedung Cowek Dibangun Selama 7 Tahun (1900 - 1907)
Minggu, 15-09-2019 | 00:05 wib
Oleh : Nanang Purwono
Surabaya pojokpitu.com, Sangat menarik mengikuti dinamika proses penetapan status cagar budaya untuk Benteng Kedung Cowek (Kunsbatterij Kedoeng Tjowek) yang terletak di pesisir Utara pantai Surabaya, dekat kaki jembatan Suramadu sisi Surabaya. Dalam proses ini terdapat dua dugaan mengenai kapan sistim pertahanan pantai ini dibangun. Ady Setyawan, ST., pendiri Komunitas Roodebrug Soerabaia, menduga bahwa benteng ini dibangun oleh Belanda pada awal tahun 1900-an. Sementara anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) kota Surabaya. Prof. Dr. Ir. Johan Silaas, menduga bahwa benteng itu dibangun oleh Jepang pada masa pendudukan Jepang (1942-1945).

Saya "berdiri" di antara mereka berdua dan saya mencoba mencari apa yang menjadi latar belakang mengapa Ady Setyawan menduga bahwa benteng dibangun oleh Belanda dan Johan Silaas menduga bahwa benteng dibangun oleh Jepang. Sebenarnya, sumber sumber pendukung di pihak Ady cukup lumayan dan lengkap. Bahkan bisa saya susun secara kronologis mulai dari waktu rencana pembuatan, saat pembangunan hingga uji coba senapan altileri. Sementara, sumber-sumber yang bisa dipakai untuk mendukung dugaan Prof. Dr. Ir. Johan Silaas tidak saya dapatkan. Saya mencoba mencarinya, khususnya data tentang pembangunan benteng oleh Jepang. Kecuali secuil cerita bahwa Jepang yang sempat menambahkan sistim persenjataan untuk penguatan sistim pertahanan.

Dari data yang bisa saya kumpulkan, maka tersusun kronologi riwayat Kunsbatterij Kedoeng Tjowek atau Benteng Kedung Cowek sebagai berikut. Kumpulan data ini adalah sumber-sumber koran terbitan Belanda dan Surabaya.

Dimulai dari koran "De Lokomotief", Belanda (30 Maret 1899). Koran ini memberitakan tentang sebuah proposal pembangunan benteng pertahanan di Surabaya. Terdapat persoalan di lokasi yang akan didirikan benteng. Yaitu kondisi lahan yang lembek, yang dikawatirkan tidak kuat untuk menyangga kontruksi benteng, termasuk untuk melayani kapal-kapal yang bersandar. Karena kondisi lahan itulah terjadi perdebatan mengenai pembangunan benteng. Beaya pembangunan mencapai f 66.000 (Gulden). Selain itu pekerja bangunan harus bekerja ekstra.
 
Selinjutnya pada tanggal 15 Januari 1900 sebuah cetak biru (blue print) tentang pembangunan benteng Kedung Cowek ditandatangani di Batavia oleh Kapten Genie yang bernama H. Proper. Cetak biru ini tidak hanya menyusun fisik bangunan, tapi juga menggambarkan jenis altileri dan jangkauan tembak altileri. Pada gambar cetak biru, kontruksi bangunan terlihat membujur di sepanjang bibir pantai. Namun tidak terlihat dari laut.

Tanggal 30 Maret 1900 koran "De Lokomotief" memberitakan lagi tentang proyek pembangunan benteng. Kali ini mengenai kunjungan Kapten Genie Proper ke Surabaya yang mendampingi seorang Gubernur Jendral. Diberitakan bahwa sebelum berangkat, Proper menyiapkan segala informasi untuk sang Gubernur Jendral.

Di tahun yang sama, pada 14 Deasember "De Lokomotief" memberitakan kondisi kesehatan Kapten Genie, Proper, yang kurang baik sehingga harus dirawat di Preanger. Proper sakit. Karenanya dia cuti dari tugas. Sebagai penggantinya adalah seorang kawan, De Rochemont, yang sudah bertugas di Surabaya. Ia bertanggung jawab atas pembangunan benteng Kedung Cowek dan Semambung. Belum selesai, ia pun ditarik ke Batavia. Karena tidak ada perwira berpangkat Kapten di Surabaya untuk melanjutkan pembangunan benteng, maka tugas pembangunan dilajutkan oleh Letnan Kuyper.

Tiga hari berselang, pada 17 Desember 1900, "De Lokomotief" menurunkan berita tentang kegiatan inspeksi Jendral Boetje ke Surabaya. Ia ditemani oleh Letnan Hommes. Mereka berangkat ke Surabaya dari Solo dengan kereta api cepat. Ketika tiba di Surabaya, segala persiapan upacara sudah siap. Ketika itu pembanguan benteng Kedung Cowek dan Semambung sedang berlangsung.

Berselang tujuh tahun berikutnya, pada Oktober 1907, giliran koran Surabaya "Soerabaiasche Handelsblad" memberitakan tentang uji coba senapan altileri. Asisten Residen Surabaya bidang Hukum, W.F. Lutter per tanggal 25 Oktober 1907 mengumumkan adanya rencana uji coba altileri benteng Kedung Cowek. Waktu yang dibutuhkan antara 25 hingga 30 hari. Selama latihan, di area tembak ditetapkan area bahaya, area yang tidak diperbolehkan siapa pun melintas perairan selat Madura. Untuk menandai batas batas bahaya, dikibarkan bendera merah yang dipasang pada ujung ujung tiang sebagai tanda batas. Waktu latihan dimulai pk 06.00 hingga selesai.

Menyimak berita berita koran yang diawali dari terbitan koran De Lokomotief (Belanda) pada 1899 yang mengabarkan rencana pembangunan dan diakhiri dengan terbitan Soerabiasche Handelsblad (Surabaya) pada 1907 tentang uji coba altileri, untuk sementara dapat diduga bahwa masa pembangunan benteng Kedung Cowek memakan waktu selama 7 tahun (1900-1907). (yos)



Berita Terkait


Kalangan Akademisi Ikut Lestarikan Benteng Kedung Cowek

Benteng Kedung Cowek Dibangun Selama 7 Tahun (1900 - 1907)

Benteng Kedung Cowek: Antara Belanda Dan Jepang?

Heroisme di Benteng Kedung Cowek


Begini Isi Surat Terbuka Kepada Tim Ahli Cagar Budaya Terkait Benteng Kedung Cowek

Benteng Kedung Cowek Akan Ditetapkan Sebagai Cagar Budaya

Heroisme di Benteng Kedung Cowek

Benteng Kedung Cowek, Aset Bersejarah Yang Terpendam

Sponsored Content

loading...
Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber