Berita Terbaru :
Gubernur Jatim Membuka Masa Orentasi Sekolah Secara Virtual
Menpora Apresiasi PBSI Home Tournament
Xiaomi Siapkan Kejutan Ponsel Unik
Patroli Masker, Risma Perintahkan Kadis Turun Jalan Bagikan Masker
Tanam Sayur Untuk Ketahanan Pangan Di Masa Pandemi Covid-19
HNW: Pemerintah Harus Konsekuen Melaksanakan UU Pesantren
Pondok Gontor 2 Klaster Baru Covid-19, Begini Respons Gus Jazil MPR
Bursa Transfer: Kiper Tangguh ke Chelsea, Bintang Barcelona ke MU
Sejumlah Pria Bertubuh Kekar Menyobek Spanduk Partai Berkarya, Ada Tommy Soeharto
   

Benteng Kedung Cowek, Aset Bersejarah Yang Terpendam
Opini  Sabtu, 27-07-2019 | 15:49 wib
Reporter : Nanang Purwono
Surabaya pojokpitu.com, Benteng Kedung Cowek Surabaya masih terasa asing didengar. Tapi keberadaannya sudah lama di kota Surabaya, yang seolah tercipta sebagai kota pertahanan. Lokasi benteng berada di bibir pantai utara di kelurahan Kedung Cowek, kecamatan Bulak, Surabaya. Di era Hindia Belanda, Benteng Kedung Cowek tidak satu-satunya benteng pertahanan kota. Ada benteng-benteng lainnya yang tersebar di wilayah kota. Misalnya ada benteng Prins Hendrik, benteng Belvedere dan benteng Kalimas. Tapi sekarang Benteng Kedung Cowek menjadi satu satunya benteng yang masih berdiri kokoh (The Last Standing Fort). Lainnya sudah punah.

Sayang tidak banyak orang yang tau akan keberadaan benteng Kedung Cowek. Lokasinya memang di bibir pantai. Tapi tak terlihat dari pantai. Dipandang dari darat pun juga seolah tersembunyi, terkurung oleh lebatnya pepohonan. Padahal Benteng Kedung Cowek ini merupakan gugusan bangunan beton bertulang besi baja, yang berjajar di sepanjang garis pantai di kelurahan Kedung Cowek. Ada dua unit bangunan, yang masing masing memiliki 4 parapet lengkap dengan persenjataan artileri dan ruang amunisi. Ada beberapa single artileri udara yang lokasinya terpencar.

Penataan dan pembangunan benteng ini benar-benar diperhitungan dengan matang. Design pembangunan diresmikan oleh perwira Genie Hindia Belanda di Batavia (Jakarta) pada 15 Januari 1900. Memang ada perbedaan gambar design dengan realita di lapangan. Diduga, pembangunan benteng tidak sesuai dengan perencanaan. Namun, detail gambar pada penempatan laras meriam serta gudang amunisi terlihat sama. Jika dibangun sesuai dengan design, maka bangunan benteng akan tampil memanjang dalam satu kesatuan. Tapi realitanya tidak. Bangunannya terpisah pisah. Ada dua unit bangunan yang masing masing terdapat 4 laras meriam. Selebihnya sporadis dengan single ralas meriam penangkis serangan udara.

Pejuang-pejuang yang ternyata sudah ahli menggunakan meriam penangkis serangan udara dianggap sebagai cikal bakal kecabangan TNI AD, yang saat ini dikenal dengan Artileri Pertahanan Udara (Arhanud). Meskipun pejuang-pejuang tersebut tidak menamakan dirinya sebagai pasukan Artileri, namun kemampuan mengawaki meriam penangkis serangan udara melawan serangan musuh jelas merupakan identitas utama yang harus dijadikan sumber pengakuan siapa sesungguhnya senior senior prajurit artileri pertahanan udara TNI AD. Karenanya, Benteng Kedung Cowek dianggap sebagai cikal bakal kesatuan Arhanud TNI AD.

Berita Terkait

Benteng Kedung Cowek Resmi Menjadi Bangunan Cagar Budaya

Pemkab Ngawi Tutup Sementara Lokasi Benteng Pendem

Kalangan Akademisi Ikut Lestarikan Benteng Kedung Cowek

Pemerintah RI Bantu Revitalisasi Benteng Pendem
Berita Terpopuler
Bursa Transfer: Kiper Tangguh ke Chelsea, Bintang Barcelona ke MU
Sepak Bola  8 jam

Gubernur Jatim Membuka Masa Orentasi Sekolah Secara Virtual
Pendidikan  23 menit



Cuplikan Berita
Viral Hasil Tes Rapid Peserta UTBK Berubah
Pojok Pitu

Dokter dan Satpam Postif Covid 19, Puskesmas Wates Mojokerto Ditutup Sementara
Pojok Pitu

Delapan Terkena Corona, Membuat Ribuan Karyawan PT KTI Diliburkan
Jatim Awan

Ternyata Satu Tersangka Pengambilan Paksa Jenazah Positif Covid 19
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber