Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Opini 

Menggagas Museum Kalimas
Rabu, 27-02-2019 | 21:37 wib
Oleh : Nanang Purwono
Surabaya pojokpitu.com, Surabaya terus berupaya melengkapi dirinya dengan wahana edukasi berupa museum untuk semakin menguatkan posisioningnya sebagai kota bersejarah, selain kota Pahlawan. Belum lama, Jawa Pos (26/2) mengabarkan bahwa Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kota Surabaya akan membuat museum Sunan Ampel. Sungguh layak jika museum Sunan Ampel dibangun di kota Surabaya untuk melengkapi keberadaan makam dan masjid Sunan Ampel.

Jika kota-kota wali lainnya sudah dilengkapi dengan museum, maka kota Surabaya sudah saatnya memilikinya. Tentu ini akan menambah daftar museum, yang telah dibuka sebelumnya, seperti museum WR. Soepratman, museum dr. Soetomo, museum HOS Tjokroaminoto, museum Surabaya, museum Tugu Pahlawan, musuem Kesehatan, museum Bank Indonesia dan museum House of Sampoerna (swasta).

Selain menggagas museum Sunan Ampel, gagasan membangun museum Kalimas juga tidak muluk-muluk dan wajar-wajar saja. Malah Surabaya seharusnya memiliki museum Kalimas. Mengapa?

Kalimas sudah menjadi bagian dari urat nadi kehidupan, perekonomian, kebudayaan dan peradaban kota Surabaya. Kisahnya tidak hanya tersohor di era Hindia Belanda, tapi sudah termashur sejak abad ke 13 sebelum berdirinya kerajaan Majapahit. Di tahun 1275, konon diceritakan bahwa raja Kertanegara dari kerajaan Singasari sempat membangun Surabaya, sebuah desa yang dikelilingi oleh sungai (Von Faber: Eer Werd Eenstad Geboren). Di sisi barat mengalirlah Kalimas, di timur mengalirlah sungai Pegirian dan keduanya terhubung dengan dua kanal besar. Kanal besar di selatan diduga menjadi jalan Jagalan dan kanal besar di utara diduga menjadi jalan Stasiun Kota. Desa ini diduga bernama Hujunggaluh, yang dikenal sebagai naditira predesa alias desa tambangan negara.

Dibanding dengan sungai Pegirian, sungai Kalimas jauh lebih lebar. Panjangnya, jika diukur dari ujung selatan di percabangan kali Surabaya (Ngagel) hingga ke muara, kurang lebih 12 kilometer. Konon, ramainya Kalimas masih dapat dilihat hingga pasca kemerdekaan, di sekitar tahun 50-an. Perahu perahu dengan ragam komoditas hasil bumi dan matrialan bangunan masih hilir mudik dari selatan ke utara dan begitu pun sebaliknya. Untuk sampai ke muara, mereka harus melalui dua pintu air, yang umumnya disebut "sluis". Dua sluis ini terdapat di Ngagel (Wonokromo) dan Kayoon (Gubeng). Sluis adalah pintu air yang menjadi akses perahu perahu berpindah dari elevasi air yang lebih tinggi (selatan) ke yang lebih rendah (utara). Begitu pun sebaliknya.

Seiring dengan perkembangan jaman, utilitas dan infrastruktur kota pun berubah. Sarana transportasi beralih dari sungai ke darat. Alat transportasi juga berubah dari perahu berganti ke mobil. Bahkan muncul dokar, sepeda dan sepeda motor. Pilihan kendaraan darat semakin bervariasi. Sedangkan transportasi air menjadi terdegradasi. Kini di era moderen, kendaraan darat sangat beragam dan transportasi air pun mati. Kalimas kehilangan denyut urat nadinya. Tak terlihat lagi kehidupan, perekonomian, kebudayaan dan peradaban di atas air. Kalimas semakin menjadi "mburitan" (belakang). Tidak lagi menjadi "praupan" (wajah) seperti sedia kala. Istilah "water front" pun menguap. Warga kota tidak mengenal istilah "water front". Padahal kota Surabaya masih memilikinya seperti halnya di kota kota Kincir Angin.

Ramainya Kalimas, khususnya di ruas utara dari pintu air Gubeng, tertandai dengan marina marina kecil yang berbentuk tangga berundak di bibir Kalimas. Sebagian masih kelihatan jelas. Semakin jelas lagi adalah marina marina yang ada di wilayah kota lama. Kini semuanya tidak ada gunanya. Banyak warga tidak mengerti apa fungsinya. Bahkan mayoritas warga kota Surabaya tidak mengetahui bahwa ruas Kalimas, yang berada di utara Jembatan Merah, adalah kali buatan. Bentuknya lurus menembus garis pantai dan bermuara di Selat Madura. Ruas Kalimas ini disebut pula sebagai kanal. Apa fungsi kanal ini?

Konon, sebelum kanal Kalimas ini dibangun, kota Surabaya, terutama di daerah Simpang, sering terjadi musibah banjir (Oud Soerabaia). Air sungai Kalimas meluap tat kala musim hujan. Musibah alam ini terjadi karena bentuk sungai di utara Jambatan Merah (kala itu Jembatan Merah belum ada) berkelak kelok dan menyempit menuju ke barat melalui Kalisosok, Pesapen hingga ke Moro Krembangan. Tidak hanya di bagian ruas Kalimas ini saja yang berkelok, ruas Kali Surabaya di Jagir yang mengalir ke arah timur juga berkelak kelok dan menyempit. Kondisi alam seperti inilah yang menyebabkan debit air, tat kala hujan, tidak bisa terbuang dengan cepat ke arah laut.

Untuk mengatasi persoalan banjir di Surabaya, khususnya di daerah Simpang yang merupakan kawasan kediaman pejabat tinggi VOC dengan istana Simpangnya, maka dibuatlah kanal di utara Residenthuis (Jembatan Merah). Kanal ini dibuat lurus ke utara yang langsung bermuara di Selat Madura. Kanalnya dibuat lebar dan selanjutnya, di sepanjang kanal, dimanfaatkan sebagai pusat pergudangan untuk mendukung berdirinya pelabuhan, mulai dari pelabuhan kali (Kampung Baru) hingga ke pelabuhan laut (Perak).

Sedangkan di selatan, di kali Surabaya, di bangunlah Pintu Air Jagir (1917) yang di jaman Belanda disebut sebagai "Bandjir Sluis". Yakni pintu air yang berfungsi untuk mengontrol kebutuhan air yang masuk ke Kalimas (Surabaya). Jika kota Surabaya atau Kalimas butuh air, maka Pintu Air Jagir ini ditutup agar air dari selatan masuk ke Kalimas. Begitu sebaliknya, jika Kalimas sudah berkecukupan air dan agar tidak terjadi banjir di Surabaya, maka pintu air Jagir, Bandjir Sluis, dibuka agar air dari selatan langsung terbuang ke arah timur dengan cepat.

Siapa yang tahu akan hal ini? Siapa yang tau akan Kalimas, yang pernah menjadi urat nadi perekonomian, kekehidupan, kebudayaan dan peradaban kota Surabaya? Agar mereka tau, maka gagasan mendirikan Museum Kalimas adalah jawaban. Museum Kalimas akan menjadi pusat informasi Kalimas baik ditinjau dari segi sejarah maupun pemanfaatnnya di masa depan. Museum Kalimas tidak hanya menjadi etalase artefak masa lalu Kalimas, tetapi juga akan menjadi etalase imajinasi karya masa depan yang memanfaatkan Kalimas sebagai sumber kehidupan.

Dimanakah Museum Kalimas ini dibangun? Jawabannya adalah di lokasi pembangunan Pintu Air Petekan, yang proyeknya sudah mulai berjalan. Karenanya, jika design proyek pintu air Petekan ini bisa dipadukan dengan konsep Museum Kalimas, maka museum ini akan memberi nilai tambah terhadap Pintu Air Petekan ke depan. Membangun Museum Kalimas adalah upaya menghargai dan sekaligus memanfaatkan Kalimas untuk Surabaya yang lebih baik. (yos)

Berita Terkait


Menggagas Museum Kalimas


Sponsored Content

loading...
Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber