Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Metropolis 

Tirulah penamaan Jl. Stasiun kota, Jl. Stasiun wonokromo dan Jl. Smea
Sabtu, 13-07-2019 | 22:03 wib
Oleh : Nanang Purwono
Surabaya pojokpitu.com, Belum sembuh luka Surabaya, luka keluarga Bung Tomo dan luka pegiat sejarah Surabaya akibat robohnya bangunan bersejarah di jalan Mawar 10 Surabaya (2016), yang pernah dipakai Bung Tomo mengumandangkan pidato pidatonya lewat radio pemberontakannya (1945). Belum juga tuntas persoalan perubahan sebagian nama jalan Gunungsari menjadi nama jalan Prabu Siliwangi dengan kompensasi pembangunan monumen MasTrip (2018-2019).

Kini muncul lagi pemindahan (perubahan) nama jalan Bung Tomo, yang sudah berakar dalam di ruas jalan dekat makam pahlawan nasional Bung Tomo di TPU Ngagel Surabaya. Pemindahan (perubahan) nama jalan Bung Tomo ini mengulang kejadian buruk yang menuai protes sebagaimana peristiwa perobohan rumah radio (2016) dan perubahan nama jalan Gunungsari (2018-2019). Keduanya mengandung nilai-nilai sejarah kota Surabaya dan yang terbaru, perubahan atau pemindahan nama jalan Bung Tomo, juga mengandung nilai sejarah, khususnya sejarah sosok pahlawan nasional Bung Tomo.

Usulan pemindahan (perubahan) nama jalan Bung Tomo ini menunjukkan betapa sang pengusul ini sangat tidak menghormati semangat yang melatar belakangi penyematan nama jalan Bung Tomo di dekat TPU Ngagel. Penyematan nama Bung Tomo untuk ruas jalan di depan TPU Ngagel adalah karena di sana diistirahatkan pahlawan nasional Bung Tomo, sosok pejuang yang sangat berjasa besar dalam pertempuran Surabaya tahun 1945.

Tujuannya agar warga Surabaya dan masyarakat umum (Indonesia) dapat mengenali lokasi pemakaman pahlawan nasional ini. Nama jalan Bung Tomo sekaligus menjadi tetenger keberadaan tempat peristirahatan terakhir Bung Tomo. Bahwa Bung Tomo tidak dimakamkan di TPU Kapas Surabaya, tidak dimakamkan di TPU Kalibata Jakarta atau di TPU Keputih Surabaya, tapi di TPU Ngagel yang dilewati ruas jalan yang sejak tahun 2000 dinamai jalan Bung Tomo. Sebelumnya, ruas jalan di depan TPU Ngagel itu bernama jalan Kencana. Alasan perubahan nama jalan Kencana menjadi jalan Bung Tomo sudah jelas adanya. Yaitu menandai keberadaan makam Bung Tomo.

Kini di tahun 2019, seiring dengan penamaan dan perubahan sejumlah jalan di kota Surabaya, nama Bung Tomo kembali diutak atik. Nama jalan Bung Tomo, yang selama ini berdampingan serasi dengan makam Bung Tomo di Ngagel, diusulkan dipindahkan ke jalan yang berdekatan dengan Gelora Bung Tomo (GBT) di daerah Benowo. Menimbang usulan dan rencana ini, terlihat secara kwalitatif bagaimana apresiasi sang pengusul terhadap sosok pahlawan nasional Bung Tomo, sang pahlawan yang berkontribusi menjadikan nama kota ini, Surabaya, menjadi kota Pahlawan.

Siapakah sang pengusul ini? Silakan jawab sendiri!

Jika nama Bung Tomo dimaksudkan untuk memberi tetenger pada sebuah eksistensi bangunan gelanggang olah raga (GOR) yang bernama Gelora Bung Tomo (GBT), apakah harus dengan mencabut (memindahkan) nama jalan Bung Tomo dari lingkungan makam Bung Tomo di Ngagel ke lingkungan Gelora Bung Tomo di Benowo? Tidak adakah cara bijak dan terhormat untuk menamai jalan yang berada di dekat Gelora Bung Tomo (GBT), tanpa harus memindahkan nama jalan Bung Tomo dari Ngagel?

Bisa saja nama jalan di dekat Gelora Bung Tomo (GBT) ini dinamai Jl. Gelora Bung Tomo, Jl. GOR Bung Tomo atau Jl. Stadion Bung Tomo. Jadi, tidak harus menghapus nama Jl. Bung Tomo, yang dulunya bernama Jl. Kencana di dekat TPU Ngagel itu.

Di Surabaya, penamaan nama jalan yang menunjukkan akan keberadaan sebuah bangunan penting dan fenomenal, sudah pernah ada dan ini bisa ditiru untuk penamaan nama jalan yang memberi petunjuk pada keberadaan bangunan stadion Bung Tomo yang fenomenal juga. Contoh nama jalan itu adalah Jl. Stasiun Kota. Nama jalan ini memberi petunjuk pada eksistensi bangunan Stasiun Kota (Semut). Juga ada nama Jl. Stasiun Wonokromo (petunjuk keberadaan bangunan Stasiun Wonokromo) dan nama Jl. SMEA yang menjadi petunjuk keberadaan gedung sekolah SMEA.

Mengapa untuk menunjukkan keberadaan gedung Gelora Bung Tomo (GBT) saja harus dengan mencabut nama Jl. Bung Tomo, yang secara historis merupakan upaya penghargaan kepada pahlawan nasional Bung Tomo yang dimakamkan di Ngagel?

Mengapa untuk menunjukkan keberadaan gedung Gelora Bung Tomo (GBT) tidak meniru penamaan jalan seperti Jl. Stasiun Kota, Jl. Stasiun Wonokromo dan Jl. SMEA? Ayo berbijak dalam membuat nama jalan!

Berita Terkait


DPRD Surabaya Bentuk Pansus Perubahan Nama Jalan

Tirulah penamaan Jl. Stasiun kota, Jl. Stasiun wonokromo dan Jl. Smea

Mas TRIP Jatim dan Gubernur Jatim Bahas Perubahan Nama Jalan

Semangat Hijrah di Jalan Gunungsari dan Dinoyo.


Diwarnai Aksi WO, Perubahan Nama Jalan Gunungsari dan Dinoyo Disahkan

Perubahan Nama Jalan Tetap Berjalan dan Rapat Paripurna Diwarnai Walk Out

Tolak Perubahan Nama Jalan, Pejuang Veteran Ikut Geruduk Kantor Dewan

Tak Setuju Perubahan Nama Jalan, Begini Sikap Fatchul Muid

Sponsored Content

loading...
Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber