Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Opini 

Heroisme di Benteng Kedung Cowek
Sabtu, 27-07-2019 | 16:44 wib
Oleh : Nanang Purwono
Surabaya pojokpitu.com, Arti penting dari fungsi Benteng Kedung Cowek baru diulas dengan jelas pada tahun 2001 dalam buku 10 November 45. Mengapa Inggris membom Surabaya karya Batara R. Hutagalung. Pada saat terjadinya pertempuran hebat antara pejuang-pejuang Surabaya melawan tentara Sekutu, benteng tersebut menjadi saksi bisu keberanian prajurit-prajurit yang mengawaki meriam meriam penangkis serangan udara melawan keganasan mesin perang pasukan asing yang lebih moderen.

Berdasarkan buku Hutagalung bahwa untaian bangunan benteng pantai yang menghiasi pantai Kedung Cowek dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda. Merujuk pada cetak biru (blue print) yang diperoleh peneliti sejarah benteng Kedung Cowek, Ady Setyawan, bahwa design pembangunan benteng ini disetujui oleh perwira Genie Belanda di Batavia pada tanggal 15 Januari 1900. Dari hasil pembangunan, terlihat terdapat sejumlah meriam besar yang dilindungi oleh beton tebal dan kokoh. Meski menghadap ke laut (selat Madura), namun secara fisik benteng ini tidak terlihat dari laut. Sosok benteng seolah tersembunyi. Benteng Kedung Cowek dimaksudkan untuk menghadapi kapal-kapal musuh yang mendekati pelabuhan dan pantai Surabaya.

Namun, sampai saat pasukan Jepang menduduki wilayah jajahan Belanda (1942-1945), benteng tersebut tidak pernah digunakan. Selama pendudukan tentara Jepang, sistim persenjataan dan pertahanan semakin diperkuat. Ruginya, Jepang belum pernah menggunakannya juga. Praktis ketika Jepang menyerah kepada Sekutu, gugusan Benteng Kedung Cowek ini jatuh ke tangan pejuang-pejuang Indonesia. Semua perangkat sistim persenjataan dan pertahanan masih utuh.

Menjelang pertempuran 10 November 1945, pejuang-pejuang yang menduduki Benteng Kedung Cowek dikenal dengan nama pasukan Sriwijaya. Mereka adalah mantan pasukan Gyugun (bentukan Jepang) dan telah mempunyai pengalaman tempur melawan tentara Amerika Serikat. Pasukan ini sebagian besar berasal dari Tapanuli, Deli dan Aceh, yang dibawa oleh Jepang ke Morotai, Halmahera Utara karena Jepang kekurangan tentara selama perang dunia ke-2. Pasukan Sriwijaya (eks Gyugun) tersebut telah mengalami serangan bom (pemboman) serta gempuran pesawat terbang dan kapal perang Amerika saat mempertahankan Morotai.

Ketika Jepang menyerah, pasukan Gyugun termasuk yang berada di Morotai dibubarkan dan dilepaskan begitu saja. Kemudian mereka berupaya sendiri keluar dari Morotai dengan berbagai cara. Sekitar 400 - 500 orang diantaranya menaiki sejumlah perahu dan sampai terdampar di Madura. Dari sana mereka menyeberang ke Surabaya tanpa mengetahui lokasi yang ditempuh dan tidak menguasai bahasa Jawa serta tidak memiliki uang.

Secara kebetulan, Kolonel dr. Wiliater Hutagalung berjumpa dengan dua orang pimpinan rombongan pasukan Gyugun, yang berasal dari Tapanuli, Sumatra.  Setelah diberitau tentang proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, mereka sepakat membentuk pasukan sendiri (Sriwijaya) dan bergabung dengan tentara Indonesia yang sedang dalam proses pembentukan.

Selanjutnya pasukan Sriwijaya tersebut ikut dalam perebutan senjata dari tentara Jepang di Morokrembangan. Dari pasukan, yang sudah biasa menggunakan meriam, ditempatkan di Kedung Cowek. Sedangkan yang sanggup menggunakan senjata penangkis serangan udara disebar menurut lokasi meriam penangkis serangan udara yang ada.

Pada saat terjadi pertempuran 10 November 1945, terjadi pertempuran hebat di Benteng Kedung Cowek. Pada waktu kapal-kapal perang Inggris menembaki kota Surabaya, pihak Inggris sangat terkejut melihat ada perlawanan dari arah benteng benteng tersebut. Dari kwalitas tembakan, Inggris mengira yang melakukan tembakan tembakan meriam itu adalah anggota tentara Jepang yang tak tunduk pada perintah Sekutu.

Inggris sempat menyangka tentara Jepang melakukan tindakan penjahat penjahat perang (criminal war). Atas dasar itulah, maka Inggris membombardir benteng Kedung Cowek dengan segala kekuatan, mulai dari artileri hingga invanteri. Ada serangan ke arah benteng yang dilepaskan dari kapal kapal perang Inggris. Ada pula pasukan infantri yang diturunkan di darat dan menyerang dari belakang benteng. Karenanya di tembok benteng berbekas banyak lobang lobang akibat diberondong tembakan.

Dikemudian hari, dari informasi sejumlah orang Indonesia yang menyusup di pasukan Inggris terungkap bahwa Inggris tidak memperhitungkan kemampuan pejuang pejuang Indonesia dalam menggunakan meriam meriam berat yang terpasang di benteng Kedung Cowek. (yos)

Berita Terkait


Kalangan Akademisi Ikut Lestarikan Benteng Kedung Cowek

Benteng Kedung Cowek Dibangun Selama 7 Tahun (1900 - 1907)

Benteng Kedung Cowek: Antara Belanda Dan Jepang?

Heroisme di Benteng Kedung Cowek


Begini Isi Surat Terbuka Kepada Tim Ahli Cagar Budaya Terkait Benteng Kedung Cowek

Benteng Kedung Cowek Akan Ditetapkan Sebagai Cagar Budaya

Heroisme di Benteng Kedung Cowek

Benteng Kedung Cowek, Aset Bersejarah Yang Terpendam

Sponsored Content

loading...
Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber