Berita Terbaru :
Efektivitas Rendah, Rapid Tes Tak Perlu Berbayar
Kasus Covid-19 di Pacitan Meningkat Tajam, PLTU Jadi Ancaman Kluster Lokal
Akan Ada Revisi Perbup dan Perwali Untuk Percepat Penanganan Covid
Pandemi Covid 19, Kasus Narkoba Meningkat Didominasi Pengedar Lama
Sempat Rawat Inap di Puskesmas Selama 5 Hari, Santoso Tewas di Jalan Setapak Diduga Terpeleset
Polda Jatim Bentuk Satgas Nusantara Amankan Pilkada Di Masa Pandemi
Bakal Dikerjakan II Tahap, Revitalisasi Pasar Watualang Telan Biaya Hampir Rp 4 Miliar
Satpol PP Siap Turunkan Paksa Baliho Bodong
Kepala Bappeda Jatim Saat Ini Sedang Menjalani Perawatan Di Rumah Sakit Dokter Soetomo
Viral Press Ban Harga Rp 600 Ribu
Seorang Santri Gontor Ponorogo Terpapar Covid 19
Tiga Pedagang Reaktif, Pasar Kunir Ditutup
Rapid Tes Bagi Peserta UTBK Itu Ngawur
Tolak Tracing, Warga Usir Petugas Medis Covid-19
Langgar Perbup Wajib Masker, Pelanggar Dihukum Sapu Jalan
   

Biogas Dari Kotoran Ternak Jadi Alat Penerangan dan Kompor
Teknologi  Kamis, 15-08-2019 | 04:04 wib
Reporter : Farid Fahlevi
Tidak mau bergantung pada energi listrik, warga desa di Kabupaten Probolinggo memanfaatkan kotoran sapi menjadi biogas. Selain sebagai pengganti energi listrik, biogas juga dimanfaatkan untuk kebutuhan memasak. Foto Farid Fahlevi
Probolinggo pojokpitu.com, Banyak sapi di Desa Krejengan Kecamatan Krejengan Kabupaten Probolinggo, dimanfaatkan warga untuk tidak tergantung pada energi listrik dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Kotoran sapi dikembangkan menjadi biogas, sebagai pengganti energi listrik. Dengan sistem komunal yang sederhana, kotoran sapi milik warga disulap menjadi energi biogas. Caranya, kotoran sapi dikumpulkan dengan dicampur air.

Untuk menghasilkan biogas, warga membuat tabung sebagai tandon kotoran sapi. Ditambah tabung untuk menampung gas, yang disalurkan melalui pipa. Semakin banyak kotoran sapi yang dimasukkan ke dalam tabung, semakin banyak pula biogas yang dihasilkan.

Dengan bigoas, warga tak membutuhkan energi listrik untuk memanfaatkan lampu rumah, setrika, televisi, dan kebutuhan rumah tangga yang lain. Selain itu, buogas digunakan warga untuk memasak, sebagai pengganti LPG.

Siti Ulliya salah satu warga mengaku pemakaian biogas bisa menekan anggaran belanja. "Sebelumnya, dalam satu bulan satu kepala keluarga menghabiskan uang Rp 500 ribu untuk pembayaran listrik dan pembelian gas LPG," kata Siti.

Tak hanya biogas, warga juga memanfaatkan solar cell, sebagai energi listrik alternatif. Solar cell ini digunakan terutama untuk kebutuhan penerangan lampu jalan dan penerangan di sejumlah fasilitas umum.

Sementara itu menurut Nurul Huda, Kepala Desa Krejengan, pemanfaatan biogas dan solar cell telah berjalan sejak satu bulan terakhir. Selain memangkas pengeluaran, kreatifitas ini dapat menyelamatkan pemukiman dari pencemaran lingkungan.

"Jadi jangan heran, disaat warga desa lain kebingungan karena listrik mati dan harga LPG naik, warga kami justru tak terpengaruh," kata Nurul Huda. (pul)

Berita Terkait

Biogas Dari Kotoran Ternak Jadi Alat Penerangan dan Kompor

Inilah Hasil Olahan Sampah RT Menjadi Biogas

Manfaatkan Biogas dari Limbah Kotoran Sapi

Listrik Malah, Manfaatkan Biogas dari Limbah Kotoran Sapi
Berita Terpopuler
Dua Warga Blitar Tewas Usai Pesta Miras
Peristiwa  7 jam

Evakuasi Jasad Pendaki Lawu, Lewat Jawa Tengah
Peristiwa  8 jam

Satu Desa di Ponorogo Di-Lockdown, Puluhan Warga Diisolasi
Peristiwa  10 jam

Sopir Truk Asal Semarang Ditemukan Meninggal di dalam Truk Saat Parkir di SPBU
Peristiwa  6 jam



Cuplikan Berita
Puluhan Peserta UTBK Rapid Test di Lokasi Ujian
Pojok Pitu

Gempar, Bayi Perempuan Dibuang di Teras Rumah Warga
Pojok Pitu

Diduga Bawa BBM, Sebuah Mobil Terbakar di Dekat SPBU Keting
Jatim Awan

Diserang Tikus, Petani Ponorogo Resah
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber