Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Opini 

Bertanam Durian di Desa Terpencil Lereng Gunung Wilis
Rabu, 15-05-2019 | 17:50 wib
Oleh : Maryam Endang Pergiwati
pojokpitu.com, Tigapuluh tahun yang lalu, sekitar awal tahun 1990 an, rumah - rumah di Desa Wayang, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo ini masih berdinding bambu. Listrik pun belum ada, sehingga pada malam hari, hanya lampu - lampu minyak yang menemani anak - anak desa terpencil itu belajar.

Desa Wayang terletak di sebelah timur, sekitar 23 kilometer dari pusat Kabupaten Ponorogo. Dengan ketinggian 512 m (dpl), desa yang terletak di lereng pegunungan ini praktis bersuhu dingin, sekitar 21 - 27 derajat celsius. Selain suhu yang sejuk, panoramanya yang indah membuat nyaman penduduk dan tamu yang berkunjung ke desa tersebut.

Sayangnya, infrastruktur daerah tersebut masih belum tergarap dengan baik, pada masa itu. Kabel listrik dan tiang-tiang baru masuk di desa itu sekitar tahun 1992. Memang, masa 30 tahun yang lalu adalah masa sulit, saat listrik belum ada, jalan desa belum beraspal, masih tanah liat yang licin, sementara rumah-rumah warga pun masih berdinding anyaman bambu ( gedheg, jw).

Kondisi ini cukup ironis. Sementara sejumlah desa di kabupaten lain, sudah bisa menikmati terangnya lampu neon dan rumah berdinding batu bata dan semen. Tak heran, Desa Wayang masuk dalam kategori desa tertinggal kala itu. Waktu seolah terhenti di daerah pegunungan yang terjal itu.

Karena kondisi tersebut, desa ini harus menjalani sejumlah program pembangunan khusus dari pemerintah pusat, guna mengangkat taraf kehidupan penduduknya, diantaranya pembangunan infrastruktur, serta penyediaan fasilitas pendidikan dan kesehatan.

Namun program dari pemerintah ini memang tidak bisa mengubah kondisi desa ini hanya dalam waktu semalam. Butuh waktu, niat yang sungguh-sungguh, dan energi yang besar untuk mewujudkan peningkatan taraf hidup masyarakat.

Keterbatasan menumbuhkan daya adaptasi dan kreatifitas. Agaknya ungkapan ini berlaku di Desa Wayang. Tidak semua warga desa ini hanya menunggu sokongan fasilitas dari pemerintah. Seperti yang dilakukan Pak Kadir (65) bersama anak sulungnya, Joko (34). Mereka memilih berpikir keras memanfaatkan potensi yang ada untuk dikembangkan dengan caranya sendiri.

"Awalnya saya dan teman-teman di sini tercetus ide untuk membuat radio komunitas. Harapannya waktu itu dengan kondisi jarak rumah antar warga yang relatif berjauhan, kami ada media komunikasi yang efisien bagi warga, yah minimal untuk sosialisasi program dari kelurahan atau sekedar mendengarkan musik kelenengan campursari sembari saling berkirim salam," ujar Joko tersenyum mengingat awal mula radio komunitas di desa itu, 7 tahun yang lalu. Dari komunikasi yang intensif di dalam komunitas desa itu memicu timbulnya ide-ide segar yang lebih progresif.

Pak Kadir berbekal materi penyuluhan yang didapatnya dari aparat desa, serta pengalaman bekerja di satu lahan usaha pembibitan di kota Ponorogo, mulai menyemai bibit durian di tahun 1998.

Satu persatu biji durian ditanam dan dirawat secara khusus. Pengetahuan perawatan itu didapatnya secara otodidak. Mulai dari materi penyuluhan, beberapa buku yang dibaca serta upaya mempraktekkan pengetahuan yang didapat. Meski tidak menempuh pendidikan tinggi di jalur formal, semangat belajar membuatnya mampu melewati kendala demi kendala yang ditemui dalam perjalanannya merawat bibit durian.

"Faktor keberhasilan itu terletak pada semangat untuk terus mencoba. Jangan mudah putus asa!" tegas Pak Kadir. Dengan sikap yang bersahaja, Pak Kadir berharap suatu saat dapat menjadikan desanya menjadi salah satu tujuan agrowisata dengan cara mengembangkan pengajaran semai bibit durian dan teknik okulasi bagi seluruh warga.

Tanpa ada maksud berjualan bibit dan mata tunas di awal ia memulai project penanaman durian di kebunnya, kini banyak tamu yang berkunjung ke rumahnya untuk belajar teknik okulasi atau penyambungan bibit durian dengan mata tunas yang diambil dari pohon induk  yang sudah produktif. Tujuannya adalah untuk mempersingkat fase pendewasaan tanaman durian sehingga dapat lebih cepat berbuah.

Dalam metode perbanyakan vegetatif durian hanya dapat berbuah di usia lebih dari 10 tahun. Selain itu, secara daring (online) Pak Kadir kerap menerima pesanan bibit, mata tunas dan buah hingga ke berbagai wilayah, termasuk ke luar negeri, seperti Brunei Darussalam, Thailand dan Malaysia. Hal itu terjadi lantaran Joko, putra sulungnya kerap mengunggah aktifitas Pak Kadir di kebun durian selama beberapa tahun terakhir ini pada kanal youtube Putra Rimba.

"Ketika saya ke kota, saya lihat kok banyak warnet. Dulu wartel sekarang ada warnet. Saya penasaran apa saja yang dilakukan anak-anak kota di warnet-warnet itu. Lantas saya pelajari terus fungsi dan manfaat teknologi internet itu, lama-lama saya bisa membuat kanal Youtube. Itu sekitar tahun 2013, lalu saya mulai mengunggah aktifitas apapun di Desa Wayang, terutama tentang keindahan alamnya. Akhirnya suatu saat tercetus, kenapa nggak saya unggah saja khusus aktifitas bapak, saya kira cukup menarik. Alhamdulilah, sekarang kanal saya sudah di-subscribe 12 ribu lebih pengguna Youtube dan Google sudah mengirimkan kepada saya notifikasi AdSense," tuturnya mengenang awal mula ia menjadi youtuber.

Tanpa disangkanya, tayangan video yang ditampilkan melalui kanal Youtube membuat dirinya dan sang ayah dikenal luas di kalangan praktisi perkebunan durian. Beberapa undangan datang kepada Pak Kadir untuk mengajarkan teknik okulasi di beberapa daerah, seperti Bandung dan Bogor.

Bisa jadi, langkah Joko mengisi channel Youtube benar - benar mampu menembus keterbatasan akses yang dimiliki. Desa Wayang sekarang memang berbeda dengan 30 tahun silam, saat Joko kecil masih duduk di bangku SD mengerjakan PR dengan penerangan lampu minyak. Kini tidak hanya listrik, internet pun bisa dinikmati sebagian warga desa tersebut. Melalui jaringan wifi yang menempel pada menara radio komunitas yang berdiri di halaman rumahnya.

Dengan panorama Desa Wayang yang indah dan banyaknya warga yang tertarik untuk ikut menanam pohon durian, bukan tidak mungkin cita-cita Pak Kadir dapat terealisir. Tak kurang dari 5 varietas durian unggulan, seperti Musang King, Duri Hitam, Bawor, Monthong dan Kani telah berbuah tiap tahunnya di kebun Pak Kadir sejak 3 tahun terakhir.

Kesenjangan pendidikan yang terjadi antara perkotaan dan pedesaan  terpencil memang terjadi dan tak terelakkan, namun kiranya selalu muncul orang - orang yang terpacu melintasi keterbatasan dengan memanfaatkan apa yang ada di sekelilingnya.

Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur 2018, di Jawa Timur masih terdapat 82 desa tertinggal dan 6820 desa berkembang , sedangkan desa mandiri hanya 1035 desa dari total 7721 desa di Jawa Timur.

"Indeks pembangunan desa disusun dari 5 dimensi, yakni pelayanan dasar, kondisi insfrastruktur, transportasi, pelayanan umum, dan penyelenggaraan pemerintah desa," kata Teguh Pramono, Kepala BPS Jawa Timur.

Dilihat dari potensi ekonomi ada beberapa industri mikro dan kecil yang mendominasi seperti industri dari kayu, makanan minuman, gerabah, keramik, batu, anyaman, kain atau tenun, logam, dan kulit. Selain itu, ada pula 262 desa yang memiliki potensi wisata.

Data tersebut tentu menjadi tugas besar, utamanya pemerintah untuk melakukan upaya-upaya perbaikan strategis yang berkwlanjutan sebagaimana diamanatkan oleh Undang-undang yang berlaku.(red)


Berita Terkait


Bertanam Durian di Desa Terpencil Lereng Gunung Wilis

Kekuasaan Vs Kebenaran atas Gunungsari dan Dinoyo

THE BEAUTY AND THE BEAST dalam Peringatan 17 Agustus 2018 di Kota Pahlawan Surabaya

Optimalisasi Data BMKG Memutus Ancaman Bencana Banjir dan Longsor


Yorrys Ingatkan Kubu Ical Jangan Terus Tebar Opini

Sponsored Content

loading...
Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber