Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Opini 

Dimanakah Alun-Alun Surabaya ?
Sabtu, 02-03-2019 | 00:37 wib
Oleh : Nanang Purwono
Surabaya pojokpitu.com, Kawasan jantung kota Surabaya, persis di persimpangan Balai Pemuda, akan semakin terlihat cantik dan klasik bila revitalisasi kawasan Balai Pemuda ini selesai. Plataran Balai Pemuda sudah terlihat lebih luas, meski belum tuntas. Plataran ini beruang bawah (basement). Rencananya ruang bawah ini akan digunakan untuk menampung stan-stan UMKM hasil binaan pemerintah kota Surabaya.

Proyek revitalisasi Balai Pemuda, sesuai dengan grand designnya, akan diteruskan hingga ke lahan kosong di pojokan jalan Yos Sudarso dan jalan Pemuda. Aksesnya tersambung melalui ruang bawah tanah (basement) yang dibangun di bawah jalan Yos Sudarso. Sedangkan di atas lahan kosong ini akan dibuat ruang terbuka untuk publik, yang menyatu dengan konsep plataran Balai Pemuda.

Inilah yang kemudian disebut-sebut sebagai alun alun Surabaya. Untuk sementara pembangunan alun alun Surabaya ini terhenti karena status tanah yang masih dalam sengketa. Pada hari Jumat (1/3) Pengadilan Negeri Surabaya akan memutuskan kasus sengketa tanah ini. Bila pemerintah kota Surabaya menang, maka proyek pembangunan alun alun Surabaya ini akan dilanjutkan sesuai rencana.

Proyek revitalisasi Balai Pemuda patut diacungi jempol, karena dari hasil revitalisasi ini kota Surabaya akan menambah wahana tempat berkumpul (meeting point), tempat bersantai dan tempat bermain yang baru. Tempatnya keren, persis di jantung kota dan jalan protokol kota Surabaya. Berdekatan dengan istana negara Grahadi yang dibangun di akhir abad 18, juga tidak jauh dari Balai Kota yang dibangun di awal abad 20. Dengan gedung Balai Pemuda sebagai lankmark, kehadiran alun-alun Surabaya ini bak perpaduan serasi antara histori dan modernisasi.

Ya.., area publik ini bisa dianggap dan bisa jadi akan bernama alun-alun Surabaya. Jika area publik ini benar benar disebut "alun-alun" Surabaya, maka Surabaya harus siap-siap akan benar-benar kehilangan alun-alun yang sebenarnya. Believe if or not, percaya atau tidak, Surabaya pernah memiliki alun-alun. Namun, seiring dengan perkembangan jaman dan berubahnya sistim pemerintahan, alun-alun Surabaya yang pernah ada di jaman pra kolonial, kolonial dan pasca kolonial, kemudian beralih fungsi dan akhirnya hilang. Kebanyakan warga Surabaya tidak mengetahui bahwa di Surabaya pernah ada alun-alun. Letaknya ada di kawasan Tugu Pahlawan.

Sebentulnya, jejak alun-alun Surabaya ini masih bisa dikenali. Di Kawasan Tugu Pahlawan masih terdapat lapangan berumput yang luas. Di tempat ini juga pernah ada masjid jamik, yang tidak jauh dari makam kuno di jalan Tembaan. Hingga kini makam kuno itu masih ada, yang di dalamnya terdapat makam Kiai Sedo Masjid. Masjid, yang dimaksud ini, adalah masjid yang pernah berdiri di komplek alun-alun. Prasasti masjid alun alun Surabaya (Surapringga) kini terpasang di masjid Kemayoran di jalan Indrapura, Surabaya.

Seiring dengan perubahan itu, pusat pemerintahan Surapringga menjelma menjadi gedung gubernuran. Dalam salah satu buku terbitan Asia Maior di Belanda disebutkan bahwa di lokasi berdirinya gedung Gubernuran Jawa Timur ini dulu pernah berdiri bangunan pendopo yang ditempati oleh Bupati Kasepuhan (Eerst Regent). Sementara Bupati Kanoman (Twee Regent) menempati bangunan pendopo di utara alun-alun. Surabaya, yang pernah bernama Surapringgo, memang pernah dipimpin oleh dua bupati bersaudara (bupati kasepuhan dan bupati kanoman). Di kawasan alun-alun Surabaya inilah bupati bersaudara itu memangku Surabaya.

Jo Santoso dalam Arsitektur Kota Jawa: Kosmos, Kultur & Kuasa (2008), menjelaskan betapa pentingnya alun-alun karena menyangkut beberapa aspek. Pertama, alun-alun melambangkan ditegakkannya suatu sistem kekuasaan atas suatu wilayah tertentu, sekaligus menggambarkan tujuan dari harmonisasi antara dunia nyata (mikrokosmos) dan universum (makrokosmos). Kedua, berfungsi sebagai tempat perayaan ritual atau keagamaan. Ketiga, tempat mempertunjukkan kekuasaan militer yang bersifat profan dan merupakan instrumen kekuasaan dalam mempraktikkan kekuasaan sakral dari sang penguasa.

Di Surabaya sendiri alun-alun sudah ada sejak pra kolonial, lalu berlanjut pada masa kolonial hingga pasca kolonial. Asia Maior: "Soerabaja 1900-1950 Havens, marine, stadsbeeld, port navy, townscape" menggambarkan letak alun-alun Surabaya dari masa ke masa yang selanjutnya di lokasi alun-alun ini berdiri kantor Gubernur Jawa Timur (Oost Java Gouvenor) pada 1929-1931. Bukti pernah adanya alun-alun ini adalah keberadaan nama jalan, yang bernama "aloon aloonstraat". Pada pasca kemerdekaan, namanya berubah menjadi Jalan Pahlawan.

Dilihat dari sudut pandang pemanfaatan, menurut Kitab Negarakertagama, karya Empu Prapanca, bahwa pada zaman Majapahit, alun-alun memiliki fungsi sakral dan fungsi profan. Yang dimaksudkan fungsi sakral adalah upacara-upacara religius dan penetapan jabatan pemerintahan. Sementara fungsi profan adalah untuk kegiatan pesta rakyat dan perayaan-perayaan tahunan. Konon, fungsi itu berlanjut hingga jaman kolonial.

Pada zaman kolonial, alun-alun tidak hanya menjadi bagian dari sebuah keraton yang dikepalai oleh seorang raja, melainkan juga oleh para bupati sebagai bawahan raja. Pemerintah kolonial Belanda dalam memerintah Nusantara menggunakan pejabat resmi (orang Belanda) seperti Gubernur Jenderal, Residen, Asisten Residen, Kontrolir dan sebagainya. Sedangkan untuk pejabat lokal, Pemerintah kolonial Belanda menggunakan orang Pribumi seperti Bupati, Patih, Wedono dan Camat untuk berhubungan langsung dengan rakyat.

Rumah Bupati di Jawa, termasuk di Surabaya, selalu dibangun untuk menjadi miniatur Kraton di Surakarta dan Yogyakarta. Di depan rumah Bupati juga terdapat pendopo yang berhadapan langsung dengan alun-alun, yang sengaja diciptakan oleh para Bupati untuk bisa menjadi miniatur dari Kraton Surakarta atau Yogyakarta. Maklum, Surabaya sejak tahun 1625 tunduk kepada raja Mataram, Sultan Agung.

Mengapa Surabaya bisa kalah dari Mataram? Dahulu, letak Surabaya di sebuah "pulau" antara sungai Kalimas dan sungai Pegirian dan sebagian lagi berada di sebelah barat sungai Kalimas. Sekarang menjadi kawasan Tugu Pahlawan. Di bagian itulah, tempat keraton Surabaya (Surapringga) berada, yang kberadaannya dilindungi tembok-tembok tinggi. Keberhasilan raja Mataram dalam menaklukan Surabaya ini adalah dengan penutupan saluran air di Mlirip, yang mengalir ke Surabaya. Ini merupakan masalah besar bagi Surabaya dan akhirnya mematahkan daya tahan Surabaya, karena kekurangan air dan membuat rakyat Surabaya menderita.

Maka jelaslah bahwa Surabaya pernah memiliki alun-alun besar yang memiliki fungsi sakral dan profan. Ketika kolonialisasi menjadi bagian dari Surabaya, maka munculah istilah "stad van Sourabaya" atau Kota Surabaya, yang kemudian dikenal dengan kawasan atau kampung Eropa. Di dalam area STAD inilah terdapat lapangan berumput, tapi berukuran kecil, yang kala itu bernama Willemplein atau Taman Raja Willem. Taman ini juga disebut sebagai alun-alun untuk kawasan kota atau kampung Belanda. Kini bekas alun alun kota Surabaya (STAD VAN SOURABAYA) ini menjadi Taman Sejarah Surabaya.

Tidak hanya itu yang menjadi koleksi alun-alun di Surabaya. Lainnya adalah alun-alun Contong. Ada juga alun-alun di dalam kampung Dinoyo. Di era moderen, muncul alun alun millenial yang terpadu dengan modernisasi pusat perbelanjaan. Yaitu Surabaya Town Square (Sutos). Town square berarti alun-alun. Yang terbaru adalah akan munculnya alun-alun di pusat kota, yang tidak lain adalah di kawasan Balai Pemuda.

Jika dibandingkan dengan konsep alun-alun masa lalu, jelas alun-alun Surabaya di kawasan Balai Pemuda jauh berbeda, baik dalam makna filosofi maupun dalam tatanan fisik kawasan alun-alun. Handinoto, Staf Pengajar Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Jurusan Arsitektur Universitas Kristen Petra Surabaya, melihat adanya pergeseran signifikan mengenai eksistensi alun-alun dari masa ke masa, mulai dari era pra kolonial, kolonial hingga pasca kolonial.

Coba kita lihat alun-alun Surabaya, sebagai hasil revitalisasi Balai Pemuda, sangat jauh berbeda dari konsep alun-alun tempo dulu. Dengan sebutan "alun alun Surabaya" untuk komplek Balai Pemuda yang semakin cantik ini, maka muncul kekuwatiran terhadap generasi sekarang dan mendatang yang tidak akan kenal lagi terhadap alun-alun Surabaya yang sesungguhnya.

Jika mereka ditanya "Dimanakah alun-alun Surabaya?", mereka akan menjawab "di Balai Pemuda". Lho..???




Berita Terkait


Dimanakah Alun-Alun Surabaya ?


Sponsored Content

loading...
Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber