Berita Terbaru :
Minim Sirkulasi Udara, Peluang THM Tutup Bakal Lebih Lama
Selama 6 Bulan Terkahir, 11 Kasus Kebakaran Terjadi di Bojonegoro
Overload Pasien Covid, RS Rujukan Tambahan Segera Dioptimalkan
Grand Livina Tabrak Truk Trailer Rusak Rumah Warga
Walikota Risma Beri Perhatian Untuk Empat Anak Korban Tukang Sapu Makam Cabul
Nenek Renta Tinggal Di Gubug Reot Tak Layak Huni
14 Hari Pasca Ultimatum Presiden, Tingkat Kesembuhan Pasien Positif Covid di Jatim Tertinggi di Indonesia
Dinkes Lakukan Tracing dan Swab Di Sarangan
Meninggal Di RS Covid , Keluarga Tolak Dimandikan
Terjatuh Hindari Jalan Berkubang, Pegoes Asal Surabaya Tewas Terlindas Truk Tronton
Habaib-Ulama dan Tokoh Madura Tolak RUU HIP
Persentase Pasien Covid-19 Meninggal di Jatim Melebihi Luar Negeri
Taman Wisata Ngawi Mulai Ramai Pengunjung
Begini Tantangan Peternak Sapi di Tengah Pandemi Covid-19
Pemkab Magetan Gratiskan Rapid Test Bagi Pelajar, Mahasiswa, ASN dan Ibu Hamil
   

Tanaman Padi Terendam Banjir Luapan Sungai Avur, Petani Terpaksa Panen Dini
Pantura  Senin, 25-03-2019 | 13:00 wib
Reporter : Khusni Mubarok
Tuban pojokpitu.com, Jelang masa panen, puluhan hektar tanaman padi di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, rusak terendam banjir luapan sungai. Padi terancam mati membusuk, dan menyebabkan gagal panen, sehingga untuk mengurangi resiko kerugian, petani terpaksa panen dini meski hasilnya turun 50 persen.

Banjir merendam lahan persawahan di Desa Magersari Dan Desa Klotok, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban, Senin (25/3) pagi. Air luapan sungai avur desa magersari ini, merendam  sekitar 30 hektar tanaman padi berumur 80 sampai 85 hari.

Kondisi ini sudah berlangsung selama tiga hari, tingginya curah hujan membuat debit air sungai meningkat drastis, sehingga meluap ke permukaan. Luberan air sungai ini mengalir menuju persawahan, jika dibiarkan dapat menyebabkan tanaman padi mati membusuk sehingga dapat menyebabkan gagal panen.

Lastum, petani desa magersari, menjelaskan, untuk mengurangi resiko kerugian, petani terpaksa panen dini atau panen lebih cepat satu minggu dari jadwal seharusnya. Namun hasil panen dipastikan turun 50 persen.

"Jika pada kondisi normal lahan 500 meter persegi mampu menghasilkan lima kuwintal gabah, maka kini diprediksi hanya 2-3 kuintal saja hal ini karena kondisi biji padi belum maksimal bulirnya," jelas Lastum.

Banjir yang merendam lahan persawahn ini terjadi hampir setiap tahun pada musim hujan, kondisi sungai avur yang sudah dangkal, sehingga tidak dapat menampung debit air hujan yang turun lebat, beberapa hari ini.

Para petani berharap, ada upaya dari pemerintah untuk normalisasi sungai avur, serta menambah tinggi tanggul sungai avur agar pada musim hujan, para petani tidak terus menrugi.

Sementara itu, banjir juga berdampak pada rendahnya kualitas gabah yang dihasilkan. Maka tentu akan berdampak juga pada harga gabah, dengan kondisi ini para petani akan rugi berlipat ganda, selain gabah jelek juga harga anjlok. (yos)

Berita Terkait

Banjir di Tuban Akibatkan Jalan Ambles dan Jembatan Terancam Ambruk

Puluhan Hektar Tanaman Padi Rusak, Akibat Diterjang Banjir Bandang

Tiga Jam Diguyur Hujan, Puluhan Rumah di Montong Kebanjiran

Tanaman Padi Terendam Banjir Luapan Sungai Avur, Petani Terpaksa Panen Dini
Berita Terpopuler
Pengadilan Agama Gandeng Dispendukcapil Untuk Percepat Keluarkan Status
Teknologi  22 jam

Gabungan Forkopimda Ngawi Bubarkan Kerumunan Warga
Peristiwa  21 jam

Terjatuh Hindari Jalan Berkubang, Pegoes Asal Surabaya Tewas Terlindas Truk Tron...selanjutnya
Peristiwa  8 jam

Dishub Bojonegoro Gelar Operasi Kendaraan Parkir
Peristiwa  20 jam



Cuplikan Berita
Viral Hasil Tes Rapid Peserta UTBK Berubah
Pojok Pitu

Dokter dan Satpam Postif Covid 19, Puskesmas Wates Mojokerto Ditutup Sementara
Pojok Pitu

Delapan Terkena Corona, Membuat Ribuan Karyawan PT KTI Diliburkan
Jatim Awan

Ternyata Satu Tersangka Pengambilan Paksa Jenazah Positif Covid 19
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber