Berita Terbaru :
Ratusan Seniman Mengelar Aksi Unjuk Rasa di Depan Balaikota Surabaya
Begini Kronologis Warga Ponorogo Terkena OTT Kejaksaan
Tim Satgas Awasi 6 Orang Positif Covid 19 di Rumah Makan Rawon Nguling
Dump Truk Bermutan Pasir Terlibat Kecelakaan, Sopir Terjepit
Jangan Dibuang, Buktikan 3 Manfaat Teh Celup Untuk Kecantikan Kulit
Bunga Monstera Diburu Penggemar Tanaman Hias
Tak Ingin Lagi Didiskriminasi, Sopir Angkot Hingga Guru SMP Swasta Dukung Machfud Arifin Walikota
SKB CPNS Akan Diselenggarakan Oktober Mendatang
Selama 1 Bulan, 2.296 Masyarakat Bojonegoro Ikuti Rapit Test Gratis
Bantu Siswa Belajar Daring, Kelurahan Siapkan Wifi Gratis
Angka Pelangar Lalu Lintas di Sumenep Meningkat, Salah Satunya Pengendara di Bawah Umur
Reskrim Polsek Bantur Ringkus Jaringan Pengedar Sabu
Khozanah Akan Legowo Jika Tak Dapat Rekom PKB
Tak Penuhi Protokol Kesehatan, THM Dilarang Buka
Warga Nduri Ponorogo Krisis Air Bersih
   

Inilah Alasan Kami Peduli JL Karet
Opini  Minggu, 13-01-2019 | 19:01 wib
Reporter : Nanang Purwono
Surabaya pojokpitu.com, Sekitar 20 pegiat sejarah Surabaya dari beberapa komunitas pemerhati sejarah Surabaya (Laskar Soerabaia, SPS-SHS, Komunitas Sobo Punden, CAK, Love Sroboyo, STD, Roodebrug dan Forum Begandring Soerabaia) mendatangi jalan Karet untuk menyuarakan kepedulian mereka terhadap jalan Karet, yang kini tengah memasuki tahap awal revitalisas.

Jalan Karet adalah salah satu jalan di kawasan kota lama yang menjadi pintu masuk merevitalisasi kawasan kota lama Surabaya secara keseluruhan.  Kedatangan para pegiat sejarah Surabaya di jalan Karet,  pada Minggu pagi (13/01) ini, semata mata menyuarakan kepedulian mereka di saat pemerintah kota Surabaya sedang menata kasawan kota lamannya. Kekuwatiran ini cukup beralasan karena rumah rumah panggung di jalan Panggung sudah dicat warna warni

Menurut anggota Komunitas Laskar Seoabaia, Sapto Hari, aksi damai yang dilakukan oleh lintas komunitas ini adalah wujud dukungan terhadap upaya revitalisasi yang dilakukan oleh Pemkot Surabaya. Mereka datang untuk mengingatkan kepada pemerintah agar jalan Karet diperlakukan dengan serius dan benar. Jalan Karet, yang masih menyimpan karya peradaban Soerabaia masa lalu, harus dijaga keberadaannya.  Karenanya, jalan Karet tidak boleh dicat sembarangan dan borongan. Pengecatan harus ditangani secara profesional.
Kuncarsono Prasetyo, yang bergabung dalam komuniyas Laskar Soeabaia dan SPS-SHS, menegaskan bahwa pemilihan cat untuk pengecatan di jalan Karet harus mempertimbangan aspek ksejarahan dan estetika. Pemilihan warna bisa dilakukan dengan melihat warna warna yang pernah dikuaskan pada bangunan bangunam di jalan Karet. "Bekas warna aslinya masih terlihat pada setiap bangunan dan warna warna asli itu bisa dipakai sebagai acuan pemilihan warna," kata Kuncarsono yang juga sebagai konsultan design komunikai visual

Aksi damai ini diawali dari ujung utara jalan Karet. Mereka berjalan menyusuri jalan Karet sambil membentangkan poster yang isinya berupa seruan agar jalan Karet tidak dicat seperti jalan Panggung. Di setiap gedung tua, yang akan menjadi obyek pengecatan, mereka berhenti, lalu membubuhkan tanda tangan pada poster, kemudian ditempelkan pada bangunan. Demikian seterusnya sampai gedung tua yang ada di selatan jalan Karet.

Ketika menempelkan poster pada gedung yang berdiri di pojok jalan Gula - jalan Karet, puluhan muda mudi yang sedang berfotografi ikut bergabung dalam menyuarakan kepedulian mereka terhadap keaslian dan kesejarahan gedung gedung di jalan Karet. Vita, salah seorang penikmat rumah rumah lama di jalan Karet, mengatakan bahwa / Karet tidak diwarna warni.

Cak Siscuk, dari Community of Arek Kedung Klinter (CAK), mengingatkan bahwa pengecatan yang tidak sesuai dengan warna aslinya bisa menghilangkan nilai kesejarahan yang ada. Bangunan bangunan di sepanjang jalan Karet memang beragam. Ada yang bercirikan arsitektur Tionghwa. Ada juga yang berarsitektur kolonial, dibangun di awal abad 20. Misalnya gedung di pojokan jalan Gula - Karet, yang sudutnya berbenruk.menara dengan atap sirap besi, dibangun pada tahun 1918. Berbeda dengan sebuah bangunan yang berarsitektur Tionghwa yang berada di ujung selatan jalan Karet yang didiga dibangun pada abad 18. Dugaan ini dapat dilihat pada matriialan bangunan yang dipakai. Misalnya pada bagian lantainya terbuat dari tegel terakota berukuran 30 x 30 cm. Tegel tegel ini khas bangunan di era VOC.

Melihat dan mempertimbangkan arti dan latar belakang historis, sosial, seni dan budaya, komunitas pegiat sejarah Surabaya ini bersepakat dalam sebuah, diskusi dalam.Forum Begandring Soerabaia. Wujudnya adalah melakukan aksi damai menjaga jalan Karet. Menurut rencana, mereka akan bertemu Bappeko Surabaya untuk menyampaikan dukungan terhadap revitalisasi jalan Karet dan Panggung. Dalam pertemuan itu, mereka juga ingin tau seperti aka kegiatan lanjutan pasca pengecatan. Upaya ini untuk lebih mensinkronkan pandangan antara komunitas dan pemerintah. (pul)




Berita Terkait

Revitalisasi Jalan Karet Berlanjut Menata Pedestrian

Inilah Alasan Kami Peduli JL Karet
Berita Terpopuler
Dump Truk Bermutan Pasir Terlibat Kecelakaan, Sopir Terjepit
Peristiwa  59 menit

Tim Satgas Awasi 6 Orang Positif Covid 19 di Rumah Makan Rawon Nguling
Covid-19  52 menit

Petugas PPDP Temui Kendala Saat Mencoklit Data Pemilih
Pilkada  12 jam

Warga Nduri Ponorogo Krisis Air Bersih
Peristiwa  11 jam



Cuplikan Berita
Ratusan Ibu Hamil Swab Massal di Gelora Pancasila
Pojok Pitu

Begini Pengakuan Bupati Menanggapi Pemakzulan DPRD Jember
Pojok Pitu

Jual Beli Tebu Diluar Pabrik Meresahkan PG Lestari
Jatim Awan

Dampak Pandemi, 68 Ribu Warga Bojonegoro dan Tuban Menunggak Iuran BPJS
Jatim Awan


Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Pedoman Pemberitaan Media Siber