Berita Terbaru :
Jatim Beri Kuota Khusus Untuk Putra-Putri Tenaga Kesehatan Covid 19
Klaster Gowa Menambah Jumlah Kasus Positif Covid-19 di Bondowoso
PSSI Pastikan Persiapan Timnas U-16 dan U-19 Jalan Terus
Bertahan Hidup di Tengah Pandemi Covid-19, Detailer Farmasi Menjual Kopi Keliling Dengan Sepeda Angin
Jatim Beri Kuota Khusus Untuk Putra-Putri Tenaga Kesehatan Covid 19 Masuk SMA/SMK Negeri
Ford Sematkan Fitur Ini di Mobil Polisi untuk Membunuh Virus Corona
Microsoft Mulai Gantikan Tugas Jurnalis dengan Robot
Dua Balita Warga Ngagel Reaktif Positif Covid 19
5 Jam Pencarian, Pemuda Penjaring Ikan Tenggelam Ditemukan Meninggal Dunia
   

Neraca Dagang Indonesia Defisit Terbesar Sepanjang Sejarah
Ekonomi Dan Bisnis  Kamis, 16-05-2019 | 12:01 wib
Reporter :
Jakarta pojokpitu.com, Neraca perdagangan Indonesia pada April 2019 mengalami defisit sebesar USD 2,50 miliar. Angka itu merupakan yang terbesar sepanjang sejarah. Defisit didorong nilai ekspor yang turun lebih dalam dibanding impor. Pada April lalu, nilai ekspor tercatat USD 12,6 miliar. Angka tersebut turun 13,10 persen dibanding ekspor pada April 2018.

Impor yang tercatat USD 15,10 miliar juga turun, tetapi hanya 6,58 persen secara year-on-year (yoy).

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyatakan, hal itu disebabkan beberapa faktor.

Yakni, ekspor yang melemah sekaligus meningkatnya impor menjelang Ramadan yang jatuh pada Mei.

"Namun, ini perlu diantisipasi karena tantangan perdagangan global ke depan semakin sulit akibat perang dagang," katanya, Rabu (15/5).
Ekonom Bank Mandiri Dendi Ramdani mengungkapkan, defisit neraca dagang pada April lalu dipicu anjloknya kinerja ekspor, khususnya komoditas batu bara dan CPO.

Selain dua komoditas tersebut, sambung Dendi, ekspor migas turun cukup dalam.

"Ini (defisit) karena efek harga dua komoditas yang anjlok," jelasnya.

Dendi memprediksi kinerja neraca dagang belum akan membaik di semester kedua tahun ini.

Dia menyebut cukup sulit bagi ekspor untuk recovery karena harga komoditas diperkirakan masih rendah.

Karena itu, pihaknya menilai harus ada alternatif komoditas ekspor selain CPO dan batu bara.

"Ekspor alternatif yang digenjot seperti garmen atau otomotif untuk mengompensasi penurunan komoditas," tambahnya. (rin/ken/agf/c15/oki/jpnn/pul)

Berita Terkait

Neraca Perdagangan Jatim Surplus 60,12 Juta USD

Neraca Dagang Indonesia Defisit Terbesar Sepanjang Sejarah

Neraca Perdagangan Jatim Periode Januari - Desember Defisit USD 5,35 Miliar

Jatim Alami Defisit Neraca Perdagangan
Berita Terpopuler
5 Jam Pencarian, Pemuda Penjaring Ikan Tenggelam Ditemukan Meninggal Dunia
Peristiwa  10 jam

Dua Balita Warga Ngagel Reaktif Positif Covid 19
Metropolis  7 jam

Microsoft Mulai Gantikan Tugas Jurnalis dengan Robot
Teknologi  7 jam

Bertahan Hidup di Tengah Pandemi Covid-19, Detailer Farmasi Menjual Kopi Kelilin...selanjutnya
Life Style  3 jam



Cuplikan Berita
Gelombang Tinggi Terjang Pantai Selatan Lumajang
Pojok Pitu

Puluhan Rumah Warga Pantai Sine Terendam Banjir Rob
Pojok Pitu

Banjir Terjang 5 Kecamatan di Tengah Pandemi Covid-19
Jatim Awan

Dua Truk Pasir Terseret Lahar Dingin Semeru
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber