Berita Terbaru :
HUT Surabaya, Masyarakat Berziarah Ke Makam Bung Tomo dan Dokter Soetomo
Surabaya Zona Merah, BIN Perpanjang Waktu Rapid Test Massal
Miliki Jiwa Sosial Tinggi, RT/RW di Surabaya Bentuk GERMAS Menangkan Machfud Arifin
Dengan Nasi Tumpeng, Walikota Surabaya Peringati Hari Jadi Surabaya Ke 722
Seorang Nenek Ditemukan Tewas Membusuk Di Dalam Rumah
Satu Keluarga Tersapu Ombak, Satu Orang Tewas, Satu Lagi Hilang
Antisipasi Covid - 19 Pasca Libur Lebaran, Ratusan Karyawan Pabrik Dirapid Test
Kuliner Khas Madura Yang Hanya Dibuat di Hari Ke-7 Setelah Lebaran
Pemudik Positif Covid-19, Keluarga dan Warga Rapid Test
Kasus Positif Covid-19 di Tulungagung Bertambah 7 Orang, 2 Di Antaranya Ibu Yang Melahirkan
Hujan Deras Mengguyur Kecamatan Sumawe, Desa Tambakrejo Terendam
Ratusan Kentongan Disiagakan Untuk Halau Warga Nekat Masuk Desa
Saat Usia Berapa Anak Boleh Memakai Kawat Gigi?
Demi Bertahan Hidup, Nissan Terpaksa Setop Produksi 14 Model
Ketua DPRD Bojonegoro Tanggapi Polemik Kenaikan Tunjangan
   

Mengenal Pengrajin Gerabah Bernilai Jutaan Rupiah
Mataraman  Sabtu, 20-04-2019 | 02:15 wib
Reporter : Edwin Adji
Pacitan pojokpitu.com, Usaha gerabah rakyat memang harus tertatih-tatih bersaing dengan gempuran keramik-keramik murah buatan luar negeri. Namun sejumlah kerajinan gerabah seni, di daerah seperti di Kecamatan Kebonagung Pacitan, mencoba masih bertahan dengan kreasi mereka dengan gerabah seni yang menarik.

Bagi warga Dusun Gunung Cilik, Desa Purwoasri, Kecamatan Kebonagung Pacitan, tanah merupakan sumber kehidupan. Bukan ditanami, melainkan diolah menjadi gerabah.

Meningat tanah merah yang ada di sini memiliki tekstur yang mudah dibentuk dan kuat saat di bakar, sehingga tak heran jika sejak kurang lebih 100 tahun yang lalu desa ini telah menjadi naungan para perajin gerabah.

Seperti Rumini, lansia berumur 57 tahun, yang saat ini masih terkenal akan kemahiranya dalam membuat gerabah seni. Ratusan bahkan ribuan gerabah telah dibuatnya sejak ia duduk di bangku kelas dua sekolah dasar.

Berbekal pengalaman dari kedua orang tuanya dulu yang memiliki profesi yang sama, Rumini terus mengembangkan usaha pembuatan gerabah seni tersebut.

Gerabah yang dibuatnya pun bermacam-macam, mulai dari cobek, guci, tempat minum, kendi, vas bunga, kursi ,hingga meja. Dalam sehari, ia bisa membuat sampai 25 gerabah ukuran kecil dan 1 gerabah ukuran besar.

"Gerabah yang telah jadi ini akan di pasarkan di wilayah Kabupaten Pacitan," kata Rumini.

Namun dirinya juga seringkali menerima pesanan dari luar daerah, mulai dari kabupaten Ponorogo, Solo dan Tulungagung.

Harga yang patok dalam penjualan gerabah pun bervariasi,mulai dari harga 4 ribu rupiah hingga 2 juta rupiah.

Dirinya pun akan terus mempertahankan usaha turun temurun tersebut, agar kerajinan gerah seni di pacitan terus lestari. (yos)

Berita Terkait

Pengrajin Manik Tolak Rencana Kenaikan LPG Gas Melon

Pengrajinan Sandal Beromset Ratusan Juta

Pengrajin Baju Binatang Kantongi Omzet Rp 800 Juta

Pengrajin Wayang Kulit Tetap Eksis Lestarikan Warisan Budaya
Berita Terpopuler
Politisi Golkar : Bu Risma Milik Warga Surabaya, Bukan PDIP
Metropolis  18 jam

Dianggap Pekerja Beresiko, Belasan Jurnalis Ikuti Rapid Test
Peristiwa  18 jam

Hujan Deras Mengguyur Kecamatan Sumawe, Desa Tambakrejo Terendam
Malang Raya  8 jam

Ajak Akhiri Polemik, Demokrat Sebut Jatim Butuh 10 Unit Mobil PCR
Metropolis  17 jam



Cuplikan Berita
Gelombang Tinggi Terjang Pantai Selatan Lumajang
Pojok Pitu

Puluhan Rumah Warga Pantai Sine Terendam Banjir Rob
Pojok Pitu

Banjir Terjang 5 Kecamatan di Tengah Pandemi Covid-19
Jatim Awan

Dua Truk Pasir Terseret Lahar Dingin Semeru
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber