Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Life Style 

Depresi, Setiap 40 Detik Terjadi Kasus Bunuh Diri
Senin, 24-06-2019 | 01:25 wib
Oleh :
pojokpitu.com, Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) pada 2017 menyatakan, gangguan depresi kini menduduki peringkat keempat penyakit di dunia. Sekitar 300 juta dari total populasi dunia menderita depresi.

Meski demikian, tingginya angka prevalensi gangguan depresi tidak diikuti dengan meningkatnya pemahaman mengenai gangguan ini di dalam masyarakat. Terlebih lagi ada banyak stigma beredar mengenai depresi dan menghambat orang dengan depresi mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan untuk bisa menjalani kehidupan kembali secara normal.

Depresi adalah suatu kondisi medis yang dapat dikategorikan menjadi tiga jenis gejala: gejala terkait suasana hati (suasana hati yang buruk, minat yang rendah, kecemasan, motivasi yang rendah, dsb), gejala kognitif (gangguan konsentrasi, kesulitan dalam membuat rencana, pelupa, lambat dalam menanggapi dan bereaksi, dsb), dan gejala fisik (nyeri, gangguan tidur, gangguan nafsu makan, dsb).

Meskipun manifestasi utama dari gangguan ini berupa suasana hati yang buruk dan perasaan sedih, penting untuk mengingat bahwa gejala-gejala kognitif dan fisik dapat berkontribusi terhadap gangguan fungsi pada pasien dan memengaruhi kualitas hidup mereka.
Pada beberapa pasien, depresi dapat memunculkan pikiran bunuh diri hingga tindakan bunuh diri itu sendiri.

WHO pada 2017 memerkirakan bahwa setiap 40 detik terjadi kasus bunuh diri. Deteksi dini dan perawatan yang tepat dapat meningkatkan remisi, menghindari terjadinya kekambuhan, mengurangi beban emosi dan beban keuangan yang timbul oleh gangguan depresi ini.

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), Dr. Eka Viora, SpKJ, menjelaskan, banyaknya stigma yang beredar terhadap depresi menghalangi para penderitanya mendapatkan dukungan yang tepat.

Stigma tersebut menghambat orang dengan depresi untuk mencari dukungan yang mereka butuhkan untuk bisa menjalani kehidupan kembali secara normal.

"Depresi lebih sering dilihat sebagai aib daripada penyakit karena berkenaan dengan kesehatan mental, bukan fisik," kata Dokter Eka, Sabtu (22/6).

Dia bersama dengan rekan-rekannya sedang berusaha meningkatkan kesadaran bahwa depresi adalah penyakit sebagaimana penyakit lainnya. Orang dengan gangguan depresi bisa pulih sepenuhnya dan penderitanya juga seharusnya bisa tanpa ragu-ragu mencari dukungan dan pengobatan.

DR. Dr Margarita Maramis, SpKJ (K), Ketua Divisi Mood Disorder Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) menambahkan bahwa stigma ini menyebabkan terjadinya diskriminasi terhadap para orang dengan depresi, antara lain asumsi bahwa penderita tidak mau bersosialisasi, tidak bisa dipercaya, dan membuat canggung keadaan.

Akibatnya adalah sebagian dari orang dengan depresi kemudian menjauhkan diri dan menghindari hubungan yang terlalu pribadi dengan orang lain, hingga berhenti bekerja atau berhenti sekolah.

Gangguan depresi juga bisa memengaruhi fungsi kognitif selain suasana hati dan gejala fisik lainnya. Hal ini bisa berkontribusi terhadap gangguan fungsi pada orang dengan depresi di lingkungan kerja, masyarakat, maupun kehidupan berkeluarga.

Prof. Pratap Chokka (Profesor Klinis and Konsultan Psikiater) dari Kanada menyampaikan hasil penelitian terbarunya (AtWoRC) yang mengamati gejala kognitif pada depresi. Temuan utama dari penelitian ini menunjukkan bahwa gejala kognitif pada depresi secara signifikan berkontribusi terhadap penurunan produktivitas kerja atau gangguan fungsi dalam kegiatan sehari-hari, misalnya gangguan konsentrasi, kesulitan dalam mempertahankan fokus, pelupa, lambat dalam menanggapi percakapan atau mengelola tugas sehari-hari.

Selama dekade terakhir, definisi dari kesuksesan penanganan gangguan depresi telah berubah menjadi pemulihan fungsi sepenuhnya, dimana pasien tidak hanya merasa jauh lebih baik tetapi mampu memulihkan fungsi mereka di rumah, di tempat kerja, dan terintegrasi kembali dengan masyarakat. Ada beberapa pihak yang salah paham dengan beranggapan bahwa antidepresan tidak membawa manfaat bagi pasien dan memiliki banyak efek samping.

Prof Vladimir Maletic, MD, seorang profesor klinis neuropsikiatri di Fakultas Kedokteran, University of South Carolina, Amerika Serikat menjelaskan bahwa antidepresan telah mengalami perubahan evolusi selama bertahun-tahun dan saat ini sudah dikembangkan antidepresan baru seperti Vortioxetine yang tidak hanya memperbaiki gejala-gejala terkait suasana hati tetapi juga mengatasi gejala-gejala kognitif sehingga membantu pasien mencapai pemulihan fungsional.

Hal yang lebih penting lagi adalah Vortioxetine juga dilaporkan memiliki efek samping yang lebih minimal. (esy/jpnn)

Berita Terkait


Seribu Lilin Untuk Peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri

Seorang Pemuda Bunuh Diri Terjun Bebas Dari Menara Masjid

Nalini Muhdi: Angka Bunuh Diri di Indonesia Terus Meningkat

Seorang Pemuda Tewas Gantung Diri di Depan Halaman Sekolah


Depresi, Setiap 40 Detik Terjadi Kasus Bunuh Diri

Kevin Aprilio Nyaris Bunuh Diri, Addie MS: Untung Jantungku Enggak Lepas

Sakit Tak Kunjung Sembuh, Pasien Kabur Dari RS Hingga Bunuh Diri

Pasuruan Geger, Ibu Ajak Anak Bunuh Diri Minum Racun Ikan

Sponsored Content

loading...
Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber