Berita Terbaru :
12 Wartawan Jalani Rapid Test Kedua, Hasilnya Non-Reaktif
Pemkot Madiun Wacanakan Pola New Normal Sektor Pendidikan
Pasar Hewan di Lumajang Akan Kembali Dibuka
Nyinyirin Polisi di Sosmed, Pedagang Sayur Diperiksa
KPAI Buka Posko Pengaduan PPDB 2020, Ini Nomor Kontaknya
Penjelasan Deddy Corbuzier Soal Video Wawancara dengan Siti Fadilah
Penerimaan Siswa Baru Akan Digelar Secara Online
Dampak Covid-19 Investasi Kabupaten Madiun Belum Capai Target Triwulan I
   

Kemarau Panjang, Ratusan Petani di Pasuruan Cari Air Sejauh 10 Kilometer
Mataraman  Rabu, 14-08-2019 | 04:10 wib
Reporter : Abdul Majid
Pasuruan pojokpitu.com, Kemarau panjang mengakibatkan sejumlah daerah di Pasuruan mulai mengalami kekeringan, bahkan ratusan petani dari empat desa terpaksa mencari air dan bersihkan sungai sejauh 10 kilo meter.

Pasalnya, mereka kesulitan air untuk mengairi sawah dan ladang sehingga para petani mengalami gagal panen. Mereka berharap agar pemerintah daerah turun tangan dan mencarika solusi agar petani bisa bercocok tanam.

Ratusan warga dari empat desa yakni Desa Kedung Pengaron, Desa Kepuh, Desa Lorokan dan Randugong, Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan, terpaksa naik ke hulu unutuk mencari air dan membersihkan sungai sepanjang 10 kilo meter.

Dengan alat seadanya, para petani ini menyisir sungai hingga ke sumber nyonya yang berada di Kecamatan Tutur. Selain itu, mereka juga membersihkan sepanjang aliran sungai agar aliran air lancar sampai ke hilir.

Meski jarak tempuh dari sejauh 15 kilometer, warga pun rela jalan kaki untuk mendapatkan asupan air dan bisa mengairi ribuan hektar sawah.

Hal ini disebabkan karena kemarau panjang yang terjadi dalam beberapa bulan ini mengakibatkan sejumlah sungai dan irigasi mengering. Sehingga menyebabkan ratusan hektar sawah gagal panen lantaran tak dapat pasokan air.

Selain karena kemarau, mengecilnya aliran sungai di hulu juga disebakan banyak pengalihan sumber dengan pipa oleh pihak lain.

Kepala Desa Kepuh, Zamzami Nur, menjelaskan, sejatinya para petani juga mengandalkan sumur bor, namun karena sulitnya bahan bakar dan mahalnya harga sumur bor membuat petani tak bisa berbuat apa-apa. Belum lagi harus mengantri dengan petani lainnya.

Petani berharap agar pemerintah daerah turun tangan dan mencarikan solusi agar mereka bisa bercocok tanam dan tidak gagal panen lagi. (yos)

Berita Terkait

Memasuki Musim Pancaroba, 66 Desa di Trenggalek Masih Alami Kekeringan

Kemarau Berkelanjutan, Sumber PDAM di Pacitan Mengering

Warga Kabupaten Jember Kesulitan Air Bersih

Petani Memecah Batu di Sawah yang Masih Kering
Berita Terpopuler
Dampak Covid-19 Investasi Kabupaten Madiun Belum Capai Target Triwulan I
Politik  8 jam

Penerimaan Siswa Baru Akan Digelar Secara Online
Pendidikan  7 jam

Penjelasan Deddy Corbuzier Soal Video Wawancara dengan Siti Fadilah
Infotainment  5 jam

Pasar Hewan di Lumajang Akan Kembali Dibuka
Ekonomi Dan Bisnis  3 jam



Cuplikan Berita
Marah, Kapolda Copot Oknum Kapolsek Karena Tertidur Saat Rapat Dengan Walikota
Pojok Pitu

H-2 Lebaran, Stasiun Gubeng Surabaya Sepi Penumpang
Pojok Pitu

PSBB Surabaya Raya Bisa Diperpanjang, 2 Tahap Sebelumnya Dinilai Tak Efektif
Jatim Awan

Unik, Anak Anak Ini Berebut Uang Lebaran di Pagar Rumah Warga
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber