Berita Terbaru :
Lakukan Karantina Wilayah, Bantuan Terus Berdatangan
Cegah Covid-19, Ormas Lakukan Penyemprotan Disinfectan Swadaya
Ini Alasan Penting Tidur Cukup Bagi Penderita Diabetes
Pencuri Bersajam Bawa Kabur Sepeda Motor Usai Satroni Kampung
Pedagang Diduga Terpapar Covid-19, Pasar Grosir Surabaya Ditutup
Mendapat Protes Pedagang, PD Pasar Surya Tetap Menutup Pasar Kapasan
Untuk Mengetahui Stok Darah Aman di Jatim, Gubernur Sidak ke Kantor PMI Jatim
Rusunawa Milik Pemkab Lamongan Disiapkan Untuk Ruang Isolasi Covid 19
Belum Ada Hasil Positif Covid-19, Dewan Minta Penundaan Penutupan
Pengalihan Arus Surabaya-Ponorogo dan Sebaliknya
Dinas Pendidikan Jatim Minta Gedung SD Jadi Ruang Isolasi Pemudik
Tanah Gerak, 5 Rumah Warga Ponorogo Dikosongkan
Kendaraan yang Terlambat Bayar Pajak Selama 5 Tahun Bebas Denda
Warga Tetap Protes Kendaraan Berat Mengaspal di Jalan Raya Munggut
Longsor, Batu Raksasa Tutup Jalan Raya Ngebel
   

Tradisi Perang Nasi Untu Rayakan Panen Raya
Mataraman  Sabtu, 10-08-2019 | 13:00 wib
Reporter : Herpin Pranoto
Ngawi pojokpitu.com, Ratusan warga salah satu desa di Kabupaten Ngawi, menggelar tradisi perang nasi, untuk merayakan panen raya padi. Mereka saling melempar nasi bungkus, setelah melaksanakan kenduri di punden desanya.

Tradisi perang nasi digelar di punden desa Pelang Lor Kecamatan Kedunggalar Kabupaten Ngawi. Setelah menggelar kenduri, ratusan warga saling berebut nasi bungkus.

Mereka kemudian saling melempar nasi bungkus, untuk merayakan kegembiraan. Tradisi perang nasi, menarik banyak pengunjung , dari masyarakat sekitar maupun dari luar daerah.

Hariana, Kepala Desa Pelang Lor, menuturkan, tradisi perang nasi merupakan bagian dari tradisi perayaan panen raya dan bersih desa. Aktivitas ini, bentuk rasa syukur kepada tuhan yang maha esa, atas keberadaan mata air di desanya.

"Berbeda dari zaman nenek moyang, para pemuda kemudian menambahkan kegiatan, saling lempar nasi bungkus untuk meramaikan," kata Hariana.

Sebelum diperebutkan dan digunakan saling lempar, warga dan pengunjung,  diperbolehkan membawa pulang dan makan sepuasnya. Nasi bungkus tersebut, merupakan sumbangan dari warga yang dibawa dari rumahnya.

Setelah perang nasi selesai, warga kemudian mengumpulkan nasi yang berceceran untuk digunakan sebagai pakan ternak. Sisa makanan yang bercampur tanah, dianggap warga merupakan sedekah kepada  binatang yang ada di kawasan hutan. (yos)

Berita Terkait

Tradisi Perang Nasi Untu Rayakan Panen Raya
Berita Terpopuler
Belum Ada Hasil Positif Covid-19, Dewan Minta Penutupan Pasar Kapasan Ditunda
Metropolis  10 jam

Bondowoso Satu Keluarga Tewas Masuk Septic Tank 20 Meter
Peristiwa  10 jam

Kata Pasien COVID-19, Virus Corona Bukan Soal Penyakit Saja
Covid-19  15 jam

Dampak Covid-19, 34 Warga Binaan Madiun Dibebaskan
Hukum  22 jam



Cuplikan Berita
Jalan Darmo dan Tunjungan Surabaya Ditutup 2 Minggu
Pojok Pitu

Berburu Manisnya Buah Srikaya Puthuk Tuban
Pojok Pitu

Relawan Serahkan APD di RSUD Kanjuruhan Kepanjen
Jatim Awan

Kabupaten Nganjuk Menjadi Salah Satu Daerah Zona Merah di Jatim
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber