Beranda       Nasional       Internasional       Life Style       Olah Raga       Opini       Sorot
Opini 

Membedah Sejarah Surabaya Dari Atas Kalimas
Senin, 25-02-2019 | 17:00 wib
Oleh : Nanang Purwomo
Surabaya pojokpitu.com, Kalimas, sungai arteri, yang membelah kota Surabaya. Ia membujur dari selatan (di percabangan kali Surabaya) hingga ke utara (muara) sepanjang 12 km. Di era kolonial, sungai Kalimas menjadi jalur transportasi air yang sangat ramai. Kalimas menghubungkan wilayah hulu, yang kaya akan hasil bumi, dengan wilayah hilir yang menjadi pintu transportasi antar pulau dan bahkan antar negara.

Di kawasan utara kota Surabaya, dimana terdapat kawasan kota lama, nampak sekali peran Kalimas. Di ruas sungai sisi utara Jembatan Merah, di sepanjang aliran sungai yang lurus ke utara ini, terdapat deretan pergudangan yang berdiri baik di sepanjang jalan Kalimas Barat maupun Kalimas Timur. Bahkan di kawasan Kampung Baru (Kalimas Timur) masih terdapat menara kesyahbandaran ketika di kawasan ini masih berfungsi sebagai pelabuhan sungai. Pelabuhan sungainya sangat ramai dengan perahu-perahu yang mengangkut dan bongkar komoditi.

Sementara di ruas sisi selatan Jembatan Merah, bentuk sungainya masih alamiah, berkelok kelok hingga ujung selatan di percabangan kali Surabaya di Ngagel-Wonokromo. Di kawasan tengah Surabaya, banyak terdapat permukiman: mulai dari permukiman kuno hingga moderen di era kolonial. Kawasan Peneleh - Pandean adalah kawasan kuno, yang sudah ada sejak abad 13 di era kerajaan Singasari hingga Majapahit. Penemuan sumur Jobong di kampung Pandean adalah bukti otentik, yang diduga berasal dari era Majapahit. Bisa jadi, dugaan ini berasal dari era Singasari.

Di kawasan Gubeng, Kalimas melintasi permukiman moderen yang tumbuh di era kolinial. Di sana terdapat kawasan pengembangan kota, yang dari tahun ke tahun pemukim di kawasan kota lama (benedenstad) semakin tidak bisa tertampung. Karenanya, memasuki awal abad ke 20, pengembangan kota bergeser ke arah selatan dan di kawasan ini kemudian muncul menjadi kawasan kota baru/atas (bovenstad).

Sementara semakin ke selatan di kawasan Ngagel, Kalimas melintasi kawasan perindustrian. Nama jembatan BAT, yang melintas di ruas kali di kawasan ini, adalah bukti pernah berdirinya industri tembakau yang bernama British American Tobacco. Selain itu, juga masih berdiri sebagian dari bangunan industri yang dulu merupakan industri kontruksi Barata (Braat).

Jika sekarang Kalimas difungsikan sebagai jalur wisata sungai, maka potensi historis yang pernah berdiri dan ada di sepanjang aliran sungai ini dapat terkuak dan tersaji dengan apik. Kita ambil START dari tengah kota, misalnya dari monumen Kapal Selam (Monkasel), maka sejarah kota yang bisa ditelusuri adalah cerita Bovenstad (kota atas/baru) dengan landmark Balai Kota (Stadhuis). Perumahan pegawai balai kota kala itu berada di sekitar Balai Kota (Ketabang). Hingga sekarang, rumah rumah itu masih berdiri. Sebagian sudah berubah bentuk.

Bergerak ke utara sedikit dengan melewati bawah jembatan Yos Sudarso, yang juga pernah bernama Jembatan Sindunegara (1951) dan jembatan Jepang (1942-1945) adalah ruas kali yang berhadapan langsung dengan gedung negara Grahadi. Di era sebelum Gubernur Jendral Daendels, bangunan bergaya Glandeour ini, pernah menghadap ke sungai Kalimas. Melalui kali inilah, pejabat Surabaya (abad 18) hilir mudik dari kediaman di Simpang ke kawasan kota lama (Benedenstad) dengan menggunakan perahu. Sejak era Gubernur jendral Daendels dan seiring dengan dibukanya jalan Raya Daendels di awal abad 19, maka tampak depan Grahadi (Huis van Simpangche) diubah menghadap ke jalan darat, sekarang menjadi jalan Gubernur Suryo.

Dari kawasan Grahadi bergeser menyisir ke utara sedikit, tepatnya daerah Gentengkali, disana terdapat bekas pendopo kantor kabupaten Surabaya. Di situs bekas pusat pemerintahan kabupaten ini, kita bisa melihat sejarah sistim pemerintahan Surabaya, sebelum sekarang menjadi kota Surabaya. Tidak cuma kantor pendopo, di sebrang sungai adalah kampung Plampitan, yang merupakan kampung halaman beberapa tokoh nasional. Diantaranya adalah Ruslan Abdul Gani (eks Perdana Mentri) dan Tri Sutrisno (Wakil Presiden di era Soeharto).

Semakin ke utara di kampung Pandean dan Peneleh, terdapat kampung yang diduga sudah ada di era Singasari (abad 13) hingga Majapahit (13 - 15). Penemuan arkeologi di kampung Pandean tahun 2018 adalah bukti otentik kekunoan dari kawasan ini. Penemuan arkeologi itu adalah sumur Jobong, sumur dari terakota yang umum dipakai di jaman Majapahit. Konon menurut hipotesa Von Faber bahwa di ruas sungai inilah pernah ada perkampungan kuno di era kerajaan Singasari (abad 13). Sedangkan di kampung Peneleh sendiri terkenal dengan tempat tinggal tokoh kebangsaan HOS Tjokroaminoto dan tempat indekost Soekarno.

Kemudian di utara kampung Peneleh, terdapat kampung Pengampon dan sekitarnya, yang menurut Von Faber diduga sebagai situs Ujunggaluh yang terkenal sebagai desa pelabuhan kali. Desa Hujunggaluh, yang dikatakan sebagai desa bandar sungai, tergambar sebuah desa yang dikelilingi oleh air (sungai). Kondisi alam ini masih nampak di kawasan Pengampon dan sekitarnya. Kawasan ini berada di antara Kalimas dan kali Pegirian. Desa bandar, naditira pradeca, ini juga berada diantara dua kanal, yang menghubungkan Kalimas dan Pegirian. Kanal selatan kini berubah menjadi jalan Jagalan. Sedamgkan kanal utara menjadi jl Stasiun Kota.

Persis pada ruas Kalimas, pada sisi baratnya, kini adalah komplek Gubernuran Jawa Timur, yang menjadi pusat pemerintahan propinsi Jawa Timur. Muncul sebuah pertanyaan. Mengapa komplek Gubernuran Jawa Timur ini berada di sini (daerah Sulung)? Berdasarkan beberapa sumber, termasuk dari penerbit Asia Maior, diduga kawasan pemerintahan propinsi Jawa Timur ini tumbuh karena pengembangan dari kawasan desa Hujunggaluh. Desa ini terletah di sebrang timur Kalimas. Diduga karena sistim pemerintahan yang tidak bisa berkembang di Hujunggaluh atau di kawasan yang dikelilingi air, maka pengembangan ini merambah keluar wilayah desa dan mengambil kawasan yang berseberangan di barat Kalimas. Maka menempati lahan di barat Kalimas, yang tidak jauh dari Hujunggalu, menjadi pilihan. Sebelum menjadi pusat pemerintahan di era kolonial dengan bangunan gubernuran peninggalan Belanda, di kawasan ini, di titik ini, pernah berdiri kantor kabupaten yang dipimpin oleh dua pimpinan daerah, Bupati. Bupati tua disebut Kasepuhan, dan bupati muda disebut Kanoman. 

Dari kawasan ini, dengan menyusuri Kalimas ke arah utara, maka tibalah di kawasan kota lama, yang di era kolonial dipetak petak oleh Belanda melalui undang undang Wiekenstelsel. Di barat sungai terdapat kampunfg Eropa. Di timur sungai adalah untuk pemukim timur asing seperti Cina, Melayu dan Arab. Dalam perkembangannya, komunitas etnis ini mewarnai sejarah Surabaya. Termasuk sejarah keberagaman yang selanjutnya menjadikan Surabaya sebagai kota multikultural. Peninggalannya masih bisa disaksikan hingga sekarang dan kini menjadi obyek revitalisasi kota lama Surabaya. Di kawasan ini, dengan bangunan-bangunan yang menghadap ke Kalimas, menjadikan kawasan ini sebagai Water Front nya Surabaya. Sederetan gedung gedung tua di jalan Jembatan merah (dulu Willemskade) adalah perwajahan Water Front yang tidak jauh beda dari water front di negeri Belanda.

Semakin ke utara dengan berperahu, tibalah di kawasan pergudangan (kalimas Timur dan Barat) hingga kawasan pelabuhan Tanjung Perak, yang melalui jembatan Petekan (jembatan angkat). Sosok jembatan Petekan masih tegak berdiri. Tetapi sudah kehilangan banyak bagian, yang menjadikannya sebagai the standing remains of Ophaalbrug. Meski demikian, sosoknya masih dipakai sebagai monumen untuk mengingatkan warga Surabaya akan ramainya sungai Kalimas di masa lampau.

Tidak jauh dari bekas jembatan Petekan, kini sedang dibangun Pintu Air Petekan. Kedepan pintu air ini, selain menjadi alat pengendali air, juga akan berfungsi sebagai obyek tujuan wisata. Seperti apakah bakal Pintu Air Petekan ini? Nantikan, tulisan berikutnya. (yos)

Berita Terkait


Revitalisasi Pasar Sayur Dilakukan Tahun 2020

Revitalisasi Pasar, Pedagang Bakal Dipindahkan

Revitalisasi PBM Telan Biaya Sebesar Rp 1,3 miliar

Wagub Emil Bakal Revitalisasi Insfrastruktur Paska Banjir


Dikenakan Pajak 10 Persen, Pedagang Pasar Tunjungan Tuntut Revitalisasi

Sebelas Pasar Tradisional Di Jawa Timur Segera Direvitalisasi

Revitalisasi Pasar Sayur Dilakukan Tahun 2020

Revitalisasi Pasar, Pedagang Bakal Dipindahkan

Sponsored Content

loading...
Berita Utama Lihat Semua

Berita Terkini Lihat Semua

Berita Terpopuler Lihat Semua

Surabaya Raya Lihat Semua

Rehat Lihat Semua



Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber