Berita Terbaru :
Begini Kondisi Widi B3 Setelah Suami Ditangkap karena Narkoba
Sambut New Normal, Pemprov Minta Ponpes Perketat Protokol Kesehatan
Kapolda Jatim Pastikan Bantuan Covid-19 Tersampaikan
Polisi Grebeg Pengedar Pil Setan Saat Edarkan Kepada Pemuda Desa
Menkes RI Memuji Perjuangan Surabaya Melawan Covid-19
Istri Jadi TKW, Pria Bejat Ini Setubuhi Anak Gadis Tetangga
Risma : Tercatat, 127 Anak - Anak Rentan Terpapar Covid-19
Ponpes Siapkan Protokol Kesehatan Sambut Santri Masuk Pondok
50 Ribu Rapid Tes Gratis Tersedia di ASDP Ketapang
Bakal Digelar 9 Desember 2020, Pilkada di Sidoarjo Terapkan Protokol Kesehatan
New Normal Diharapkan Mampu Kembalikan Omzet PKL
Rapid Test Massal, 68 Warga Reaktif Covid 19
Persiapan New Normal, Masyarakat Dilatih Mandiri dan Tidak Bergantung Pada Pemerintah
Rapid Test Massal Tidak Terapkan Phsycal Distancing
Kegiatan Belajar Mengajar Ponpes Annur Terhenti Sejak Pandemi Covid 19
   

Kiat Membangun Komunikasi Positif dengan Remaja
Life Style  Minggu, 25-08-2019 | 06:15 wib
Reporter :
Jakarta pojokpitu.com, Pada umumnya remaja memiliki keingintahuan yang besar, namun belum mampu memilih antara keinginan dan kebutuhan, dan ketika pilihan yang mereka tentukan tidak mendapat dukungan dari orang tua atau orang di sekitarnya, mereka merasa dunia seolah menentang dan tidak mengerti dengan kemauannya.

Kondisi ini bisa membuat mereka cepat merasa jenuh, frustasi, stres, dan bisa mempengaruhi perilakunya, seperti masuk ke dalam pergaulan yang kurang baik atau dorongan untuk melakukan tindakan kekerasan, merokok, mengonsumsi alkohol, narkoba dan seks bebas. Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi., Psikolog mengatakan, bahwa orang tua memiliki andil besar ketika anak-anak mulai memasuki masa remaja agar anak tidak mudah terjerumus ke hal atau tindakan yang tidak diinginkan.

Hal ini disampaikan Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi., Psikolog dalam acara sharing session yang diselenggarakan oleh EF English First bertajuk Kiat Sukses Berkomunikasi dengan Remaja, di SOS Childrens Villages.

Pada kesempatan yang sama, Cinthya, Marketing Manager EF English First mengatakan kegiatan ini merupakan komitmen EF untuk memberikan lebih banyak manfaat kepada masyarakat melalui pendidikan, dan acara tersebut merupakan rangkaian dari program EF Mobile yang telah diluncurkan pada 11 Juli lalu di SOS Childrens Villages Cibubur Jakarta.

"Topik dan materi yang diberikan, disusun berdasarkan kebutuhan orang tua asuh di SOS yang disampaikannya melalui tanya jawab kami dengan ibu-ibu asuh di sini. Sebagai orang tua, mereka ingin tahu bagaimana cara untuk menghadapi anak-anak mereka, terutama yang sudah menginjak masa remaja. Selain itu, mereka juga ingin membekali diri dengan lebih banyak lagi pengetahuan seputar pola asuh, untuk dapat memberikan yang terbaik bagi anak dan menjadikan mereka anak-anak yang mandiri," papar Cinthya.

Hal utama yang perlu dipahami orang tua adalah bagaimana proses tumbuh kembang anak saat memasuki usia remaja. Ada perbedaan antara otak remaja dengan otak.

Orang dewasa (adult brain), terutama pada perkembangan prefrontal cortex atau otak bagian depan yang berfungsi dalam pengambilan keputusan, menimbang baik dan buruk serta memilah tindakan yang tepat.

Prefrontal cortex pada orang dewasa telah berfungsi optimal sehingga mampu menentukan mana yang baik dan benar atau melakukan pertimbangan yang matang sebelum bertindak.

Pada remaja, bagian otak ini masih dalam proses perkembangan sehingga belum berfungsi dengan maksimal. Proses ini akan berlangsung hingga individu mencapai usia 20-25 tahun. Selama bagian ini belum berfungsi ideal, perilaku remaja akan lebih banyak dipengaruhi oleh emosi.

Berikut ini beberapa tips yang bisa dilakukan untuk membangun komunikasi yang positif dengan anak remajanya, terutama dalam situasi dan kondisi ketika anak berperilaku tidak menyenangkan atau tidak diharapkan orang tua.

Cara ini bisa dilakukan dengan duduk berdekatan dan sejajar dengan anak, tatap mata atau wajahnya, dengarkan tanpa menyela, tahan nasehat, dan tangkap emosi yang terlihat atau terdengar dari anak. Lalu tunjukkan bahwa kita memahami emosi yang anak rasakan. Dengan demikian anak akan merasa diterima dan dihargai emosinya. Anak yang merasa dihargai akan lebih mudah didekati dan diarahkan nantinya.

Saat menghadapi perilaku anak yang membuat kesal atau emosi, hindari "You message" atau kalimat dengan subjek Kamu", diikuti dengan kata-kata yang menggeneralisasi misalnya, Kamu tuh ya, gak pernah mau dengar kata Ibu!" atau Kamu selalu saja mengulangi kesalahan!" Kata-kata seperti ini, bisa membuat anak merasa diserang dan tidak diberikan kesempatan untuk menunjukkan perubahan, yang pada akhirnya membuat mereka jadi malas untuk berubah.

Cobalah untuk menggunakan "I message yang diawali dengan "Saya (orangtua) + Perasaan Saya (utarakan perasaan Anda) + Perilaku Anak", misalnya, Ibu sedih, kamu tidak mau mendengarkan kata-kata Ibu! atau Ayah kecewa kamu mengulangi lagi kesalahan yang sama!"

Nah, cara ini bisa diterima lebih baik oleh anak karena membuat mereka jadi tahu apa yang dirasakan oleh orangtuanya atau orang lain, sehingga mereka lebih terbuka, mudah untuk diajak bicara, diskusi, dan bekerjasama.

Ketika berada dalam situasi atau kondisi yang memicu emosi, orangtua juga perlu melakukan beberapa cara sederhana seperti pernafasan kotak (tarik dan buang nafas perlahan sambil membayangkan membuat bentuk kotak), orientasi panca indera (fokus pada apa yang Anda lihat atau dengar saat ini dan seterusnya), atau coba pertemukan ujung jari tangan kanan dengan kiri lalu rasakan denyutan di setiap ujung jari. Lakukan berulang, hingga emosi atau rasa tidak nyaman dalam diri terus berkurang dan hilang.

Dengan cara ini, kita dapat menenangkan emosi kita sendiri, sehingga kita dapat berpikir lebih jernih, dan bisa melakukan pendekatan yang lebih baik kepada anak.

"Kami berharap pengetahuan dan tips-tips yang diberikan oleh psikolog di sesi ini, dapat menjadi semangat baru bagi orangtua di SOS Childrens Villages dalam mengasuh dan menghadapi anak-anaknya, karena pastinya tidak mudah mengasuh mereka yang memiliki latar belakang yang berbeda. Kami pun ingin, kerja sama ini tidak terhenti sampai di sini, sehingga kami terus dapat memberikan dukungan melalui kegiatan atau program lain yang mereka butuhkan," pungkas Cinthya.(chi/jpnn/yos)


Berita Terkait

Kiat Membangun Komunikasi Positif dengan Remaja

Agar Tumbuh Kembang Anak Maksimal, Ayah Harus Ambil Peran
Berita Terpopuler
Membusuk Bunuh Diri, Diduga Akibat Depresi Gejala Covid-19
Peristiwa  13 jam

Pengusaha Kulit Ditemukan Tewas Membusuk di Lingkungan Industri Kecil
Peristiwa  9 jam

Kasus Positif Covid Tembus 62, 4 Sembuh
Covid-19  9 jam

1.931 Jamaah Haji Bojonegoro Gagal Berangkat ke Tanah Suci
Info Haji  7 jam



Cuplikan Berita
Dua Balita Warga Ngagel Reaktif Positif Covid 19
Pojok Pitu

Satu Keluarga Tersapu Ombak, Satu Orang Tewas, Satu Lagi Hilang
Pojok Pitu

Ini Syarat Kuota Khusus Untuk Putra-Putri Tenaga Kesehatan Covid 19
Jatim Awan

Klaster Gowa Menambah Jumlah Kasus Positif Covid-19 di Bondowoso
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber