Berita Terbaru :
Modifikasi Motor Bergaya Sepeda
Tak Mampu Beli Kuota Internet, Siswa Belajar Menggunakan HT
Unik, Emak-Emak Duta Masker Polres Blitar Sosialisasikan Bermasker ke Pasar
Dispertan Ngawi Sarankan Petani Alih Tanam Palawija
Timnas Senior dan Timnas U-19 Berharap Tuah Sidoarjo
Rumput Lama Stadion GBT Sudah Mulai Dikupas
Warga Perumahan Sedati Permai Meninggal Mendadak di Dalam Rumah
Sarbusmi Tuntut Pemprov Jatim Kawal Tindakan PHK Sepihak
Pelanggar Dihukum Baca Pancasila dan Menyapu Pasar
Sakit Hati Diputus Cinta, Pria ini Culik dan Sekap Mantan Pacar
Aniaya Dokter Banyuwangi, Tiga Oknum Ormas Diringkus
PDIP Juga Belum Umumkan 5 Calon Daerah di Jatim
BPK Jawa Timur Menang Gugatan Tingkat Pertama di PN Malang
Ini Pentingnya Ikut Permainan Tradisional Untuk Anak
Dituding Dukun Santet, Pria Dibunuh Dengan Raket Nyamuk
   

Kembangkan Mandrasah Diniyah, Mantan Gubernur Soekarwo Terima Gelar Honoris Causa
Metropolis  Rabu, 27-03-2019 | 19:14 wib
Reporter : Ayul Anhdim
Surabaya pojokpitu.com, Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menjadi saksi pemberian gelar honoris causa bidang ilmu pendidikan Islam kepada mantan Gubernur Jawa Timur Soekarwo, di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel.

Pemberian gelar honoris causa kepada Soekarwo sempat mendapat penolakan dari Kelompok mahasiswa yang mengatasnamakan Aliansi Mahasiswa Pro Demokrasi, Selasa (26/3).

Rektor UIN Sunan Ampel mengatakan, Prof Masdar Hilmy mengaku pemberian gelar honoris causa sudah melalui satu proses yang lumayan panjang, akuntable dan dapat dipertanggung jawabkan.

"Kita punya alasan untuk memberikan gelar honoris causa kepada Pakde Karwo (sapaan akrab Soekarwo)," ujar Masdar Hilmy saat pidato pengukuhan doktor honoris causa di UIN Sunan Ampel, Rabu (27/32019).

Hilmy mengatakan ada m empat aspek temuan akademik dari karya Soekarwo di bidang pendidikan Islam yang menjadi pertimbangan pemberian gelar honoris causa. Pertama, dalam pemakaian istilah dekresi kebijakan.

Dalam diri Soekarwo terdapat satu pikiran yang luar biasa ketika menjadi gubernur dalam mengambil keputusan beresiko. Meskipun harus menerobos peraturan, namun mampu memberi argumen yang cukup kuat. Sehingga muncul kemudian dekresi kebijakan.

"Kedua inside goverment (penggunaan informatika untuk pelayanan). Itu sangat otentik pemikiran Pakde Karwo (panggilan akrab Soekarwo)," ungkapnya.

Kemudian pertimbangan ketiga adalah spiritual capital. Konsep ini dinilai berbeda secara subtansi oleh para ilmuan. Spiritual capital menggabungkan konsep pesantren dengan negara. "Lalu terakhir pendidikan vokasi," ungkapnya.

Hilmy menyebutkan, seluruh pertimbangan itu telah melalui proses penilaian yang cukup panjang. Usulan penganugrahan tersebut sudah lama sebelum dirinya menjabat.

Sementara AHY mengaku senang sekali bisa menghadiri penganugerahaan honoris causa untuk Soekarwo. Pemberian gelar honoris causa ini tentunya sebagai bentuk kehormatan oleh UIN Sunan Ampel atas kontribusi Pakde Karwo dalam hal akademik, maupun saat menjadi gubernur Jatim.

"Kontribusinya telah melahirkan kebijakan yang sangat berpihak dalam bidang pendidikan islam di Jatim. Termasuk komunitas pesantren," ujar AHY.

Putra Susilo Bambang Yudhoyono itu menilai selama menjadi gubernur, Pakde Karwo mampu meningkatkan kapasitas pengajar dengan mensekolahkan pendidikan strata 1, bahkan strata 2. Pengajar yang disekolahkan mencapai 12 ribu orang.

"Diharapkan terus ditambah. Madin diharapkan bisa semakin baik, dimana output bisa melahirkan generasi bangsa yang baik, dan islami, memiliki patriotisme dan kebangsaan," pintanya.

Suami Anisa Pohan itu menyebut dalam pemaparan Pakde Karwo pada hakekatnya generasi kedepan diharapkan bisa dibangun dengan pondasi yang kuat berbasis keislaman. Selain itu, diperkuat lagi dengan fokasional berbasis sains teknologi sehingga generasi memiliki tingkat skill yang baik dan diperlukan untuk menghadapi tantangan abad 21.

Sebelumnya, penganugerahan gelar honoris causa kepada Sokarwo ini sempat mendapat penolakan. Kelompok mahasiswa yang mengatasnamakan Aliansi Mahasiswa Pro Demokrasi meminta pihak kampus melakukan transparansi dalam pemberian proses gelae.

Koordinator aksi Eri Mahmudi menyebut elite kampusnya dianggap terlibat politik pragmatis jika memberikan gelar Honoris Causa kepada mantan Gubernur Soekarwo. Kabar yang didapatnya, pemberian gelar Honoris Causa karena Soekarwo dianggap berkontribusi dalam dunia pendidikan Islam.

Selama dua periode menjabat Gubernur Jawa Timur, telah menginisiasi Program Bantuan Operasional Daerah Madrasah Diniyah. Ia menganggap bantuan tersebut tidak terlalu istimewa.

"Bantuan tersebut sebenarnya tidak istimewa, sama dengan bantuan yang ada di daerah-daerah lainnya," tuturnya.(end)


Berita Terkait

Polresta Sidoarjo Berikan Penghargaan Kepada 40 Anggota Berprestasi

Provinisi Jatim Sabet Penghargaan Inovasi Dareah New Normal Dari Mendagri

Lagi, PWI Jatim Serahkan Penghargaan dan Tali Asih Kepada Tiga Wartawan Senior

Guru Difabel Asal Sumenep Dapat Penghargaan Dari Unesa
Berita Terpopuler
Chamber Of Conference, Hindari Tatap Muka Pegawai Peradilan di Tengah Pandemi Co...selanjutnya
Hukum  12 jam

Ini Pentingnya Ikut Permainan Tradisional Untuk Anak
Konsultasi Psikologi  6 jam

Pesawat Tempur Tergelincir di Lanud Iswahjudi
Peristiwa  12 jam

DPRD Nganjuk Desak Agar Usaha Pok Pok Ilegal Ditutup
Politik  8 jam



Cuplikan Berita
Ratusan Ibu Hamil Swab Massal di Gelora Pancasila
Pojok Pitu

Begini Pengakuan Bupati Menanggapi Pemakzulan DPRD Jember
Pojok Pitu

Karyawan Toko Tipu Korban dan Gelapkan Ribuan Lpg
Jatim Awan

Sebanyak 65 Guru SMP di Surabaya Reaktif
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber