Berita Terbaru :
Pengemudi Jatuh Tak Sadarkan Diri, Warga Takut Mendekat
Video Call Kondisi Pasien Positif Covid 19 Terus Membaik
Sebanyak 14 PDP Berhasil Disembuhkan,1 Positif Masih Diisolasi
Tim Gugus Tugas Covid-19 Rapid Test Keluarga PDP
Sebar Berita Hoax, Seorang Warga Tertangkap Polisi
Pasca Libur, Pemohon SIM di Polresta Sidoarjo Membludak
ASN Jatuh ke Jurang Saat Potong Pohon Jati
Salah Paham Suara Motor, Seorang Pemuda Dikeroyok
Seorang Warga Negatif Dari Covid 19 Setelah Menjalani Test Poliymerase Chain Reaction
Anggaran 40 M Alokasikan Pemkab Madiun Untuk Penanganan Covid-19
Viral Tim Medis Ber-APD Evakuasi Orang Terlantar Tak Beridentitas Pingsan
Kades Minta Pemkab Nganjuk Memperlakukan Khusus Ratusan Warga Berstatus OTG
Perbaiki Atap, Seorang Pekerja Tersengat Listrik
Mengaku Rugi Rp 2,3 Miliar, Arema Fc Akan Berlatih 1 Juni
Tebing Sungai Longsor Setiap Hujan Datang, Warga Kian Resah
   

Warga Nganjuk Gelar Jamasan Pusaka di Bulan Suro
Rehat  Minggu, 08-09-2019 | 09:16 wib
Reporter : Achmad Syarwani
Pusaka ini merupakan peninggalan tokoh agama dan cikal bakal berdirinya Desa Ngliman, Nganjuk. Foto Achmad Syarwani
Nganjuk pojokpitu.com, Warga Nganjuk menggelar Jamasan Pusaka atau memandikan pusaka. Tradisi turun temurun ini, terdapat 6 pusaka yang dijamas atau dimandikan.

Enam pusaka peninggalan Ki Ageng Ngaliman, merupakan tokoh penyebar agama Islam di wilayah Ngliman Sawahan, sekaligus cikal bakal berdirinya Desa Ngliman.

Kirab ini dimulai dari Makam Ki Ageng Ngliman, berjalan menggendong 6 pusaka peninggalan Ki Ageng Ngaliman yang terbukus kain. Untuk dijamas oleh tokoh adat di Balai Desa Ngliman. Peserta kirab mengenakan pakaian adat jawa, lengkap dengan keris, serta membakar dupa.

Keenam pusaka yang dijamas atau dimandikan berupa keris yakni Kyai Kembar, dan berupa pewayangan yaitu Mbah Bondan, Mbah Joko Truno, Mbah Bethik, Raden Panji, dan Nyai Dukun. Masing-masing dimandikan oleh tokoh adat setempat menggunakan air kembang.

Tradisi ini digelar setiap tahun pada bulan Suro dengan maksud meneruskan tradisi turun temurun. Selain itu, makna dari Jamas Pusaka ini adalah simbol manusia harus membersihkan diri, karena terdapat kekurangan dan kesalahan yang harus dibersihkan. Mereka yang datang ke tempat Jamasan Pusaka ini berharap mendapatkan berkah. 

Setelah jamasan pusaka, puluhan warga mendekat berdasakan pada tempat jamasan untuk berebut air sisa jamasan. Dengan harapan sisa air jamasan tersebut sebagai perantara dari yang maha kuasa untuk menjauhkan dari segala macam marabaya dan memberikan keberkahan. Warga dapat menggunakan sisa air jamasan tersebut untuk tanaman, tempat tinggal dan sebagainya.

Sementara itu, diharapkan tradisi Jamas Pusaka ini tetap lestari dengan mengajarkan kepada anak-anak muda untuk menjunjung tinggi adat yang diajarkan turun menurun. Sehingga, budaya tersebut tetap dilaksanakan dan diyakini terdapat nilai-nilai yang baik, warisan budaya jawa pada umumnya, dan masyarkat Ngliman pada khusunya, sehingga ini tidak akan punah.




Berita Terkait

Lestarikan Benda Pusaka Melalui Jamasan Massal

Prosesi Jamasan Keris Keraton Sumenep

Warga Nganjuk Gelar Jamasan Pusaka di Bulan Suro

Ritual Jamasan Gong Pradah Ricuh , Warga Pembawa Gong Saling Dorong
Berita Terpopuler
Jelang Puasa dan Dampak Corona, Harga Daging Naik
Ekonomi Dan Bisnis  12 jam

Aplikasi Ini Tawarkan Gratis Kuota Selama di Rumah Saja
Teknologi  17 jam

Tebing Sungai Longsor Setiap Hujan Datang, Warga Kian Resah
Peristiwa  4 jam

FK Unair Sumbang Washable Hazmat ke RSUD dr Soetomo
Metropolis  13 jam



Cuplikan Berita
Jalan Darmo dan Tunjungan Surabaya Ditutup 2 Minggu
Pojok Pitu

Berburu Manisnya Buah Srikaya Puthuk Tuban
Pojok Pitu

Banjir Rendam Tiga Titik Jalan Penghubung Antar Kecamatan
Jatim Awan

Zona Merah di Jatim Menjadi 23 Kabupaten Kota, Kasus Positif 187 Orang
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber