Berita Terbaru :
Bayi Dikerubuti Semut Ditemukan Dalam Kondisi Hidup
Penasehat Tersangka OTT Ingin Kejaksaan Bogkar Pungli Benih Jagung
Warga Temukan Situs Sejarah Saat Hendak Tanam Pisang
Hasil Penyidikan, Praktek Dukun Cabul Bertarif Rp 300 Ribu
Musim Kemarau, Permintaan Pembuatan Sumur Meningkat
Satlantas Polres Tuban, Gelar Operasi di Pasar Tradisonal
PBVSI Mastekno Proliga Ke 20 Akan Digelar Lebih Cepat
Hari Ini di Lamongan Empat Pasien Covid 19 Meninggal Dunia
Peringatan HUT RI ke 75, Banyak Diskon Tiket Kereta Api
Mulan Tayang Bukan di Bioskop, Streaming Eksklusif di Disney
Tidak Sekedar Ulang Tahun, Begini Agenda Cia Tanggal 17 Agustus Nanti
Keluarga Suspek Covid 19 Gagal Jemput Paksa Jenazah
Semangat, Kakak-Adik Berkebutuhan Khusus Ini Belajar Sambil Kerja Tambal Ban
Ancang-Ancang Hadapi Resesi, Pengusaha: Tetap Harus Investasi
Pemkab Sidoarjo Akan Memberlakukan Belajar Tatap Muka Dengan Protokol Kesehatan Ketat
   

Belajar Batik Teknik Ecoprint, Silahkan di Sini
Teknologi  Sabtu, 07-09-2019 | 17:18 wib
Reporter : Amar Bahri
Batik Ecoprint merupakan batik dibuat dengan teknik pewarnaan alami yang unik. Pembuatan batik ini gampang-gampang susah, karena pembuatannya tidak bisa diulang. Foto Amar Bahri
Surabaya pojokpitu.com, Batik Ecoprint merupakan teknik cetak yang menggunakan pewarna alami. Tekniknya pun sederhana, tidak memerlukan bantuan mesin atau cairan kimia. Semua bahan yang digunakan merupakan bahan alami yang diaplikasikan pada kain.

Nur Holifah salah satu pegiat UKM di Surabaya ini, sudah 2 tahun fokus memproduksi Batik Ecoprint. Untuk membuat batik eco print dibutuhkan kain khusus yang bisa menyerap warna dan mudah diaplikasikan dengan daun.

Daun yang dipilih untuk menjadi motif batik diantaranya, daun jati, daun kelengkeng, daun pigura, daun lanang hingga daun kalpataru. "Daun yang memiliki warna kuat akan langsung ditempelkan pada kain yang sudah ditreatmen dengan pewarna alami," kata Nur Holifah.

Sementara daun yang tidak memiliki warna kuat akan melalui proses direndam menggunakan air yang sudah diberi pewarna.

Daun-daun yang sudah ditempel kemudian dirangket dengan kain penutup. Selanjutnya akan ditekan agar warna bisa menyatu dengan kain, sebelum akhirnya di gulung dan dikukus selama sekitar 2 jam. Setelah melalui proses pengukusan kain, nanti akan direndam agar warna yang dihasilkan tidak luntur.

"Kesulitan untuk membuat Ecoprint adalah bahan, seperti daun yang mahal dan jarang ditemui," jelas Nur Holifah.

Batik Ecoprint buatan Nur Holifah biasanya dipasarkan melalui media online, seperti Facebook dan Whatsapp. Harganya mulai dari Rp 200 ribu - Rp 1 juta. (pul)



Berita Terkait

Isi Libur Sekolah, Puluhan Siswa Belajar Membatik

Perajin Kota Batu Buat Masker Batik Tulis

Imbas Corona, Produksi Batik di Pamekasan Turun Drastis

Di Tengah Pandemi Covid-19, Perajin Batik Masih Buka Pemesanan Secara Online
Berita Terpopuler
Bebas Asimilasi, Bandar Narkoba Kembali Edarkan Sabu
Peristiwa  13 jam

Bupati Sangat Dukung Pengembangan Paralayang di Blego Parang
Politik  16 jam

Pandemi, Penjual Bendera Asal Bangkalan Takut Jualan Keluar Kota
Ekonomi Dan Bisnis  14 jam

Berawal Ketangkap Mencuri Ponsel Disebuah Salon, Ternyata Pelaku Juga Seorang Cu...selanjutnya
Malang Raya  12 jam



Cuplikan Berita
Ratusan Ibu Hamil Swab Massal di Gelora Pancasila
Pojok Pitu

Begini Pengakuan Bupati Menanggapi Pemakzulan DPRD Jember
Pojok Pitu

Karyawan Toko Tipu Korban dan Gelapkan Ribuan Lpg
Jatim Awan

Sebanyak 65 Guru SMP di Surabaya Reaktif
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber