Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Infotainment 

sumber youtube.com
Kisah Cinta Rumit Itu di Film Ave Maryam
Sabtu, 13-04-2019 | 09:42 wib
Oleh :
pojokpitu.com, Maudy Koesnaedi dan Chicco Jerikho terilbat dalam film Ave Maryam. Film yang disutradarai Ertanto Robby Soediskam dan produser Tia Hasibuan ini, buah karya penulis Ertanto Robby Soediskam.

Film Ini bercerita tentang Maryam, di sebuah kota Semarang tahun 1998. Menjadi suster adalah panggilan bagi beberapa umat Katolik dengan komitmen menjaga kaul dan kesetiaan kepada Tuhan. Maryam, terlahir dari keluarga Muslim, melakukan tugas dan tanggung jawab menjaga biara dan para biarawati di daerah Ambarawa.
 
Suster Maryam (Maudy Koesnaedi), begitu sapaannya, adalah suster berusia 39 tahun yang merawat para suster sepuh di biara. Tugas ini diemban bersama Suster Mila (Olga Lydia). Keseharian mereka juga termasuk merawat lingkungan biara, mempersiapkan santapan, serta memandikan para suster sepuh setiap pagi. Ketika suster sepuh membutuhkan bantuan pada malam atau dini hari, mereka menggunakan isyarat dengan membunyikan sendok.
 
Suasana biara tampak sedikit berwarna sejak kehadiran Romo Yosef (Chicco Jerikho), dan Suster Moniq (Tutie Kirana) yang membesarkan Yosef. Selain sebagai romo baru, Romo Yosef membantu Suster Mila memandu paduan suara di biara. Suster Maryam tertarik melihat Romo Yosef dengan segala pemikiran liberal, termasuk ketika menghidupkan suasana bersama para suster sepuh melalui musik. Diam-diam, Romo Yosef dan Suster Maryam lalu menjalin kasih.

Hubungan mereka disadari memang tidak sepantasnya terjadi. Hasrat itu dipenuhi selepas aktivitas di biara. Setiap malam, Maryam keluar bersama Romo Yosef. Hubungan ini mengganggu aktivitas Maryam, termasuk tugasnya sebagai suster di biara. Puncaknya di hari ulang tahun Maryam.
 
Yosef mengajak Maryam pergi ke bibir pantai merayakan ulang tahun Suster Maryam yang ke-40. Yosef membawa kue dan mempersilakan suster meniup lilin. Mereka hanyut dalam nafsu hingga benar-benar merasa ada jalur yang sudah salah. Romo Yosef lalu mengantar Suster Maryam pulang ke biara. Dalam keadaan kuyub akibat hujan lebat, Maryam pulang mendapati biara dalam keadaan sunyi. Kejutan, para biarawati rupanya mempersiapkan kue ulang tahun untuk Maryam. Tangis Maryam sesenggukan menjadi haru lalu memeluk suster satu per satu.
 
Film Ave Maryam semula menggunakan judul panjang Salt is Leaving the Sea yaitu garam yang meninggalkan laut. Mengambil latar lingkungan umat Katolik, tentu ada ekspektasi judul awal ini berkaitan dengan satu ayat dalam alkitab yaitu Matius 5 tentang menjadi garam dan terang dunia.

Namun, ketika judul berganti menjadi Ave Maryam rasanya lebih lugas menjelaskan tentang kisah kehidupan suster bernama Maryam yang menghadapi godaan untuk menjaga kesetiaan pada kaulnya. Sebuah pergulatan batin manusia terhadap komitmen.
 
Kisah ini sederhana, tentang gelora cinta suster dan romo, imam umat Katolik. Maryam sejak lahir memang tidak memeluk agama Katolik, tetapi Muslim. Ada cerita menarik ketika menimbulkan interpretasi bahwa Maryam diberi kebebasan untuk memilih agama yang dianut dan memutuskan mendalami agama Katolik lalu berkomitmen menjadi suster. Bahwa agama yang dianut bukan berdasarkan keinginan lingkungan, tetapi kepercayaan Maryam.
 
Hubungan terlarang Suster Maryam dan Romo Yosef tercium oleh Suster Moniq. Tidak ada sikap menghakimi kecuali keterbukaan untuk memulai obrolan. Suster Moniq yang mengenal baik Romo Yosef memberikan petuah.
 
"Kalau surga belum pasti buat saya, buat apa saya mengurus nerakamu."
 
Suster Maryam seperti ingin mengupayakan kemerdekaan hidup bahwa dia adalah manusia biasa yang dapat tenggelam dalam nafsu cinta terhadap lawan jenis. Tidak menutup kemungkinan jika sebenarnya Suster Maryam mulai jenuh dengan komitmennya dan ingin berkeluarga.
 
Banyak permainan semiotika dan pesan yang tersirat secara implisit dari visual dan sinematografi yang patut diacungi jempol. Sehingga, tidak butuh banyak dialog untuk menjelaskan maksud dan situasi yang difilmkan. Sayangnya, film yang semula berdurasi penuh 85 menit harus dipangkas 12 menit menjadi 73 menit. Mudah-mudahan, interpretasi penonton tetap pada jalurnya ketika menyaksikan film garapan Ertanto Robby ini.
 
Komunikasi antar tokoh dalam film berlangsung dengan isyarat dan surat menyurat, sebuah romantisme sederhana sekaligus menggetarkan. Pengambilan gambar didukung tone warna yang ramah untuk menjaga pandangan mata penonton mengikuti alur cerita.
 
Ave Maryam bukanlah film religi, tetapi menggambarkan cinta dari sudut pandang berbeda. Meski terkesan serius, dialog menggelitik sesekali terucap. Seperti ajakan kencan pertama Romo Yosef kepada Suster Maryam.
 
"Saya ingin mengajak kamu keluar mencari hujan di tengah kemarau."
 
Ave Maryam

Berita Terkait


Ayo..Nostalgia Era 90-An Dengan Film Bebas

Nicy Astria Ogah Nonton Film Joker

Film 6,9 Detik, Kisah Nyata Atlet Panjat Tebing Peraih Emas Asian Games

Keren, Film Gundala Tembus Hingga 1 Juta Penonton


Mengenang Gerakan Gerekan 30 September 1965, Para Pelajar Nobar Film G30S PKI

Siap-Siap Merinding, Film KKN di Desa Penari Tayang Tahun Depan

Film 6,9 Detik, Kisah Nyata Atlet Panjat Tebing Peraih Emas Asian Games

Keren, Film Gundala Tembus Hingga 1 Juta Penonton

Sponsored Content

loading...
Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber