Berita Terbaru :
Satu Keluarga di Ponorogo Terpapar Covid 19
Tiga Reaktif dan Satu Positif Covid 19 Gedung Dewan Ditutup Total
86 Santri Gontor Kampus 2 Dinyatakan Sembuh dari Covid 19
Dua Ratusan ASN Terlambat Masuk Kerja, Diberi Sanksi Khusus Oleh Bupati
Sejumlah Peserta Test Protes Pelantikan Perangkat Desa
Pastikan Beras BPNT Layak Konsumsi Sebelum Didistribusikan
Tambahan 9, Total 120 Pasien Covid-19 Sembuh
Dijemput Mobil, Anak-Anak Belajar di Kantor Kecamatan
Ribuan Santri Dan Buruh Demo Tolak RUU HIP
Dilaporkan Warga, Polusi PT Berdikari Jaya Bersama (BJB) Ternyata Hasil 3 Laboratorium Masih Ambang Batas
Seribu Bendera Dikibarkan Serentak Warga Desa Mulyorejo
Anak Sangat Usil, Perlukah Ada Reward dan Punishment ?
Kasus Pembunuhan Istri Ternyata Bermotif Ekonomi dan Asmara
Petani pasuruan ini Sulap Kebunnya Jadi Wisata Petik Apel
Yayasan Harfin Gosari gelar Shalat Idul Adha dan Bagikan 5 Ton Daging Kurban
   

Industri Tekstil Kesulitan Dapatkan Bahan Baku
Ekonomi Dan Bisnis  Kamis, 23-05-2019 | 09:16 wib
Reporter :
Jakarta pojokpitu.com, Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat menjelaskan, selama ini industri kecil dan menengah (IKM) tekstil dalam negeri mendapatkan bahan baku untuk produksi dengan harga yang tinggi lantaran membeli secara individual atau belum terkonsolidasi.

Tingginya harga bahan baku itu juga disebabkan IKM belum memiliki akses langsung kepada produsen penyedia bahan baku.
Karena itu, kata dia, pemerintah harus membenahi produsen kain, terutama masalah limbah hingga permesinannya.

"Dengan pembenahan ini, mereka bisa mencukupi kekurangan yang tadinya impor bisa diisi produsen dalam negeri. Jangan sampai kalau kebanyakan impor bisa membuat neraca perdagangan bisa defisit," ujarnya, Selasa (21/5).

Ade menambahkan, sebenarnya masalah ketersedian bahan baku untuk tekstil telah diatur Permendag No 64/M-DAG/PER/8/2017 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 85 Tahun 2015 tentang Ketentuan Impor Tekstil dan Produk Tekstil.

Karena itu, dia berharap aturan tersebut bisa benar-benar direalisasikan untuk memudahkan IKM dalam mendapatkan bahan baku dan bahan penolong impor, kemudahan pengadaan dan alat produksi impor, serta memperpendek rantai pasok antara produsen bahan baku dan para IKM.

"Dengan demikian, IKM, khususnya produk tekstil dan produk tekstil, akan menjadi andalan untuk menyuplai kebutuhan pasar dalam negeri dan selanjutnya dapat menyuplai pasar luar negeri atau ekspor," urai Ade.

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) mencapai USD 15 miliar pada 2019.

Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kemenperin Muhdori menyatakan, TPT merupakan salah satu kelompok industri pengolahan yang dikategorikan sebagai industri strategis dan prioritas nasional sesuai dengan Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN).

"Perkembangan industri TPT dalam 2 tahun terakhir terus membaik di pasar domestik maupun global. Hal ini didasarkan pada laju pertumbuhan sampai dengan kuartal IV 2018 yang naik sebesar 8,73 persen serta peningkatan ekspor 5,55 persen," ujar Muhdori. (agf/c25/oki/end)

Berita Terkait

Industri Tekstil Kesulitan Dapatkan Bahan Baku
Berita Terpopuler
Kasus Pembunuhan Istri Ternyata Bermotif Ekonomi dan Asmara
Peristiwa  4 jam

Nadim Perbolehkan Dana BOS Untuk Beli Kuota Internet
Pendidikan  5 jam

Anak Sangat Usil, Perlukah Ada Reward dan Punishment ?
Konsultasi Psikologi  3 jam

Dijemput Mobil, Anak-Anak Belajar di Kantor Kecamatan
Peristiwa  2 jam



Cuplikan Berita
Ratusan Ibu Hamil Swab Massal di Gelora Pancasila
Pojok Pitu

Begini Pengakuan Bupati Menanggapi Pemakzulan DPRD Jember
Pojok Pitu

Jual Beli Tebu Diluar Pabrik Meresahkan PG Lestari
Jatim Awan

Dampak Pandemi, 68 Ribu Warga Bojonegoro dan Tuban Menunggak Iuran BPJS
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber